20 Jam di Semarang



Tulisan ini sebenarnya sudah kutulis setelah beberapa jam kembali ke Jogja. Namun, sesuatu hal membuatku mengurungkan niat untuk melanjutkan tulisan ini sampai selesai. Akan tetapi, bosan juga ternyata melihat tulisan ini terlalu lama tersimpan di draft. Jadi, lebih baik kulanjutkan saja. Apalagi hari ini tema @30haribercerita yaitu cerita kota.

Hari ke #12

*

Bagiku, Jogja adalah tempat ternyaman untuk kutinggali selain kampung halamanku. Namun, senyaman apapun Jogja, ada beberapa kejadian yang membuat kenyamanan itu mendadak hilang. Hingga membuatku harus mencari tempat pengasingan. Sejenak meninggalkan Jogja untuk memastikan kembali bahwa Jogja tempat ternyaman untuk kutinggali selain kampung halamanku.

23 Agustus 2017

Setelah beberapa kali memikirkan tempat untuk sejenak meninggalkan Jogja, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Semarang. Aku memilih menaiki bus yang pemberangkatannya paling pagi, yaitu jam 6. Di perjalanan aku bolak-balik bangun-tidur. Hanya beberapa saat menikmati perjalanan dalam keadaan terjaga untuk kemudian terlelap kembali. Salah satunya ketika melewati Kota Magelang. Aku mencoba untuk tetap terjaga, melihat pemandangan di luar yang terlihat dari sisi kiriku. Aku cukup kaget ketika bus melintas di depan RSJ Prof. Dr. Soerojo. Seketika mengingatkanku akan naskah novel berlatar tempat itu yang pernah kubuat dua tahun silam. Pandanganku tetap tertuju pada tempat itu yang ternyata jauh lebih luas dari imajinasiku. Terus menatap hingga tempat itu hilang dari pandanganku.

Jam 9 aku tiba di Sukun, salah satu tempat pemberhentian bus di Semarang. Pertama kali ke Semarang membuatku kaget kalau ternyata kota ini begitu ramai dan panas. Sambil menunggu temanku yang akan menjemput, aku pun mencari tempat untuk men-charge ponsel. Lalu aku masuk ke sebuah warung makan terdekat. Niat hati ingin men-charge ponsel sembari menikmati es teh manis. Namun, ketika akan memesan es teh manis, es batunya tidak ada. Pun ketika akan menumpang men-charge ponsel, ternyata tidak gratis. Bahkan harganya dua ribu lebih mahal dari teh manis yang kupesan. Tiga puluh menit menunggu temanku pun datang. Lalu kami menaiki angkutan kota menuju Tembalang. 

"Kamu ngapain ke Semarang?" tanya temanku ketika kami sudah di dalam angkutan kota. 

"Kabur dari Jogja..."

Temanku tertawa. Lalu aku menjelaskan lebih rinci alasan sebenarnya ke Semarang, yang membuatnya semakin tertawa meledekku. 

"Jadi jauh-jauh ke sini karena gak mau dateng ke wisuda temen?"

"Ya begitulah," jawabku pasrah. Lebih tepatnya agar aku tidak terus-menerus menyalahkan kebodohanku jika aku hari ini di Jogja dan menghadiri wisuda teman-teman.

Tidak terasa angkutan kota yang kami tumpangi telah memasuki pintu masuk Universitas Diponegoro (Undip). Namun, dari pintu masuk Undip menuju Undip yang sesungguhnya ternyata berjarak cukup jauh. Hal yang cukup mengagetkan yaitu angkutan kota ini diperbolehkan masuk ke dalam kampus. Mengantar dari satu fakultas ke fakultas lain, bahkan hingga di depan Gedung Rektorat Undip. 

Setelah belasan menit mengitari Undip, kami pun tiba di depan gang indekos temanku. Kami menyusuri jalan setapak yang berujung di depan indekos temanku yang berada di ujung gang.

"Terus kamu mau ke mana aja nih?" tanyanya. 

Aku terkekeh. "Lawang Sewu mungkin."

"Tapi aku ngajakin temanku ya, yang tahu jalan." Aku mengangguk. Memang tabiat temanku, tidak hafal jalan.

Kota Semarang di kala siang ternyata begitu panas ketika aku, temanku, dan temannya temanku menunggu bus Trans Semarang. Salah satu kelebihan Trans Semarang dibanding Trans Jogja yaitu diskon jika menggunakan kartu pelajar atau KTM. Di balik kesedihanku karena tidak bisa wisuda di bulan Agustus, aku merasa bersyukur masih dapat menggunakan KTM untuk mendapat diskon. Ternyata Trans Semarang yang kami tumpangi tidak berhenti di depan Lawang Sewu. Kami pun terpaksa berjalan ratusan meter, di bawah teriknya Semarang. Pun harus menyeberangi Simpang Tugu Muda yang ramai oleh lalu lalang kendaraan.

Sesampainya di Lawang Sewu, aku cukup kaget akan seramai ini. Padahal hari ini bukan akhir pekan, apalagi hari libur. Dari luar, Lawang Sewu tidak "seangker" yang selama ini kupikir. Di Lawang Sewu ada empat bangunan (kalau aku tidak salah menghitung). Kami memasuki bangunan yang berada di sebelah timur terlebih dulu. Sesuai namanya, Lawang Sewu memiliki banyak pintu. Bahkan jika berdiri di tengah ruang lantai dua bangunan ini dan melihat ke selatan, pengunjung serasa sedang bercermin. Sebab antara satu ruang ke ruang lain begitu simetris dan sejajar. Dan sepertinya spot inilah yang paling sering dijadikan tempat untuk berfoto dan diunggah ke media sosial. Setelah puas mengitari bangunan ini, kami pun beralih menuju bangunan lain. Berlanjut ke bangunan di timur laut, yaitu perpustakaan. Ada banyak buku sejarah--terutama sejarah Lawang Sewu--, blueprint Lawang Sewu, dan puzzle bergambar Lawang Sewu. Setelah itu kami melangkah ke utara menuju bangunan yang lebih besar dibanding bangunan pertama yang kami masuki. Sayangnya, ketika kami memasuki bangunan ini, ada banyak pelajar laki-laki yang sedang mengadakan field trip. Aku pribadi merasa canggung ketika melewati mereka. Akhirnya kami bergegas menuju bangunan yang berada di sebelah selatan. Di bangunan ini berisi berbagai macam peralatan perkeretaapian.

Tidak terasa kami berada di Lawang Sewu sampai sore hari. Padahal sebelum datang ke Semarang, aku berencana untuk kembali ke Jogja sore hari. Ternyata waktunya sangat tidak memungkinkan, pun temanku menyarankan untuk menginap di indekosnya dan kembali ke Jogja esok hari. Alhamdulillah-nya, aku belum membeli tiket untuk pulang sore ini. Usai dari Lawang Sewu kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya, yaitu Gramedia. Namun, ketika kami akan keluar dan menunggu Go-Car, kami melihat seorang pedagang yang digerebek petugas karena berjualan di trotoar. Pertama kali melihat itu rasanya ngeri, merinding tak tertahankan. Bahkan ketika kami tiba di Gramedia, rasa merinding itu masih kurasakan.

Di Gramedia sebenarnya kami hanya sebentar, tapi waktu sepertinya berputar begitu cepat. Jam lima sore kami baru keluar, dan bergegas mengantre di halte. Kami menunggu beberapa belas menit, tapi Trans Semarang yang kami tuju tidak kunjung terlihat. Akhirnya kami berjalan ke kawasan Simpang Lima, menunggu di halte terdekat. Meski di halte ini begitu sesak tetapi kami hanya menunggu dua menit untuk mendapat Trans Semarang yang kami tuju. Ya, meski di dalam kami harus berdesakan dengan penumpang lain. Ketika hampir memasuki Undip, kami transit di halte, menunggu bus lainnya. Di bus inilah kami menjadi penumpang terakhir yang diturunkan. Dan melewati Undip ketika malam hari ternyata cukup mencekam. 

Selepas isya, aku dan temanku baru sampai di indekosnya setelah kami dan temannya temanku mampir sebentar untuk makan dan membeli barang. Sesampainya di indekos temanku, aku berniat untuk mengerjakan revisi sidang skripsi. Sayangnya, aku baru menyadari kalau yang kubawa hanya laptopnya, charger-nya lupa kumasukkan ke dalam tas. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur. 

24 Agustus 2017

Selepas subuh, aku bersiap-siap untuk kembali ke Jogja. Mengecek barang bawaan dengan teliti, takut jika nantinya tertinggal. Pukul 05.30 aku diantar ke agen bus Ramayana yang ada di Sukun. Aku bersyukur, masih mendapat tiket paling pagi untuk kembali ke Jogja. Sebab jam sepuluh nanti aku harus berangkat kerja. Sayangnya, ketika bus Ramayana sampai di terminal dan aku bergegas turun untuk mengejar Trans Jogja, aku baru sadar kalau payung pemberian temanku tertinggal di bus Ramayana. Aish!

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Semoga nggak kapok main lagi ke Semarang, kak :D
    Eh, Trans Jogja memangnya nggak ada tarif mahasiswa ya? Tapi enaknya kalau Trans Jogja bayar nontunai dapat tarif Rp 2.700

    ReplyDelete
    Replies
    1. orang Semarang kah? Salam kenal ya :)
      Gak ada. Hiks :" wah, iya kah? Non tunai berarti pakai kartu gitu kan?

      Delete