Ular Kecil di Pagi Hari dan Self-Diagnose



Hari ke #96


Sekitar jam lima pagi tadi, sewaktu aku pergi ke dapur untuk mengecek air yang sedang kurebus, aku terperanjat. Seekor ular kecil menatapku dengan tatapan yang seakan sedang mencengkeramku. Saat menyadari kehadirannya, aku kembali masuk ke dalam. Bulu kudukku sedikit merinding. Mariko dan Kuroko menatapku dengan tatapan bingung ketika kembali melihatku masuk ke dalam rumah.

Lantas aku beranikan diri berjalan ke dapur melalui pintu belakang. Aku berjalan mengendap. Ternyata sosok ular tersebut sudah tidak ada lagi. Berganti dengan sosok Mariko dan Kuroko yang sedang mencari-cari sesuatu di bawah lemari kompor dan wastafel. Tanpa pikir panjang, seraya masih dihinggapi ketakutan, aku bergegas mematikan kompor.

Aku menghela napas panjang. Sisa-sisa ketakutan itu masih terasa jelas sekali. Aku buru-buru menata sebentar ruang tengah yang masih berantakan, mengambil tas, lalu melihat sekilas kondisi dapur. Ternyata masih sama. Masih ada Mariko dan Kuroko yang tengah sibuk mencari-cari sesuatu di bawah lemari kompor dan wastafel. Dan tentu, yang mereka cari adalah ular kecil tersebut.

Tiba-tiba pikiranku melayang, takut kalau mereka kalah dalam peperangan melawan ular kecil tersebut. Namun, aku terburu oleh waktu. Menutup pintu menuju dapur lalu bergegas ke luar rumah. Kini rasa was-was yang berganti menghinggapi diriku. Untungnya, sekitar jam 8, usai kelas bahasa Arab, bosku mengatakan kalau Mariko dan Kuroko dalam kondisi baik-baik saja dan ular kecil tersebut pun mati. Aku menghela napas lega. Ternyata Mariko dan Kuroko yang memenangkan pertarungan melawan ular kecil.

Salah satu pelajaran yang kuambil dari kejadian pagi tadi yaitu bahwa mungkin hasil self-diagnose  yang kulakukan bahwa aku fobia terhadap ular adalah sebuah kekeliuran. Mungkin selama ini aku hanya tersugesti bahwa aku fobia terhadap ular. Nyatanya, aku tidak pingsan atau merasakan ketakutan yang berlebihan ketika melihat ular kecil itu. Tidak seperti yang selama ini aku bayangkan. Namun, ketakutan biasa seperti ketika orang-orang melihat ular. Dan seakan menyadarkanku bahwa self-diagnose itu tidak baik. Sebaik-baik diagnosa memang yang diberikan oleh sang ahli. Psikolog, psikiater, atau dokter.

Share this:

0 comments:

Post a Comment