Sebuah Kunci



Hari ke #41


"Setiap manusia dilahirkan dengan sepasang gembok kunci. Gembok adalah hatinya dan kunci adalah cintanya.Gembok kita akan dibuka oleh kunci orang lain dan kunci kita akan membuka gembok orang lain. Jodoh adalah ketika kunci dan gembok kita berpasangan dengan gembok dan kunci satu orang saja."-Teman Imaji.
Setiap melihat kunci dan/atau gembok, aku elalu teringat akan kutipan itu. Sebuah kutipan paling favorit di buku Teman Imaji. Sebuah kutipan yang mengingatkan pembacanya bahwa gembok hati kita akan dibuka oleh kunci yang tepat. Dan kunci kita akan membuka gembok yang tepat. Tinggal yakin dan percaya saja akan takdir-Nya.

Dari situ, aku tiba-tiba terpikir bahwa setiap manusia pun mempunyai kuncinya masing-masing. Kunci rahasia yang hanya dia seorang yang tahu. Dan hari ini (Sabtu tanggal 10 kemarin) salah satu "rahasia"-ku seolah terbongkar dengan sendirinya. Mungkin hanya segelintir orang yang menyadari dan mungkin pernah melihat diriku yang begitu panik dan cemas karena sesuatu. Dan semakin ke sini, aku semakin menyadari bahwa aku memang mudah panik. Bahkan aku mendiagnosa diriku mengalami gangguan kecemasan--padahal tidak boleh mendiagnosa diri sendiri. Mungkin "gangguan" ini tidak akan begitu terlihat di depan orang lain. Sebab sejauh ini stimulus yang memunculkan "gangguan" ini lebih sering muncul ketika aku sedang sendirian. Seperti yang sering terjadi, ketika aku harus pergi pagi jam 7.30 sementara kantor belum selesai kubersihkan karena baru bangun jam 6.30. Rasanya tingkat kecemasanku langsung naik drastis. 

Dan hari ini (Sabtu tanggal 10 kemarin) kecemasanku tersebut terpampang jelas di depan banyak orang. Berawal dari ponselku yang kehabisan baterai, sementara di Balairung Selatan tidak ada tempat untuk men-charger. Akhirnya cari ke berbagai tempat yang sekiranya ada colokan. Cari di Perpustakaan Pusat, ternyata tutup. Mengelilingi GSP ternyata di-php-kan oleh banyaknya colokan yang tidak berfungsi. Sekalinya ada yang bisa dipakai, sudah ada yang lebih dulu memakainya. Setelah hampir 30 menit, tiba-tiba teringat Selasar FISIPOL, fakultas sebelah Perpustakaan Pusat yang memiliki banyak colokan. Rasanya saat itu sudah sangat panik, sekaligus kesal. Kesal pada diri sendiri yang tidak mengisi penuh baterai ponsel. Pun panik, karena aku menjadi narahubung rekrutmen anggota baru FLP Yogyakarta sekaligus seharian menjaga stand pengumpulan berkas. 

Sayangnya, ketika menemukan colokan dan berhasil men-charge, si ponsel ternyata tidak bisa langsung dipakai. Semakin panik, takut banyak yang mencari. Dan benar saja, ketika si ponsel sudah berhasil kunyalakan, banyak pesan maupun telepon masuk yang mencari tempat pengumpulan berkas. Untung saja sore ini aku ditemani seorang panitia lain yang membantuku, menjemput para pendaftar yang berada di Balairung dan mencatat kelengkapan berkas yang dibawa. Kalau saja hanya aku seorang yang menjaga, pasti sudah tak keruan stand sore ini. Sebab ketika temanku sedang menjemput pendaftar saja, rasanya sudah sangat panik. Hanya seorang diri yang melayani satu per satu pendaftar untuk mengumpulkan berkas. Mulai dari mencatat kelengkapan berkas, menerima biaya pendaftaran dan menulis kwitansi, hingga mengabarkan tentang adanya wawancara. Terlebih di tengah-tengah mengecek kelengkapan berkas itu banyak yang menelpon untuk menanyakan tempat. Efeknya ada beberapa pendaftar yang lupa kukasih souvenir. Pun tidak sempat untuk mengabarkan jadwal wawancara dan kesanggupan kehadiran mereka. Apalagi semakin sore semakin banyak pendaftar yang datang. Silih berganti tidak habis-habisnya. Namun, di sisi lain, merasa senang juga melihat antusiasme mereka, melihat wajah-wajah calon anggota baru FLP Yogyakarta.

Dan ya, selamat menjalani proses! 

Share this:

0 comments:

Post a Comment