Belajar Ikhlas




Hari ke #95


Pagi ini, aku belajar untuk ikhlas. Mengikhlaskan kepergian beberapa Trans Jogja yang entah kenapa enggan berhenti di portabel tempatku menunggu. Ikhlas memang bukanlah perkara yang mudah. Mungkin sangat mudah terucap, tetapi sulit untuk dilakukan.



Selayaknya mengikhlaskan seseorang yang kita suka sejak lama untuk bersama yang lain. Selayaknya mengikhlaskan impian yang ingin kita wujudkan sejak lama. Selayaknya mengikhlaskan dompet yang diambil orang. Namun, Allah tidak pernah tidur. Dia mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Terlebih ketika kita mengikhlaskan hal-hal yang tidak kita miliki.



Kata Imam Syafi'i, "Jika kita merasa tidak apa-apa ketika kehilangan (sesuatu), maka baru aman untuk mendapatkannya." Jadi ketika kita tidak ikhlas saat kehilangan sesuatu, mungkin hal tersebut memang bukan yang terbaik untuk kita.



Perkara ikhlas bukan semata ketika tidak dapat memiliki atau kehilangan sesuatu. Namun, ketika ikhlas dalam melakukan suatu ibadah, suatu amal kebaikan. Perkara yang sulit, terlebih ketika media sosial serasa menggoda kita untuk 'memamerkan' apapun, termasuk persoalan ibadah. Jadi, kita tetap harus meluruskan niat beribadah yang semata-mata untuk Allah. Sebab, setiap perbuatan akan kembali kepada niat. Sebab, "Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah." (Imam Ali)

Share this:

0 comments:

Post a Comment