Sebuah Notula: Menjadi Muslim Anti Mainstream



Hari ke #52

Hari Rabu kemarin, Ustadz Zaky Ahmad Rivai, seorang dai muda, mengisi Ngaji Teras di Teras Dakwah. Temanya cukup menarik, yaitu Muslim Anti Mainstream

Apakah mainstream itu? Secara harfiah, mainstream artinya arus utama, yaitu ketika sesuatu hal dilakukan oleh banyak orang. Sayangnya, tidak semua hal yang dilakukan semua orang itu baik dilakukan oleh umat Islam. Jadi, sebagai umat Islam kita harus dapat memilih dan memilah yang baik di antara yang banyak dilakukan oleh banyak orang. Jangan sampai kita mengikuti apa yang banyak dilakukan orang lain, padahal itu tidak baik bagi kita. 

Saat ini banyak orang Indonesia, terutama umat Islam--yang notabene mayoritas--yang mengikuti budaya barat. Dari mulai penampilan hingga gaya hidup. Padahal hal tersebut tidak cocok diterapkan untuk umat muslim. Apalagi budaya dan karakteristik masing-masing negara atau tempat itu berbeda. Salah satu hal yang membuat seseorang mengikuti hal-hal yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain yaitu karena tidak menemukan jati diri. 

Dalam sebuah ayat Alquran pernah disebutkan bahwa jika seseorang mengikuti suatu kaum, maka orang tersebut termasuk bagian dari kaum tersebut. Sayangnya dalil tersebut "ditelan mentah-mentah" oleh kebanyakan orang. Menjadi sering menilai seseorang bagian suatu kaum karena dari penampilannya saja. Padahal membaca sebuah dalil itu seperti membaca peta buta. Perlu lebih memahami peta tersebut agar mengerti di mana kita berada dan ke mana kita harus melangkah. Jadi, ketika dalil A mengatakan A, bukan berarti harus melakukan itu. Pahami lebih dulu dalil tersebut sebelum melakukannya. 

Meski kita tidak boleh selalu melakukan yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain, tetapi sebagai umat Islam kita harus yakin terhadap agama kita. Bahwa kita harus bangga menjadi umat Islam, sehingga kita dapat menjadi umat yang unggul. Bahkan Allah memberi "hiburan" kepada kita dalam surat Ali Imran ayat 139 agar kita lebih percaya diri. Agar kita tidak mudah terbawa arus, begitu mudah mengikuti hal-hal yang dilakukan banyak orang. Apalagi saat ini, pengaruh media begitu besar bagi masyarakat. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, tujuan (beberapa) media itu bergantung pada pemiliknya.

Bukan hanya media, sebuah hal yang dilakukan oleh banyak orang itu biasanya karena telah turun-temurun dilakukan. Namun, banyak peristiwa bersejarah yang diputarbalikkan faktanya karena kepentingan suatu golongan. Seperti di Jawa ini, banyak masjid-masjid yang terdapat simbol-simbol bermakna filosofis islam. Salah satu contohnya Masjid Gedhe di Kauman yang arsitekturnya berbentuk tajug beratap tumpang tiga yang memiliki arti bahwa umat Islam harus melampaui tiga tingkatan sehingga hidupnya dapat selalu mendekat kepada Sang Pencipta. Sayangnya, kedatangan penjajah mengaburkan semuanya. Bahkan menyebarkan isu bahwa itu merupakan hal gaib. Bukan hanya itu, banyak hal "gaib" lainnya yang diwariskan turun-temurun karena disebar oleh penjajah yang menyamar sebagai warga biasa yang memang bertujuan untuk menyebarkan isu yang tidak benar. Bahkan dalam Surat Luqman sendiri, umat Islam "disindir" sering melakukan sesuatu karena warisan atau turun-temurun dilakukan.

Selain itu, mengenai penemu Amerika, yang sejak kecil ditanamkan kepada kita bahwa ditemukan oleh Christopher Colombus. Padahal penemu Amerika bukan Colombus. Bahkan dalam catatan hariannya, Colombus berterima kasih kepada Ibnu Batutah karena telah membuat peta sehingga dapat membawanya menuju Amerika. Contoh lainnya dalam bidang Ekonomi, kita sering mendengar sebuah pernyataan David Ricardo bahwa sumber daya alam itu terbatas, sementara kebutuhan manusia itu tidak terbatas. Dampak dari pernyataan tersebut yaitu sumber daya alam menjadi dikapitalisasi dengan harga yang tidak dapat dijangkau oleh orang banyak. Pun jika dipikir secara logika, kebutuhan manusia lah yang terbatas. Seperti ketika kita sedang puasa, menjelang buka puasa kita pasti ingin membeli semua makanan dan minuman. Namun, ketika adzan telah berkumandang, minum segelas teh hangat dan tiga buah kurma saja sudah kenyang. Melihat minuman dan makanan yang sudah dibeli pun menjadi tidak ingin dikonsumsi. Hal itu seperti menunjukkan bahwa kebutuhan manusia itu terbatas, yang tidak terbatas itu hawa nafsunya. 

Ada beberapa penyebab mengapa kita mengikuti arus. Pertama, tidak adanya prinsip yang dimiliki sehingga kita mudah terpengaruh. Kedua, pemahaman yang dangkal. Hal ini dapat menjadi titik kelemahan kita di mata orang yang memusuhi kita. Pun kadang kita salah bergerak karena kurangnya pemahaman. Ketiga, gengsi, yang dipengaruhi oleh lingkungan terutama lingkungan sosial. Gengsi tersebut juga membuat kita tidak mau mengikuti kebenaran. Keempat, yaitu melalui media, pendidikan, dan gaya hidup. Bahkan ulama-ulama mengajarkan kita untuk memiliki sebuah ciri yang berbeda dengan umat lainnya. 

Setelah mengetahui semuanya, sebagai muslim kita tidak boleh mudah mengikuti arus. Bahkan harus menjadi muslim yang anti mainstream. Menjadi muslim yang selalu mengikuti jalan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Pun menjadi muslim yang selalu berpedoman pada Alquran dan sunnah.

Share this:

0 comments:

Post a Comment