Cerita Tentang Anak di Jumat Sore




Hari ke #97

Hal yang paling menyenangkan di kantor adalah ketika salah seorang wali murid mulai membincangkan anak-anaknya. Aku mendengarnya sambil manggut-manggut. Serasa sedang menghadiri kajian tentang parenting.

Berawal dari perbincangan tentang anak bu bos yang akan mengikuti mabit (malam bina iman dan takwa) hari Jumat kemarin. Beliau membacakan daftar barang-barang yang dibawa sang anak untuk mabit. Beberapa di antaranya yaitu bantal, guling, dan kasur. Orang-orang kantor dan wali murid yang sedang menunggui anaknya seketika terperanjat ketika ada "kasur" dalam daftar. "Dulu kayaknya kemah aja gak disuruh bawa kasur," timpal sang wali murid. Aku manggut-manggut. Benar juga, begitupun ketika aku di bangku sekolah dasar dulu. Bahkan acara menginap di sekolah pun tidak diminta untuk membawa kasur.

Dari situ, kami menebak-nebak kalau itu mungkin permintaan orang tua yang tidak tega anaknya tidur tanpa alas. Lalu aku jadi kepikiran kalau barangkali itu salah satu bentuk cinta orang tua kepada sang anak. Bentuk cinta yang kalau berlebihan justru membuat anak tidak mandiri.

Sang wali murid itu kemudian bercerita kalau sewaktu di Jerman dulu, Beliau pernah ditegur oleh guru sang anak. Sebab saat itu Beliau sedang terburu-buru sehingga memakaikan sang anak sepatu. Mungkin jika di sini, hal itu terlihat (sangat) wajar. Lain dengan di sana yang menganggap hal tersebut tidak akan menjadikan seorang anak mandiri. "Anak kamu itu bisa memakai sepatunya sendiri. Kalau kamu terus-terusan memakaikannya, kapan anakmu bisa mandiri?" ujar Beliau menirukan ucapan sang guru. Aku manggut-manggut, benar juga. Mungkin tanpa disadari para orang tua, khususnya di Indonesia adalah terlalu memanjakan sang anak. Mungkin mereka menganggap hal tersebut sebagai bentuk kasih sayang. Namun, jika berlebihan, hal itu justru membuat anak manja dan tidak mandiri.

Share this:

0 comments:

Post a Comment