Amalan yang Terlupakan



Hari ke #72

Di balik kesenduan akan perpisahan kala senja tadi, sang murabbi menitipkan kepada kami kisah-kisah inspiratif yang menjadi pengingat diri. Pengingat untuk memiliki amalan-amalan kebaikan tertentu di luar kewajiban untuk beribadah.

Kisah pertama datang dari seorang nenek penjual tempe yang tidak dapat melihat. Setiap pagi nenek ini bersama anaknya pergi ke pasar. Sejak lima tahun lalu Beliau berniat untuk menyedekahkan hasil penjualannya ke sebuah masjid. Berapapun hasil yang didapat, Beliau hanya mengambil 50.000 untuk dirinya. Padahal modal Beliau untuk berjualan hanya 20.000. Jadi, setiap harinya Beliau hanya mengambil untung 30.000. Di pasar tersebut, Beliau selalu menjadi pedagang pertama yang pulang lebih dulu, saking larisnya. Pun pernah suatu ketika dagangan Beliau 350.000. Seperti kebiasaannya, Beliau hanya mengambil 50.000, sementara 300.000 lainnya disedekahkan ke masjid yang biasa Beliau sedekahkan. Menurut Beliau, jika mendapat lebih dari 50.000, maka ada hak orang lain di dalamnya. Sebab Allah langsung yang memberi. Selain berjualan tempe, Beliau juga menjadi tukang pijat. Dari pekerjaannya ini, Beliau mengaku tidak mengambil keuntungan sepersen pun. Hal ini Beliau lakukan sebagai ungkapan rasa syukur Beliau atas kemampuan yang diberikan oleh Allah.

Kisah kedua datang dari Abdullah bin Amr. Suatu ketika dia bersama Rasulullah dan para sahabatnya sedang duduk-duduk, Rasulullah mengatakan kalau akan ada seorang ahli surga yang datang. Tidak berselang lama, datanglah seorang laki-laki Anshar berjenggot yang hendak berwudhu. Keesokan hari dan dua hari setelahnya, setiap laki-laki Anshar itu akan datang, Rasulullah selalu mengatakan bahwa akan ada seorang ahli surga yang datang.

Abdullah bin Amr pun penasaran akan amalan yang diperbuat laki-laki Anshar tersebut hingga Rasulullah mengatakan demikian hingga tiga kali. Untuk menjawab rasa penasarannya, Abdullah bin Amr mengikuti laki-laki Anshar tersebut. Bahkan hingga meminta izin untuk menginap selama tiga hari. Selama tiga hari itu pula Abdullah bin Amr mengamati setiap perbuatan yang dilakukan laki-laki Anshar tersebut. Abdullah bin Amr tidak mendapati amalan-amalan berpahala besar yang menjadikan laki-laki Anshar tersebut dijamin masuk surga. Bahkan laki-laki Anshar tersebut tidak melakukan salat malam, hanya mengucap zikir dan takbir hingga menjelang Subuh. Abdullah bin Amr pun bertanya kepada laki-laki Anshar tersebut. Ternyata, yang menjadikan laki-laki Anshar tersebut dijamin masuk karena amalan yang dilakukannya sebelum tidur. Amalan yang mungkin sulit dilakukan orang lain yaitu dia selalu mengingat apa-apa saja yang hari itu terjadi. Apa-apa saja yang dilakukannya kepada orang lain, pun yang dilakukan orang lain kepadanya. Bukan hanya itu, jika dia ingat bahwa hari itu ada seseorang yang melukai hatinya, dia akan memaafkan orang tersebut dengan ikhlas. Sehingga dia tidak memiliki rasa dendam, iri, dan dengki kepada orang lain.

Dari kedua kisah tersebut mengingatkan kita bahwa kita sering menyepelekan dan melupakan amalan-amalan sunah yang kelihatannya berpahala kecil. Pun kedua kisah tersebut menjadi pengingat untuk terus belajar dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Kisah pertama kita belajar untuk terus mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Allah. Senantiasa bersedekah, bukan menunggu ketika kita sudah kaya atau sedang memiliki banyak kenikmatan materi. Sementara dari kisah kedua kita belajar untuk terus bermuhasabah. Senantiasa memaafkan orang lain. Bukan karena orang lain berbuat salah kepada kita, tetapi agar hati kita merasa tenteram.  

Share this:

0 comments:

Post a Comment