Cerita tentang Laut, Pendidikan, dan Indonesia



Hari ke #103

Salah satu hal menyenangkan naik mobil ojek daring adalah ketika bertemu dengan driver yang memberikan insight-insight baru dengan cerita yang dituturkannya. Seperti Sabtu kemarin, ketika aku dan beberapa peserta Creative Science @rumahbacayogya dalam perjalanan menuju Benteng Vredeburg.

"Riweuh ya Bu ngajar anak-anak SD," ujar sang driver mengawali percakapan. Aku hanya tersenyum kecil. Setelahnya, dia bercerita kalau pernah menjadi guru bahasa Inggris TK di dekat UGM. Bahkan kini sang istri yang masih menjadi guru bahasa Inggris untuk anak-anak TK. Aku berdecak kagum mendengarnya. Setengah memanfaatkan situasi, akupun mempromosikan @rumahbacayogya sembari menawarkan posisi pengajar di kantor. Sang driver hanya menimpali dengan tawa.

Cerita pun berganti ketika dia mengatakan pernah bekerja di kapal pesiar. "Orang-orang pasti menganggap kerja di kapal pesiar itu enak. Padahal tingkat stres kerjanya tinggi." Tiba-tiba aku merasa tertarik sekaligus penasaran dengan cerita kapal pesiarnya. "Contohnya seperti apa Pak?"

Lalu sang driver mengatakan kalau sekasar-kasarnya umpatan dan makian orang Indonesia, masih lebih kasar makian orang Barat. Bahkan mereka bisa mendapatkan ribuan dolar dari komplain yang mereka laporkan ke perusahaan.

Pernah suatu hari temannya membawa setumpuk piring berisi makanan untuk pengunjung. Di dining room itu, sudah ada peringatan bahwa anak-anak tidak boleh berlarian. Which is, para orang tua diwajibkan mengawasi anak-anaknya. Sayangnya, hari itu ada seorang anak yang berlarian dan menabraknya. Dengan penuh sigap dia menjaga kestabilan piring yang dibawanya tetapi dia terpaksa menjatuhkan piring di tumpukan teratas yang berisi telur panas. Hal itu dia lakukan agar anak yang berlarian itu tidak tertimpa tumpukan piring yang dibawanya. Sayangnya, piring teratas itu menimpa punggung ibu yang anaknya berlarian. Bisa ditebak bagaimana respons sang ibu. Memaki teman sang driver dan meminta ganti rugi sebesar 5.000 dolar. Beruntungnya, saat itu banyak yang melihat bagaimana kronologis peristiwanya. Keadaan justru berbalik menimpa sang ibu, giliran dia mendapat teguran karena lalai tidak mengawasi anaknya di dining room. Mendengar cerita sang driver, aku merasa tergugu.

Lepas dari peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan itu, sang driver mengaku senang bekerja di kapal pesiar karena dapat melihat pemandangan laut yang begitu luar biasa. Namun, menurutnya laut Indonesia yang paling bagus dibanding negara lainnya. "Laut Indonesia itu bagus banget, cuma kitanya yang kurang tahu bagaimana cara menghargainya." Kemudian dia bercerita tentang laut-laut di Indonesia yang begitu indah dibanding negara lain. Salah satunya di Pulau Maratua, Kalimantan Utara yang keindahannya melebih Maldives. "Tapi orang Indonesia lebih suka ke luar negeri karena  cari prestige-nya aja," tukasnya lebih lanjut.

Aku tidak henti berdecak kagum ketika mendengar cerita sang driver. Cerita yang seru dan baru pertama kali kudengar. Sekaligus senang karena masih ada orang-orang yang merasa gelisah dengan keadaan negeri ini. Setelah bercerita tentang laut dan kapal pesiar, sang driver kembali bercerita tentang pendidikan. Dia bercerita kalau dulu Jogja tidak seramai sekarang. Tentu saja. "Sayangnya, kemampuan daya beli kita tidak dibarengi dengan kematangan mental untuk menggunakannya," ujar sang driver yang merasa gelisah dengan pengguna kendaraan yang tidak taat peraturan dan mudah memaki di jalanan. Pun pendidikan di Indonesia kurang begitu bagus, dari segi metode dan jam belajarnya. Terutama di tingkat sekolah dasar. Padahal pendidikan tingkat TK dan SD merupakan dasar pembentukan integritas dan kepribadian anak. Sebab di tingkat itu anak pertama kali mendapat pendidikan--secara formal. "Seharusnya guru TK dan SD itu gajinya lebih besar dibanding dosen," ujarnya dengan sedikit canda. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment