Menertawai Diri Sendiri



Hari ke #88

Terkadang ada hal-hal yang tidak disangka akan menimpa kita. Hal-hal yang seringkali membuat kita terpuruk. Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan perasaan itu akan sirna dengan sendirinya. Bahkan bisa kita tertawai.

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku untuk memakai penyangga di leherku. Sampai akhir Maret tahun lalu, dokter saraf memintaku untuk memakai penyangga leher tersebut. Tujuannya sebagai salah satu treatment hiperlordosis servikalis yang kualami.

Awal memakai penyangga leher rasanya sangat tidak karuan. Antara malu, risih, aneh, tidak nyaman. Intinya perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran negatif yang berkecamuk. Terlebih serasa dicekik ketika tertawa terbahak-bahak.

Bulan-bulan berikutnya lambat laun mulai beradaptasi dengan baik. Meski terkadang goyah karena lelah harus terus memakai penyangga leher. Padahal di awal, sang dokter mengatakan kalau hanya tiga bulan aku akan memakainya. Ternyata realita berkata lain. Beberapa gejala yang seringkali kambuh membuatku terus memakainya. Hingga saat ini.

Setelah setahun berlalu, sekarang perasaan risih dan kesal itu tidak semendominasi dulu. Bahkan sekarang, ketika melihat penumpang kereta atau bus yang memakai bantal leher aku jadi tertawa sendiri. Lebih tepatnya menertawai diri sendiri. Sebab aku tidak perlu membawa bantal leher ketika tidur di kendaraan. Dan kalau dipikir-pikir, dibanding terus meratapi dan menyalahkan diri sendiri, lebih baik tertawai diri. Melihat kekurangan yang kita miliki sebagai suatu kelebihan, sesuatu yang patut disyukuri.

Share this:

0 comments:

Post a Comment