Kisah Pelik (Tiga) Insan yang Terbuai Cinta



Hari ke #120

Judul: Dan Burung-burung Pun Pulang ke Sarangnya
Penulis: Mashdar Zainal
Penerbit: Quanta (Elex Media Komputindo)
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 450

“Bagi Milati, cinta tak ubahnya garis waktu yang dimulai selepas subuh. Kehidupan menggeliat, kisah-kisah berakrobat dan kemudian berkarat menjadi kenangan. Sepanjang siang ia telah hidup dengan dirinya dan ujar hatinya. Sepanjang perjalanan menuju senja, ia telah bertemu dengan banyak orang yang sebagian menjauh, dan sebagian lagi mendekat dan melekat di kedalaman hatinya. Ibarat garis waktu, yang butuh banyak pengorbanan untuk menapakinya. Seperti Misas. Seperti Hurin. Seperti cintanya.”

Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu buta. Cinta itu dapat melenakan sepasang insan. Membuat logika tidak dapat berpikir jernih seperti seharusnya. Apalagi ketika membaca buku karya Mashdar Zainal ini. Semua kalimat di atas terasa seperti benar adanya.

Novel ini berkisah tentang cinta yang cukup pelik dan rumit yang berlatar kehidupan panti asuhan sekaligus pesantren. Keakraban yang terjalin sedari kecil, pun adanya persamaan nasib membuat Syaqib menyukai Milati, sahabatnya. Sayangnya, Milati tidak pernah menyadari perasaan yang dimiliki Syaqib kepadanya. Bahkan ketika ada seorang perempuan yang tergila-gila dengan Syaqib, Milati tidak merasa cemburu. Sebaliknya, Milati justru membantu sang perempuan agar tidak bunuh diri karena Syaqib tidak membalas perasaannya.

Perasaan Syaqib semakin tersayat ketika menyadari Milati menyukai lelaki lain. Misas, putra Bu Nyai yang baru saja pulang dari Yaman. Pun Misas memiliki perasaan yang sama dengan Milati. Kisah cinta Milati dan Misas inilah yang menjadi awal kisah yang runyam. Kisah-kisah yang terasa rumit diselesaikan seperti sedang mengurai benang yang begitu kusut dan tidak tahu di mana ujungnya. Perasaan menggebu yang dimiliki Milati dan Misas seperti dipatahkan begitu saja oleh orang tua Misas kala mereka ingin menjodohkan Misas dengan Hurin, putri Kyai Syafi’i—teman ayah Misas. Perjodohan tersebut membuat Milati dan Misas kelimpungan. Terlebih bagi Milati yang telah menganggap Bu Nyai seperti ibu kandungannya sendiri. Milati kebingungan antara patuh kepada Bu Nyai atau menuruti keinginannya untuk bersama dengan Misas. 

Secara keseluruhan buku ini terbilang bagus karena banyak pesan yang disampaikan penulis, terutama mengenai cinta dan pengabdian. Membaca buku ini membuat saya mengetahui bagaimana kisah cinta yang dirasakan orang-orang yang tinggal di lingkungan pesantren. Pun membuat saya menyadari bahwa cinta memang dapat membutakan siapapun. Tidak terkecuali bagi Misas yang sedari kecil terbiasa berada di lingkungan yang agamis. Pengetahuan agama yang dimiliki Misas terasa terpatahkan dengan perasaan cinta yang menggebu kepada Milati. Hingga membuat Misas hilang akal. Seperti kabur dari pesantren untuk menemui Milati yang sedang pulang kampung. Bahkan tetap menyimpan perasaan kepada Milati ketika dirinya telah menikah dengan Hurin. Satu hal yang benar-benar dapat saya ambil hikmahnya dari novel ini yaitu kita tidak boleh terbuai oleh cinta. Pun novel ini terasa mengingatkan saya kembali bahwa cinta itu sebuah fitrah yang dirasakan manusia, tinggal bagaimana kita mengelola rasa cinta tersebut.

Sementara kekurangan dari novel ini yaitu karakter Syaqib yang terasa seperti dihilangkan ketika bab-bab tengah menuju akhir lebih banyak menceritakan kisah Milati-Misas-Hurin. Pun latar tempat dan kejadian di bab terakhir terasa seperti tempelan dan terasa sedikit dipaksakan.

Share this:

0 comments:

Post a Comment