Kenapa Aku Suka Menulis?



Hari ke #46

Kalau ditanya, "kenapa sih kamu suka menulis?" Aku akan mengatakan, "untuk katarsis (peluapan emosi)". Dan ya, sejak di bangku sekolah dasar sepertinya aku mulai berkatarsis melalui tulisan. Berawal dari buku harian hingga akhirnya pindah ke blog dan media lainnya.

Awal-awal suka menulis bahkan hingga sekarang, katarsis selalu dijadikan tujuan menulis. Selain sebagai sarana "meluapkan emosi", menulis juga sarana untuk berbicara kepada orang lain. Terlebih aku bukanlah orang yang mudah berbicara banyak kepada siapapun. Namun, semakin sering menulis dan gabung ke beberapa komunitas atau organisasi kepenulisan, tujuan menulis tidak lagi untuk katarsis semata. Lebih jauh lagi, saat ini tujuanku menulis adalah untuk berdakwah atau menebar kebaikan. Meski berdasarkan pengalaman pribadi, tetapi sebisa mungkin ada sesuatu yang dapat diambil hikmahnya ketika dibaca orang lain.

Beberapa bulan lalu pernah mengikuti suatu kelas kepenulisan yang diisi oleh Pak Cahyadi Takariawan. Di situ beliau menyampaikan berbagai tujuan menulis, dan setiap orang memiliki tujuan menulisnya masing-masing. Beliau juga menyampaikan bahwa semua hal boleh ditulis, tetapi tidak semua yang ditulis harus dipublikasikan. Sejak itulah, aku lebih berhati-hati ketika untuk mempublikasikan tulisan. Ada beberapa kegelisahan yang tidak kutulis, kutulis tetapi tidak kupublikasikan, serta kutulis dan kupublikasikan. Biasanya tulisan yang tidak kupublikasikan karena tulisan tersebut terlalu privasi jika dibaca orang lain.

Semakin sering menulis, apalagi tulisan tersebut kupublikasikan ke blog atau media sosial, terkadang tanpa sadar aku ingin mendapat apresiasi dari orang lain. Jika sedang begitu, aku buru-buru menyadarkan diri, mengingatkan diri ini tentang tujuan menulisku.

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. Terkdang ada kesamaan emosi antara pembaca dan penulis,, Tidak heran beberapa pembaca bisa masuk kedalam emosi yang sama dalam cerita :)

    ReplyDelete