Subjektivitas dan Empati dalam Menulis


Hari ke #28


Selalu mendapat hal baru dan diingatkan kembali tentang berbagai hal ketika mendengarkan orang lain. Entah dalam bentuk obrolan santai atau "obrolan" serius bernama kajian. Seperti hari ini, ketika di Katakan Cinta-nya FLP Yogyakarta, aku diingatkan kembali untuk tidak hanya menulis sesuatu yang melulu tentang "aku". Sesuatu yang terlihat begitu egosentris. Terlebih ketika dalam tulisan kita terdapat orang-orang di luar kita. Namun, ketika menuliskan tentang mereka, kita hanya melihat dari sisi kita. Tanpa melihat dari sisi mereka, yang jelas lebih akurat. Sehingga kita kehilangan rasa empati kepada orang lain. 

Tiba-tiba aku merasa tersindir. Sebab aku merasa seperti. Dan seorang kawan pun pernah berkomentar mengenai cerita pendek yang pernah kutulis. Dia bilang kalau cerita pendekku terlalu "ke-aku-an". Dan ya, setelah kupikir-kupikir pendapatnya memang benar. Sebab ketika menulis sesuatu pasti akan sulit untuk melepaskan subjektivitas diri kita. Apalagi ketika menulis fiksi, entah dalam bentuk apapun. Ketika menuliskannya ingin sekali menumpahkan seluruh perasaan, tetapi kita memproyeksikannya dengan tokoh yang kita buat. 

Memang tidak mudah untuk menuliskan sesuatu yang tidak melulu dari sudut pandang "aku". Sang pemateri--yang juga senior di FLP Yogyakarta dan bos di kantor--pun mengiyakan. Beliau menuturkan bahwa ada beberapa cara untuk mengurangi subjektivitas tersebut, yaitu riset dan banyak membaca. Sebab semakin banyak membaca, semakin banyak juga yang kita tahu dan nantinya banyak hal yang bisa dituliskan. Namun, langkah terpenting dari itu semua yaitu kita harus keluar dari kotak ke-aku-an kita. Sebab ketika asyik dengan dunia kita, kita hanya memandang dari satu sisi kehidupan. Enggan untuk bergerak, melihat dan merasakan apa yang orang lain alami. Sebab kita perlu memandang dari berbagai sisi ketika melakukan sebuah kebaikan.

Share this:

0 comments:

Post a Comment