Mimpi: Tentang Niat dan Sebuah Keraguan




Hari ke #45

Saat sebuah pintu telah terbuka lebar, aku justru bimbang. Ragu untuk memasuki pintu itu atau tidak. Ragu apakah aku harus mengejar mimpiku yang sebenarnya pascalulus. Ataukah menundanya lagi--entah sampai kapan.

Meski kutahu bahwa sebenarnya mengejar mimpiku tersebut serasa lebih mengedepankan ego diri. Terasa begitu egois. Tidak sadar akan realita yang ada. Tidak sadar akan kemampuan yang dimiliki.

Padahal, perihal ego, aku belajar banyak dari gunung untuk tidak egois. Untuk tidak boleh mencapai puncak lebih dulu, padahal teman serombongan ada yang sedang kelelahan. Untuk tidak berjalan terlalu cepat, padahal teman serombongan ada yang sedang tertatih berjalan.

Pun harus menata kembali niat ketika mengejar mimpi tersebut. Apakah untuk belajar dari alam ataukah sekadar untuk bergaya? Apakah untuk mensyukuri nikmat yang Dia berikan ataukah justru membuat kita takabur karena sudah mencapai puncak dibanding yang lain? Pun apakah kita terus memaksakan kehendak padahal realita sangat menentangnya?

Share this:

0 comments:

Post a Comment