Sebuah Pengandaian


Hari ke #36

Manusia memang seringkali tidak bersyukur, kufur akan nikmat-nikmat yang Allah beri. Ketika anak-anak, ingin menjadi dewasa. Ketika sudah dewasa ingin kembali menjadi anak-anak. Ketika menjadi mahasiswa ingin segera lulus dan kerja. Ketika sudah lulus dan bekerja ingin kembali menjadi mahasiswa. Dan banyak hal-hal lainnya yang tanpa sadar kita angankan untuk terjadi dan membuat kita tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.

Suatu hari aku pernah ditanyai seorang senior di organisasi, "How's life after graduated Yas?" Dengan sangat yakin, aku menjawab, "Kuingin kembali menjadi mahasiswa mba!" Dia pun terkekeh, sebab dia pun merasakan hal yang sama. Dan ya, setelah lulus dan kerja, aku merasa kalau menjadi mahasiswa itu jauh lebih enak. Banyak fasilitas-fasilitas yang bisa didapat. Salah satu hal yang kurasakan manfaatnya ketika berstatus menjadi mahasiswa adalah potongan biaya ketika kontrol rutin ke dokter. Entah menggunakan jaminan GMC (Gadjah Mada Health Care) maupun menggunakan BPJS--dalam hal ini BPJS yang dibayar dari gaji orang tua. Sebab ketika Januari lalu aku ingin kontrol rutin dengan menggunakan BPJS, ternyata masa aktif BPJS sudah tidak aktif. Sebab umurku sudah 22+ dan sudah bukan mahasiswa.

Perbedaan lainnya ketika menjadi mahasiswa dan tidak yaitu dalam hal kemudahan untuk pulang. Setelah kerja aku baru sadar kalau dulu ketika menjadi mahasiswa itu jauh lebih mudah untuk pulang. Satu bulan sekali bisa lah menyempatkan waktu untuk pulang. Bahkan rela mengambil "jatah bolos" demi berlama-lama di rumah. Dan setelah memasuki dunia kerja ternyata cukup sulit untuk pulang. Ada aturan-aturan mengikat yang membuatku tidak bisa seenaknya untuk pulang seperti halnya dulu ketika menjadi mahasiswa. Pun untuk rutin pulang sebulan sekali rasanya sangat sulit. 

Hidup harus tetap berjalan ke depan. Jangan berlama-lama berandai. Sebab waktu tidak mungkin dapat diputar ulang. Namun, aku jadi mulai memahami kondisi orang-orang yang sudah bekerja. Pun mengenai alasan mengapa mereka jarang pulang ke rumah. Mungkin sebagian besar bukan tidak ingin menyempatkan waktu untuk pulang. Namun, memang sulit untuk mengambil waktu-waktu tertentu untuk pulang. Ketika orang-orang rumah meminta untuk pulang, aku pun ingin sekali pulang. Akan tetapi, terkadang ingin dimengerti juga bahwa kondisi sekarang tidak semudah dulu ketika mahasiswa yang mudah untuk rutin pulang tiap bulan. Terdengar egois memang, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Namun, bukan berarti tidak mengusahakan untuk pulang. Beruntunglah bagi orang-orang yang dapat rutin pulang ke rumah. Berkumpul dengan sanak saudara.

Share this:

0 comments:

Post a Comment