Tahun Baru: Sebuah Refleksi dan Resolusi


Hari ke #1

Layaknya tradisi yang telah turun-temurun ada, menjelang tahun baru sebagian besar orang melakukan refleksi atas apa saja yang telah terjadi. Pun membuat resolusi, apa-apa saja yang ingin dicapai, diraih, dan dilakukan. Menurutku itu lebih baik, dibanding sekadar merayakannya di luar tempat tinggal, bermacet-macetan dengan kendaraan lain demi mengejar momentum pergantian tahun. 

Jika menilik ke belakang, dari tanggal 1 Januari hingga detik ini banyak sekali kejadian yang tidak terduga di hidupku. Kejadian-kejadian yang memberi banyak pelajaran bagiku. Dua bulan pertama, aku tidak pernah menyangka jika aku akan melakukan pemeriksaan endoskopi dan rontgen leher. Pemeriksaan-pemeriksaan yang berujung pada kontrol rutin setiap satu bulan sekali. Dari kejadian itu, aku percaya bahwa sakit merupakan nikmat yang digariskan oleh Allah. Sekaligus menjadi pengingat diri untuk terus menjaga kesehatan dan gaya hidup yang baik. Pun untuk mensyukuri segala nikmat sehat yang seringkali kuabaikan. Ketika diberi nikmat sakit, aku juga belajar lebih banyak tentang penerimaan diri. Bagaimana diri dapat menerima keadaan yang kurang menyenangkan.

Di tahun 2017 kemarin aku juga belajar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam urusan akademisku. Belajar untuk tidak terlalu ambisius, terlebih ketika usaha yang dilakukan nol besar. Belajar untuk terus berusaha meski tidak tahu aral yang akan menghadang. Belajar untuk berlapang dada dan menerima takdir ketika apa yang telah direncanakan tidak sesuai harapan. Pun belajar untuk merunduk ketika menikmati manisnya hasil kerja keras kita.

Selain aspek akademik dan kesehatan, secara keseluruhan tahun 2017 kemarin mengingatkanku untuk bersyukur. Baik nikmat finansial yang seringkali tidak terduga arah datangnya maupun nikmat-nikmat lainnya yang terasa indah sekali ketika terjadi. Seperti dipertemukan dengan orang-orang baik, orang-orang keren, orang-orang yang membuatku berkaca Pun harus banyak belajar. Belajar istiqomah dalam memperbaiki diri. Belajar untuk lebih tegas dalam hal-hal prinsipil. Belajar untuk lebih sering beristighfar. Belajar untuk lebih memahami orang lain, terutama orang tua sendiri. Dan belajar untuk terus mempelajari ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu dunia. 

Sementara resolusi di tahun 2018 ini tidak jauh-jauh dari refleksi yang telah kulakukan. Aku ingin istiqomah dalam berhijrah, dalam memperbaiki diri. Aku ingin lebih dan lebih dapat mandiri secara finansial. Aku ingin lebih patuh dan lebih bisa membahagiakan orang tua. Aku ingin menyempurnakan separuh agama. Aku ingin banyak membaca dan menulis. That's why aku ingin membuat jurnal 365 hari seperti Fiersa Besari. Aku ingin lebih sehat dibanding tahun kemarin. Dan keinginan-keinginan lainnya yang belum terbesit untuk kulakukan. Semoga apapun itu, dapat kulakukan dengan lebih baik dibanding tahun kemarin. Semoga.   

Share this:

0 comments:

Post a Comment