Menjadi Narahubung


Hari ke #37
Menjadi narahubung suatu organisasi, tempat usaha, maupun acara berarti menjadikan kita perantara antara “rumah” kita dengan orang lain. Beberapa kali menjadi narahubung seringkali membuatku menerka-nerka karakteristik seseorang.
Seperti pada open recruitment @flpyogya ini, aku “bertemu” dengan berbagai macam tipe pendaftar. Tipe pertama yang tidak banyak tanya. Tipe kedua yang banyak tanya. Banyak hal yang ditanyakan, seperti hal-hal teknis terkait rekrutmen maupun kondisi internal @flpyogya . Bahkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sudah ada di poster maupun web. Namun, rasanya sangat seru menjadi orang pertama yang mengetahui mereka. Terasa sekali bahwa manusia itu memang beragam, tiap orang tidak mungkin sama.
Menjadi narahubung berarti harus siap diserbu serentetan pertanyaan para pendaftar. Entah pertanyaan yang jawabannya memang sudah terpampang di poster atau web. Maupun pertanyaan yang memang belum diinfokan. Terkadang kujawab dengan ke-sok-tahu-an-ku, tapi seringkali kulempar ke grup panitia. Dari sini aku belajar untuk sabar ketika menghadapi berbagai pertanyaan tersebut. Terlebih ketika beberapa pendaftar memiliki pertanyaan serupa, terkadang terasa kesal. Namun, dari sini juga secara tidak langsung aku belajar mengelola emosi, untuk tidak gampang memunculkan emosi negatif ke orang lain. Pun untuk tetap ramah kepada para pendaftar. Sebab serentetan pertanyaan dari beberapa pendaftar itu menunjukkan antusiasme para pendaftar terhadap @flpyogya.
Sementara itu, hal tidak enak menjadi narahubung adalah ketika ada orang iseng yang tiba-tiba menghubungi. Beberapa bulan lalu, ketika menjadi narahubung di acara @flpyogya juga, ada beberapa orang yang tiba-tiba mengajak kenalan. Rasanya langsung “apa sih nih orang” dan langsung kublokir. Ya seperti dua sisi mata koin, setiap hal memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Termasuk menjadi narahubung.

Share this:

0 comments:

Post a Comment