Sebuah Keinginan yang Muncul Kembali



Hari ke #40

"If it's something you decide for yourself. You'll never truly regret it."-Mashiro Moritaka (Bakuman)


Dari sekian anime yang kutonton, Bakuman lah yang paling mengesankan. Pun kutipan dari anime tersebut, menjadi salah satu kutipan favoritku. Bahkan aku memasukkannya ke halaman motto skripsi.



Setiap kali sedang dilanda kebimbangan, aku teringat kutipan itu. Sebuah kutipan yang menamparku untuk tidak menyesali terus-menerus akan keputusan yang kuambil. Terlebih akan keputusan-keputusan yang tidak kuambil. Sebab kuyakin akan selalu ada hikmah yang disampaikan Allah dalam setiap keputusan yang kuambil.

Seharusnya. Namun, manusia memang tempatnya lupa. Lupa untuk bersyukur, lupa untuk memetik hikmah dari setiap kejadian.

Setahun lalu, aku pernah mengatakan kalau setelah lulus aku akan bekerja terlebih dahulu baru kemudian mengambil profesi. Namun, (beberapa bulan sebelum dan) setelah lulus, aku ternyata bekerja di bidang kepustakaan. Kalau diperhatikan memang sama sekali tidak ada kaitannya dengan jurusan yang kuambil ketika kuliah, yaitu Psikologi. Akan tetapi, dari bertemu dan (terkadang berinteraksi) dengan anak-anak beserta orang tuanya, pengunjung dewasa, dan rekan kerja lainnya aku dapat belajar banyak hal. Tentang membangun interaksi dengan orang lain, bekerja sama dengan rekan kerja, suasana di lingkungan kerja, psikologis anak, pengasuhan, dan terkadang tentang rumah tangga. Sebuah benefit yang kurasakan dan kudapatkan selain gaji bulanan. Memang benar kata guru Sosiologi-ku ketika SMA, bahwa laboratoriumnya anak sosial itu ya di lingkungan sosial. Pun dari bekerja di sini (kantor) keinginanku untuk melanjutkan kuliah profesi semakin bertumbuh. Bukan hanya semakin menumbuhkan keinginan untuk mengambil Psikologi Perkembangan Anak, tetapi juga menumbuhkan keinginan untuk mengambil Psikologi Industri dan Organisasi.  

Dan kemarin sore tiba-tiba saja aku teringat kalau SIMAK UI untuk program magister dan profesi dibuka bulan Februari. Benar saja, ketika aku membuka situsnya, UI baru saja membuka pendaftaran penerimaan untuk program magister, profesi, dan doktor. Rasanya ingin berteriak kegirangan kalau saja tidak ingat kalau kemarin masih jam kerja saat aku membukanya. Langsung saja aku membuka berbagai situs yang berhubungan dengan informasi pendaftaran tersebut. Seketika tercengang saat mengetahui biaya pendaftaran dan biaya kuliahnya yang selangit--meski tidak selangit fakultas lain. Dan ketika memberitahu orang tua terkait keinginanku tersebut, mereka langsung mewanti-wanti agar aku membiayai sendiri kuliahku. Ujung-ujungnya memintaku untuk mencari pekerjaan lainnya. Pun mereka menyarankan untuk mencari beasiswa dan kalau bisa mengambil profesi di UGM saja. Padahal aku sendiri sedikit tidak yakin akan kemampuanku tersebut.

Aku pun jadi teringat akan WhatsApp story seorang adik angkatan yang menanyakan apa tujuan seorang  perempuan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurutku, kalau ingin menjadi psikolog, tentunya harus mengambil profesi. Dan aku ingin menjadi psikolog, ingin mempelajari psikologi kembali secara formal dan menyeluruh. Keinginan terbesarku adalah agar semua orang dengan gangguan psikologi yang berasal dari berbagai kalangan dapat ditangani dengan baik. Sebab biaya konsultasi psikologi terkenal mahal dan beberapa orang mengurungkan niat untuk diperiksa karena terkendala biaya. Meski memang benar biaya tersebar sebanding dengan durasi konsultasi ke psikolog serta treatment lainnya.

Dan ya, memang banyak yang perlu dipersiapkan untuk melanjutkan kuliah ke profesi. Selain menyiapkan berbagai persyaratan, juga harus mengingat kembali niat mengambil profesi atau S2 itu apa. Kalau sekadar buat bergaya, lebih baik diurungkan saja niat itu. Kalau sekadar nafsu belaka, lebih baik jangan lanjut S2. Sebab S2 sangat berbeda dengan S1, yang "bisa main-main". 

Share this:

0 comments:

Post a Comment