Gemar Membaca Sedari Kecil


Hari ke #7

Aku selalu merasa senang sekaligus takjub ketika melihat anak-anak antusias akan buku-buku yang ada di kantor. Berbinar-binar ketika melihat satu rak ke rak lain. Antusias ketika menemukan judul yang ingin dibaca, serasa melihat mainan baru. Dan duduk tenang sambil membaca buku. Meski terlihat sepele, tetapi hal itu tidak mudah dilakukan anak--barang sekejap saja. Seperti hari ini, ketika ada seorang ibu muda dan anaknya yang datang ke kantor langsung ingin mendaftar menjadi anggota perpustakaannya. Setelah bertanya-tanya perihal keanggotaan perpustakaan, sang ibu tertarik untuk mendaftar. Mereka melihat-lihat buku-buku yang ada di kantor. Sang anak dengan sigap mengambil sebuah buku serial Charlie and Lola dan segera membacanya. Sesekali sang ibu mengulang kembali halaman per halaman isi buku tersebut kepada sang anak. Sungguh pemandangan yang indah. 

Pernah suatu hari, salah seorang orang tua murid bercerita tentang keadaan sekolah sang anak ketika di Amerika Serikat. Di sana, guru akan memberikan beberapa buah bintang jika anak mampu membaca dengan tenang selama sepuluh menit. Hal itu semakin menegaskan bahwa membuat anak tetap diam saat membaca buku itu tidak mudah. Perlu proses dan pembiasaan, terutama dari orang tua. Sayangnya, tidak semua orang tua mau untuk membiasakan sang anak membaca sedari kecil. 

Beberapa hari lalu, Bu Bos pernah bercerita soal awal mula sang anak gemar membaca. Bahkan sang anak dapat menghabiskan beberapa buku dalam sehari. Bukan sekadar buku cerita bergambar yang tebalnya hanya belasan, tetapi juga novel yang tebalnya beratus-ratus halaman. Seperti Harry Potter dan Lord of the Rings. Lebih menakjubkan lagi buku yang dibacanya bukan buku yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Melainkan masih menggunakan bahasa asli atau Bahasa Inggris. 

Bu Bos bercerita kalau kala itu sang anak masih kecil, mungkin di bawah lima tahun--beliau tidak menyebutkan usia sang anak berapa. Ketika pergi ke swalayan, beliau sering memberikan buku kepada sang anak agar tidak rewel. Meski saat itu, sang anak belum memahami isi buku yang diberikan oleh sang ibu, tetapi beliau terus memberikannya. Lambat laun hal itu justru  menumbuhkan kesukaan sang anak terhadap membaca. Terlebih ketika sang anak telah bertambah usia dan vocabulary-nya. Yang awalnya hanya "dicekoki" oleh beliau, lama kelamaan menjadi kebiasaan. Tanpa dipaksa pun akan membaca buku dengan sendirinya. Bahkan beliau mengaku kalau ada dua lemari di rumahnya yang isinya buku milik sang anak. Ketika mendengar itu, aku tidak henti berdecak kagum. Serasa diri ini kalah dengan anak usia delapan tahun. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas buku yang dibacanya. 

Share this:

0 comments:

Post a Comment