Keteladanan dalam Sebuah Buku



Hari ke #81

Judul                           : Sunnah Sedirham Surga
Penulis                         : Salim A. Fillah
Penerbit                       : Pro-U Media
Tahun terbit                 : 2017
Jumlah halaman           : 268

“Tundukkan nafsu dengan berlapar. Basuhi hati dengan istighfar. Lapangkan jiwa dengan belajar. Raih cinta-Nya dengan bersabar.”
Sebuah kalimat yang menjadi pemisah antar babnya seakan menjadi pengingat bagi pembaca untuk mengelola hati. Mengelolanya dengan terus beristighfar, berpuasa, terus belajar, dan juga bersabar. Apalagi ketika membaca lembar demi lembar buku ini, banyak hikmah yang dapat diambil dan menjadi pelajaran bagi para pembaca.

Buku Sunnah Sedirham Surga karya Ustadz Salim A. Fillah ini merupakan kumpulan tulisan yang pernah Beliau bagikan di media sosial. Setidaknya ada empat bab yang ada dalam buku ini, yaitu Teladan Salaf untuk Para Mukallaf, Belajar Bajik dari Ulama Klasik, Oratoria Para Kesatria, dan Belantara Cendekia Nusantara. Sebagian besar buku ini berkisah tentang sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah. Sunnah-sunnah yang terlihat sepele dan sering terlupakan, tetapi mengandung pahala yang tidak sedikit.

Salah satu kisah yang menarik yaitu tentang Imam Abu Dawud, seorang penulis Kitab Sunan. Ketika sedang berada di atas perahu penyeberangan di Sungai Daljah, dari kejauhan Beliau mendengar suara bersin seorang tukang perahu yang kemudian dilanjutkan dengan membaca hamdalah. Mendengar suara itu, Beliau segera menghampiri sang tukang perahu dan menyerahkan uang satu dirham. Beliau pun mendoakan tukang perahu tersebut dengan membaca yarhamukallah yang dibalas oleh sang tukang perahu dengan yahdikumullah. Ketika membaca kisah ini akan membuat pembaca menyadari bahwa seringkali kita ingin melakukan sesuatu yang besar. Ingin melakukan sesuatu yang terlihat memiliki pahala yang besar. Namun, kita seringkali kita melupakan amalan-amalan kecil yang mungkin nilai pahalanya lebih besar. Seperti halnya mengucap hamdalah ketika bersin dan mengucap yarhamukallah ketika mendengar orang bersin.

Selain kisah tersebut, ada kisah-kisah lainnya yang memberi keteladanan bagi para pembaca. Seperti seseorang yang berpura-pura tuli ketika mendengar seorang wanita (maaf) kentut di depan publik agar dia dapat menutupi aib sang wanita. Karena kejadian tersebut hingga belasan tahun kemudian dia dikenal sebagai seorang yang tuli hingga sang wanita tersebut meninggal.

Saya berdecak kagum setiap kali membaca lembar demi lembar buku ini. Sebuah buku yang tidak hanya berisi kisah-kisah menarik, tetapi juga kisah penuh keteladanan. Membuat setiap yang membacanya akan mendapat energi positif dan terus berkaca. Kelebihan buku ini yaitu bagaimana apiknya Salim A. Fillah menceritakan tentang kejadian sehari-hari dengan cerita pada zaman nabi dulu. Membaca buku ini terasa seperti sedang membaca buku sirah tokoh-tokoh Islam zaman nabi. Namun, bahasa yang digunakan sangat indah dan ringan sehingga dapat dengan mudah ditangkap oleh semua kalangan.

Satu hal yang menjadi kekurangan buku ini adalah beberapa cerita yang diulang di kisah selajutnya. Namun, agaknya kekurangan tersebut tertutupi oleh kepiawaian Salim A. Fillah dalam menuliskan kejadian sehari-hari dengan cerita pada zaman nabi dulu.

Share this:

0 comments:

Post a Comment