Mungkin Bukan Saat Ini




Hari ke #113

Sebelum hari ini tiba, aku telah menyiapkan hatiku untuk tidak merasa kecewa. Memasrahkan segala hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Memasrahkan apa yang terbaik yang akan Dia beri.

Sebelum hari ini tiba, bahkan saat hari seleksi, aku telah menanamkan pada diri ini untuk tidak berharap. Bahkan rasa inferioritas yang kembali menggerogotiku usai selesai. Sebuah pertanda bahwa ilmu yang kuterima belum seberapa. Sebuah pertanda bahwa pengalaman yang kualami masih terlampau kurang. Sebuah pertanda untuk belajar lebih banyak, untuk memiliki pengalaman lebih banyak.

Sebelum hari ini tiba, kupikir aku telah benar-benar siap untuk menerima apapun hasilnya. Berpikir merasa kuat, ternyata manusia memang makhluk yang lemah, makhluk yang hatinya mudah terbolak-balik. Nyatanya, ketika yang kudapat sebuah kegagalan, masih saja terselip sebuah kekecewaan. Kecewa pada diri sendiri, kembali menyalahkan diri sendiri. Seorang kawan mengatakan bahwa itu sesuatu yang manusiawi. Dan aku serasa sedang diingatkan kembali akan jawaban doa yang selalu "iya". "Iya sekarang, iya nanti, iya akan diberi yang lebih baik." Kalau mengutip dari perkataan Ustadz Salim A. Fillah, "Barangkali sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan, dibatalkan karena hendak diganti yang utama, ditolak karena dinanti yang lebih baik lagi."

Dan dibanding menyesali dan mengutuki diri, lebih baik mengapresiasi diri yang telah melakukan hal terbaik. Dan sebuah kegagalan memang pertanda bahwa kita harus terus berusaha, harus berusaha lebih keras lagi, harus belajar lebih banyak lagi, harus berdoa lebih kenceng lagi. Aku jadi teringat perkataan murabbiku bahwa Allah telah mengatur rezeki bagi masing-masing hamba-Nya, tinggal menunggu waktu yang tepat dan usaha kita untuk menjemput rezeki tersebut.

23 April 2018

Share this:

0 comments:

Post a Comment