Membicarakan Teman



Hari ke #8

Agaknya tidak pernah kehabisan bahan ketika membicarakan tentang teman. Semakin kita bertambah usia, bertambah jenjang pendidikan, bertambah jejaring sosial, akan selalu ada yang datang ke kehidupan kita. Baik menjadi teman karib, maupun sekadar teman "kenal di sini, kenal di sana". Namun, kita tahu dan seharusnya yakin bahwa akan selalu ada yang tinggal, bertahan di kehidupan kita.

Membicarakan tentang teman terkadang menjadi topik yang sensitif untuk kujawab. Sisi introvertku terkadang membuatku terpuruk, serasa sedang menyugesti bahwa aku tidak memiliki teman karib. Dan bodohnya, aku sering terpengaruh oleh sugesti itu. Hingga memaksaku masuk ke dalam jurang kesedihan--menangisi diri.

Membicarakan tentang teman, beberapa hari lalu aku pernah "berdebat" mengenai introvert yang tidak bisa menjaga pertemanan. Aku membantah habis-habisan sampai kusadari kalau argumenku justru menguatkan asumsinya tersebut. Seolah aku semakin menegaskan bahwa introvert sulit bahkan tidak bisa menjaga pertemanan.

Membicarakan tentang teman, mengingat segala kenangan bersamanya terkadang menjadi sesuatu yang menyenangkan jika pertemanan masih terjalin hingga detik ini. Sebaliknya, akan terasa menyakitkan jika pertemanan itu tidan lagi terjalin. Serasa ada yang menusuk dan membuncah.

Satu yang menjadi pengingat bahwa akan ada orang yang tinggal dan bertahan di kehidupan kita. Terlebih jika yang dihadirkan adalah orang-orang baik. Orang-orang yang selalu mengingatkan dan mengajak kita ke dalam kebaikan. Apalagi kelak di akhirat nanti kita akan dipertemukan dengan orang yang dekat dengan kita. Orang-orang yang nantinya akan mengingat dan "mengangkat (dari neraka)" ketika mereka tidak melihat kita di surga.

Bersyukurlah, ketika kita masih dipertemukan dengan orang-orang baik seperti itu. Jagalah, orang-orang yang masih bertahan dibanding merutuki "kepergian" orang-orang yang tidak lagi menjadi teman kita.

Share this:

0 comments:

Post a Comment