Warna Cinta


Hari ke #50
"Seperti apakah warna cinta? Apakah merah muda mewakili rekahannya, ataukah kelabu mewakili pecahannya?" (blurb Konspirasi Alam Semesta)
Membaca blurb buku Bung tersebut, aku jadi ingin menerka warna cinta--dan warna cintaku--versiku.  

Apakah merah muda mewakili rekahannya? Selayaknya sekuntum bunga yang baru saja merekah dan menebar aroma keindahan. Meski sewaktu-waktu kita dapat tertusuk duri jika tidak berhati-hati menjaganya.

Apakah merah mewakili ambisinya? Selayaknya api yang berkobar-kobar dan sewaktu-waktu dapat membakar diri.

Apakah jingga mewakili kesyahduannya? Selayaknya senja yang dinanti banyak orang, mengilhami para penulis dan penyair. 

Apakah putih mewakili kesuciannya? Selayaknya hati yang senantiasa memaafkan meski beberapa kali ternoda oleh kesalahan.

Apakah biru mewakili kesenduannya? Selayaknya warna biru yang identik dengan kesedihan, meski menjadi warna kesukaan.

Atau apakah kelabu mewakili pecahannya? Selayaknya langit biru yang berubah kelabu, pertanda bulir-bulir air akan segera turun ke bumi. Selayaknya laksa yang tidak terlihat secara utuh dan tidak tergapai, meski selalu membersamai.


Cinta itu berwarna, meski itu kelabu atau putih. Tinggal kaupilih saja mana warna yang sesuai. Atau mungkin kaupunya warna cinta versimu?

Bicara cinta memang tidak ada habis-habisnya. Sudah beratus atau mungkin berjuta orang membicarakannya, sudah banyak penulis yang menuliskannya, pun sudah tak terhitung musisi yang menuliskan lagu tentangnya. Seperti dua kutub magnet, cinta pun memiliki kutub positif dan kutub negatif. Bergantung dari bagaimana memaknainya. 

Cinta itu fitrah. Bersyukurlah ketika rasa cinta itu hadir. Meski seringkali membuat kufur dan futur. Ya, kembali lagi, bergantung dari bagaimana memaknainya. 

Sekali waktu terasa menyenangkan. Di waktu selanjutnya terasa menyedihkan. Sekali waktu terasa menguatkan dan membangun. Di waktu selanjutnya begitu melemahkan dan merobohkan. 

Cinta itu fitrah. Setiap yang sedang mencinta tentu berandai cinta itu kan berlabuh menuju ikatan yang sakral. Berandai orang yang dicinta menjadi teman di dunia dan akhirat kelak.  Meski rasa cinta terasa begitu menggebu hingga melenakan jika tidak dapat mengontrolnya. Maka tidak heran jika orang-orang yang belum siap menikah dianjurkan untuk (lebih banyak) puasa.

Dan ya, apapun warna cintamu, apapun pandanganmu tentang cinta. Semoga cinta tidak membuatmu terlena, tetapi justru membuatmu lebih dekat dengan-Nya. Namun, yang terpenting, semoga rasa cintamu terhadap insan, tidak melebihi rasa cintamu kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment