Seni Mendidik Anak


Hari ke #34

Untuk ke sekian kalinya aku mendapat "materi" parenting di tempat kerja. Ternyata memang benar kalau belajar itu bisa di mana saja, bukan hanya di bangku kuliah. Tergantung bagaimana kita dapat mengambil hikmahnya atau tidak. Dan Jumat sore kemarin, ada seorang wali murid yang bercerita banyak mengenai caranya mendidik empat anaknya. 

Anak pertama dan anak kedua beliau sudah bersekolah di bangku sekolah dasar, anak ketiga masih bersekolah di taman kanak-kanak, dan anak keempat masih berusia di bawah 2 tahun kalau tidak salah. Anak keempat beliau sangat lucu dan aktif. Ketika melihat tingkahnya rasanya gemas ingin mencubit pipinya. 

"Sharing session" kemarin diawali Beliau dengan cerita awal mula sang anak pertama dan anak kedua bisa berjualan. Sebab setiap Jumat, mereka selalu membawa berbagai macam perlengkapan berjualan. Beliau bercerita kalau sejak kelas 1 SD mereka berdua telah diajari berjualan. Awal-awal berjualan, mereka masih malu-malu untuk menjajakkan makanan yang dijualnya. Alhasil hanya beberapa buah yang dapat terjual pun dengan keuntungan yang sangat minim. Namun, Beliau terus mendorong mereka untuk berjual. Hingga enam bulan setelahnya mereka sudah mahir berjualan, bahkan sang anak kedua telah memiliki pelanggan tersendiri, yang terus menanti makanan yang dijualnya.

Tujuan Beliau mengajari kedua anaknya berjualan agar mereka dapat merasakan dan memahami betapa sulit dan kerasnya mencari uang. Ketika membeli mainan pun mereka akan berpikir dua kali untuk menyisihkan sebagian hasil jualannya demi membeli sebuah mainan. Pun dalam keluarga Beliau, satu mainan digunakan untuk keempat anaknya. Bukan satu anak satu mainan. Hal ini agar tercipta kebersamaan serta rasa mau berbagi di antara mereka.

Ketika keempat anakna berulang tahun Beliau mengajarkan mereka tentang dua pilihan untuk merayakannya. Pilihan pertama merayakan di panti asuhan yang mendapat pahala di dunia maupun akhirat. Dan pilihan kedua merayakannya di sebuah rumah makan yang "pahala"-nya hanya dirasakan di dunia. Meski Beliau membebaskan keempat anaknya untuk memilih, tetapi mereka hampir selalu memilih merayakan di panti asuhan. Beliau mengaku mengajarkan adanya sebuah konsekuensi dari setiap pilihan keempat anaknya. Aku jadi teringat akan teori konsekuensi, reward and punishment yang pernah diajarkan di bangku kuliah. Ketika kita akan mendapat reward atau punishment sebagai konsekuensi atas apa yang telah kita lakukan. Bergantung pada baik atau buruknya hal yang kita lakukan.

Aku merasa takjub ketika Beliau bercerita, terlihat sekali kalau Beliau menanamkan nilai-nilai agama kepada keempat anaknya. Beliau bercerita kalau anak pertama dan anak keduanya memiliki peran yang berbeda di keluarganya. Anak pertama, yang seorang laki-laki berperan sebagai penanggung jawab ketiga adiknya. Jika salah satu adiknya ada yang menangis, dialah yang akan Beliau tanyai. Terlebih ketika sang adik menangis karenanya, dia wajib untuk meminta maaf dan meredamkan tangis sang adik. Lalu ketika akan salat berjamaah, dia yang selalu ditunjuk menjadi imam. Menurut Beliau, hal ini dilakukan agar sang anak memiliki karakter yang kuat sebagai seorang laki-laki yang kelak menjadi seorang imam. Sementara itu, anak keduanya bertugas sebagai baby-sister yang mengawasi dua adiknya. Terutama ketika Beliau sedang memasak di dapur. Beliau juga mengatakan kalau anak-anak zaman sekarang harus diberi contoh, bukan sekadar diberitahu. Seperti api itu berbahaya, Beliau mengajarkan keempat anaknya kalau api itu berbahaya. Bukan sekadar memberi tahu, tetapi juga mengenalkan beberapa contoh api. Seperti lilin yang kalau dipegang sedikit saja sudah terasa panas.

Aku tidak henti-hentinya takjub hingga "sharing session" itu berakhir. Mengagumkan sekali cara Beliau mendidik keempat anaknya. Aku jadi terpikir untuk mengadaptasi beberapa cara Beliau ketika kelak aku telah berkeluarga dan memiliki anak. 

Dan tiba-tiba kembali timbul keinginan untuk mengambil Psikologi Perkembangan Anak ketika S2 profesi nanti. Sebab aku yakin kalau masa bayi hingga kanak-kanak merupakan masa-masa yang penting untuk membentuk sebuah karakter anak. Pun beberapa kasus gangguan psikologis banyak yang disebabkan oleh adanya trauma masa kecil. Bahkan trauma tersebut tercipta oleh keluarganya. Ya, meski ada banyak faktor lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan psikologis. 

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments: