Sebuah Notula: Mencurigai Diri Sendiri




Hari ke #82


Setelah Agustus lalu Beliau menjelaskan asal muasal tagar #mnrgknskl , Rabu lalu Beliau menjelaskan mengenai tahapan-tahapan mencurigai diri sendiri dan menatap masa depan.



Mencurigai diri sendiri yaitu bertanya kepada diri sendiri apakah kita sudah pantas menjadi umat Rasulullah. Mencurigai diri sendiri itu dengan terus bermuhasabah. Hasil dari muhasabah itu harus menarik kesimpulan bahwa nikmat yang kita terima itu cukup, dosa yang kita lakukan masih banyak, sementara amal yang kita kerjakan masihlah kurang. Jika saat bermuhasabah hasil yang didapat justru membuat kita merasa dosa kita sedikit dan amal yang kita kerjakan sudah terlampau banyak, maka kita harus mencurigai diri sendiri. Jangan-jangan masih ada keangkuhan ketika mengerjakan perintah-Nya. Merasa yang paling lebih karena terus mengerjakan amal kebaikan.



Padahal manusia itu adalah selemah-lemahnya makhluk. Makhluk yang senantiasa memerlukan pertolongannya. Jika seseorang merasa ibadah adalah bentuk hadiah kepada Allah, itu tidaklah benar. Sebab, ibadah sendiri merupakan nikmat yang Allah beri. Seperti lafadz "hayya 'alla falah" yang dikumandangkan saat Subuh. Allah yang menggerakkan manusia untuk bangkit dari tempat tidur, bergegas mengambil wudhu, dan salat. Laa hawla wala quwwata illa billah. Tiada daya dan upaya selain atas kehendak-Nya.



Dalam Quran Surat Asy-Syu'ara ayat 78 disebutkan bahwa kita harus senantiasa bertafakur tentang Allah, yang menciptakan makhluk dan yang memberi petunjuk. Dengan begitu, kita menyadari bahwa kita adalah serendah-rendahnya makhluk. Terlebih ketika tidak adanya hidayah. Untuk itu, kita harus senantiasa memohon diberi hidayah, paling tidak sebanyak 17 kali. "Ihdinash shirathal mustqim." Selain itu, membaca Alquran juga menjadikan kita menyadari bahwa semua skenario kehidupan yang Allah rancang ada di situ. Bahkan contoh yang ekstrem ada di dalam Alquran. That's why kita harus meneladani kisah-kisah yang ada dalam Alquran. Dengan demikian kita menyadari bahwa masalah kita tidak apa-apanya dibanding para Rasul.

Share this:

0 comments:

Post a Comment