Tiga Hal yang Harus Diajarkan: Tauhid, Adab, dan Ilmu



Hari ke #70

Membicarakan menikah di kalangan usia 20+ memang bukanlah hal yang tabu lagi. Namun, akan terasa percuma jika dibicarakan terus-menerus tanpa mempersiapkan banyak hal untuk menikah. Seperti ketika kita terus membicarakan keinginan kita untuk bertualang ke negara X tapi kita tidak ada persiapan bahkan usaha untuk pergi ke sana. Dan memang perlu persiapan yang banyak untuk menikah. Mulai dari niat, mental diri, hingga ilmu. Sebab menikah bukan persoalan dulu-duluan. Melihat teman-teman di sekitar menikah, jadi berkeinginan untuk menikah. Sekadar ingin, tetapi tidak ada yang kita persiapkan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Salah satu ilmu yang perlu dipersiapkan yaitu tentang parenting. Sebab, bagiku sendiri tujuan menikah yaitu untuk mencetak generasi yang lebih baik. Terutama bagi seorang perempuan, yang notabene menjadi madrasah pertama anak.

Aku jadi teringat ketika di LMD 188 Salman ITB kemarin, para taruni (peserta putri) diminta mengurutkan tiga hal yang harus diajarkan kepada seorang anak sedari kecil. Dan tiga hal yang secara berurut harus diajarkan kepada seorang anak sedari kecil yaitu tauhid, adab, dan ilmu. Pertama, tauhid, sedari kecil seorang anak dikenalkan tentang Tuhannya, tentang keesaan-Nya. Bukan langsung mengajari sang anak untuk beribadah. Cara sederhananya dengan mengenalkan ciptaan-ciptaan-Nya. Baru setelah sang anak kenal akan Tuhannya, ajari dia tentang beribadah.

Kedua, adab, atau budi pekerti, kesopanan, akhlak. Setelah sang anak mengenal Tuhannya, ajarkan dia tentang adab. Dalam Islam sendiri, adab dimulai dari perkara bangun tidur hingga tidur lagi, dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar, dari diri sendiri hingga orang lain, dari manusia hingga Tuhannya. Aku sangat takjub ketika melihat seorang anak yang masih membungkukkan tubuhnya ketika melewati kerumunan orang yang lebih dewasa. Sebab sepertinya di zaman yang seperti ini, hal tersebut terasa sulit sekali ditemukan. Selain itu, di kantor ini, aku menjumpai seorang anak laki-laki yang tidak mau menjabat tanganku. Rasanya sangat "wow". Harapku, semoga hingga dewasa nanti dia akan seperti itu, tetap menjaga.

Ketiga, ilmu. Setelah diajarkan tentang tauhid dan adab, baru kita ajarkan sang anak tentang ilmu. Sebab, dalam menuntut ilmu pun harus ada adabnya. Bahkan Umar bin Al-Khaththab r.a. pernah mengatakan agar kita lebih dulu mempelajari adab, sebelum menuntut ilmu. Tujuannya agar kita memiliki sopan santun kepada guru atau ustadz/ustadzah kita. Pun agar segala ilmu yang kita pelajari mendapat keberkahan dari Allah.

Share this:

0 comments:

Post a Comment