Zona Nyaman


Hari ke #22

Semakin bertambahnya usia, semakin "berat" pula topik pembicaraan yang kita dan orang lain bahas. Pernikahan dan pekerjaan menjadi topik pembicaraan yang paling sering dibahas. Apalagi di kalangan anak muda berusia 20-an tahun yang baru saja lulus kuliah. 

Bulan lalu aku pernah menuliskan tentang pekerjaanku yang tidak sesuai dengan mimpi dan jurusan yang kuambil ketika kuliah. Kupikir setelah menuliskannya, aku benar-benar menerima pekerjaanku yang sekarang. Namun, ternyata tidak juga. Beberapa kali aku sempat mempertanyakan, "apa iya ya ini akan jadi pekerjaan tetapku?" Terlebih ketika orang tua dan adikku berkali-kali mengirimkan lowongan pekerjaan--yang entah kenapa job yang sedang dibuka tidak sesuai minatku. Rasanya jengah. Seolah-olah pekerjaanku adalah sebuah permainan, dan aku sedang bermain-main di sana. Padahal aku serius dengan apapun keputusan yang kuambil, termasuk dalam urusan kerja.

Ketika ditanya, "kamu gak pengen cari kerjaan lain?" sejenak aku terdiam untuk akhirnya menggelengkan kepala. Pun ketika diri sendiri yang bertanya, "kok aku gak pindah dari Jogja ya?" Setelah aku merenung, mungkin aku memang terlalu nyaman di sini, di Jogja, di tempat kerjaku, di FLP, di Mardliyyah. Tempat-tempat yang menjadi zona nyamanku sendiri. Mungkin aku terlalu nyaman di "zona nyaman"-ku sekaligus takut dengan tempat baru hingga enggan untuk mendaftar pekerjaan di luar Jogja. Mungkin aku terlalu nyaman di Jogja dengan segala keistimewaan dan kemacetannya. Mungkin aku terlalu nyaman di Jogja dengan segala kenangan dan lara yang pernah terukir.

Kalau kebanyakan orang mengatakan "tidak akan bisa berkembang kalau terus-menerus berada di zona nyaman", aku justru memiliki pendapat yang berbeda. Aku justru merasa sangat berkembang ketika berada di zona nyamanku. Perkembangan yang sangat positif menurutku. Meski terkadang iri melihat teman seangkatan yang bekerja di perusahaan yang "wah" pun dengan posisi yang sesuai dengan jurusan, tapi aku mensyukuri pekerjaanku sekarang. Sebab, selain gaji, aku mendapat banyak benefit immaterial di tempat kerjaku. Berinteraksi dengan pengunjung menjadi salah satu sarana latihanku untuk bicara. Meski terkesan sepele, tetapi bagiku itu sesuatu hal yang menakutkan. Sekadar melihat banyak pengunjung yang datang dalam satu waktu di tempat kerja rasanya sudah tak keruan, apalagi mengajak bicara. Selain itu, seperti yang pernah kutuliskan di pos-pos sebelumnya, di tempat kerjaku ini aku serasa belajar kembali tentang Psikologi Perkembangan Anak. Namun, kali ini belajar secara langsung dari para ibu-ibu--versi terapannya. Dan yang terpenting, aku bisa tetap liqo. Aku tidak tahu jika aku bekerja di tempat apakah masih dapat seperti itu atau tidak.

Apalagi beberapa minggu ini aku merasakan yang namanya "job satisfaction". Sebagai librarian, salah satu job description pasti berhubungan dengan buku, mulai dari menyampul hingga mengentri buku. Dan ketika satu rak terisi penuh dengan buku-buku yang sudah tersampul, terlabeli, dan tersusun sesuai kategorinya, tiba-tiba muncul kepuasan itu. "Oh, jadi ini yang namanya job satisfaction?", batinku. 

Dan pada akhirnya, kamulah yang akan menentukan, apakah "zona nyaman"-mu itu melenakanmu atau justru membuatmu ingin terus berkembang. Setidaknya, yang perlu kamu tahu, "zona nyaman" seharusnya membuatmu ingin tetap terus berkembang dan bergerak.

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: