Si Pengeluh dan Perempuan Hujan


Hari ke #4


Di sebuah Negeri Antah Berantah, hiduplah seorang pemuda yang suka sekali mengeluh. Tiada hari yang dilaluinya tanpa mengeluh. Karena tabiatnya itu warga sekitar pun menjulukinya Si Pengeluh.

"Kenapa hari ini panas sekali?" Si Pengeluh mengeluhkan betapa teriknya mentari siang itu. Dia mengelap peluh di keningnya yang tidak henti mengucur.

Dia terus-menerus mengeluh di sepanjang jalan yang dilaluinya. Mengeluhkan langit, mengeluhkan nasib, mengeluhkan keadaan, mengeluhkan orang-orang sekitar.

Selang berapa lama langit menurunkan hujan. Rintik-rintik yang kian lama kian menderas.

"Ah, kenapa hujan deras sih!" maki Si Pengeluh kepada langit. Sayangnya langit tidak berminat mendengar keluhannya. Si Pengeluh bergegas berlari, mencari tempat berteduh. Sebab rumahnya terlampau jauh untuk ditempuh.

Kini Si Pengeluh berteduh di sebuah emperan toko bersama beberapa pencari keteduhan. Bukan Si Pengeluh jika tidak mengeluh. Sembari menunggu reda, dia kembali memaki langit. Memaki karena telah menurunkan hujan, memaki karena hujan tidak kunjung mereda.

"Kautidak menyukai hujan?" 

Tiba-tiba seorang perempuan muda yang sedari tadi menengadahkan tangannya ke langit mengajaknya bicara--sebut saja Perempuan Hujan.  "Kau bertanya kepadaku?"

"Siapa lagi orang yang memaki hujan di sini selain kau?"

Ish. Si Pengeluh merasa tersindir. Wajahnya mulai memerah kesal.

"Kau seharusnya merasa bersyukur karena dapat melihat turunnya bulir-bulir air hujan. Bulir yang berubah dari rintik menuju deras. Melihat pelangi sehabis hujan yang kata orang-orang itu indah. Sementara aku hanya dapat merasakannya melalui indera peraba. Hanya dapat merasakan aroma tanah sehabis hujan melalui indera pembauan. Hanya dapat merasakan desau angin yang sesekali muncul di tengah hujan melalui indera pendengaran."

"Apa maksudmu?" Si Pengeluh tidak memahami perkataan Perempuan Hujan. Sementara itu, Perempuan Hujan hanya menjawab dengan senyuman. Si Pengeluh semakin bingung, tidak paham, dan hanya menerka apa maksudnya--terkaan yang entah jawabannya benar atau tidak.

Namun, usai hujan mereda, Si Pengeluh seperti mendapat jawaban akan kebingungannya. Sayang, ketika dia ingin mengutarakan temuannya itu, Perempuan Hujan telah menghilang. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment