Mengantar Mariko ke Klinik Hewan



Hari ke #114

Hari Selasa lalu aku mengantar Mariko ke klinik hewan milik FKH UGM. Membawa dia sendirian dengan motor ternyata lumayan sulit. Entah berapa kali aku menepi. Sebab tanganku tidak kuat menahan beban keranjang yang kutaruh di stang kiri motor. Bahkan, ketika menuju perempatan Galeria, tanganku serasa tidak kuat lagi. Pun keranjangnya Mariko hampir-hampir terlepas dari stang. Apalagi dia berkali-kali mengeong karena tidak betah berada di dalam keranjang.

Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat jauh dibanding biasanya, kami tiba di klinik. Lalu menuju ke loket pendaftaran. Saat sedang menunggu, kubuka salah satu sisi keranjang. Dan ternyata perut Mariko bergetar. Sepertinya dia ketakutan dan efek terlalu lama di motor. Di tengah menunggu antrean itu juga, tiba-tiba aku bertemu dengan Mega, teman satu kelompok KKN dulu. Aku baru ingat kalau dia sedang koass di sini.

Sambil menunggu, aku bertanya cukup banyak tentang kucing. Dan aku baru tahu kalau makanan kering itu tidak begitu bagus untuk kucing. Karena mengandung magnesium yang memiliki efek yang tidak baik bagi kucing. Bahkan bisa menyebabkan infeksi saluran kencing. Namun, efeknya baru terasa ketika kucing berumur 8 bulan. Mega juga mengatakan kalau kucing yang datang ke klinik banyak yang mengalami hal tersebut. Aku mengangguk-angguk, takjub sekaligus ngeri karena baru tahu. Apalagi aku sering membelikan makanan kering untuk Mariko dan Kuroko. Padahal yang bagus untuk mereka itu yang basah, seperti ikan, ayam, dan lain-lain.

Setelah menunggu 30 menit, nama Mariko pun dipanggil. Ada 4 dokter koass yang berada di ruangan itu. Memeriksa tubuh Mariko lalu menyuntikkan vitamin penambuh nafsu makan dan bulu rambut rontok. Alhamdulillah, ternyata Mariko tidak hamil seperti yang selama ini ditakutkan orang-orang di kantor. Beberapa kali Mariko meronta karena tidak mau disuntik. Namun, para dokter koass itu terus mencoba menenangkan Mariko. Hingga Mariko mau untuk disuntik. Aku merasa tidak tega ketika melihat Mariko disuntik.

Usai melakukan pemeriksaan, kami pun kembali menempuh perjalanan. Lagi-lagi berkali-kali aku harus menepi untuk membetulkan pegangan dan memijat tangan kiriku. Sesampainya di kantor, tangan kiriku terasa begitu pegal. Pun Mariko, tubuhnya bergetar, mulutnya terbuka, dan lidahnya bergoyang-goyang. Sepertinya itu memang efek terlalu lama di motor.

Share this:

0 comments:

Post a Comment