The Greatest Showman: Tentang Cinta, Karir, dan Perbedaan


Hari ke #2

Judul : The Greatest Showman
Pemain : Hugh Jackman, Zac Efron, Michelle Williams, Rebecca Ferguson, Zendaya 
Genre : Drama Musikal
Sutradara : Michael Gracey
Tanggal Rilis : 20 Desember 2017
Durasi : 105 menit
Produksi : TSG Entertainment


"Kau tidak perlu membuat semua orang mencintaimu, Phineas. Cukup beberapa orang baik."-Charity
Di bulan Desember kemarin banyak sekali film-film baru yang tayang di bioskop. Berbagai genre ditawarkan sang pembuat film. Dari drama hingga komedi. Dari kisah yang bahagia hingga kisah yang menyedihkan. Salah satunya film The Greatest Showman yang tayang sejak 20 Desember lalu. 

The Greatest Showman mengisahkan Barnum, seorang anak penjahit yang menyukai Charity, seorang perempuan yang berasal dari kalangan menengah atas. Perbedaan kelas sosial itu seakan menjadi jurang pemisah di antara mereka. Ayah Charity berusaha memisahkan mereka dengan cara menyekolahkan Charity ke tempat yang tidak dapat dijangkau Barnum. Mereka pun hanya dapat berkomunikasi melalui surat yang dikirimkan kurir.

Ketika beranjak dewasa, Barnum kembali ke rumah Charity untuk melamar gadis tersebut. Kepada sang ayah, Barnum berjanji untuk memberikan kebahagiaan kepada Charity. Apalagi saat itu dia bekerja di sebuah perusahaan di bidang perkapalan. Sayangnya pekerjaan tersebut tidak bertahan lama karena perusahaan itu mengalami kebangkrutan setelah seluruh kapalnya tenggelam. Barnum pun pulang dalam perasaan sedih, takut sang istri dan kedua putrinya, Caroline dan Helen kecewa terhadap dirinya.

Hari-hari berikutnya Barnum memikirkan berbagai cara untuk menghidupi keluarganya. Dia pun teringat akan akta kapal yang dimiliknya. Tak perlu menunggu lama untuk berpikir, dia mendatangi bank untuk meminjam sejumlah uang dengan menyertakan akta tersebut sebagai jaminan. Setelah itu, dia mendirikan Barnum's American Museum. Beberapa hari setelah grand opening, musem tersebut selalu sepi, jarang sekali orang yang berkunjung ke museumnya. Di tengah kelelahannya melakukan promosi, sang anak menyarankan untuk "memajang" sesuatu yang lebih hidup dan lebih sensasional di museumnya. 

Tiba-tiba saja muncul ide dalam pikiran Barnum untuk mencari "orang aneh" dan mengajaknya bekerja bersamanya. Di luar dugaan, ternyata banyak "orang aneh" yang mendaftar. Dari yang memiliki kekurangan secara fisik hingga yang berasal dari kelas bawah. Namun, di balik kekurangan tersebut, Barnum melihat mereka memiliki bakat terpendam yang terpendam. Dia berusaha meyakinkan mereka untuk "keluar dari kegelapan", keluar dari bayang-bayang kekurangan mereka. Dari bisnis "museum" tersebut lah dia bertemu kritikus teater yang memberinya ide untuk mengubah nama Barnum's American Museum menjadi Barnum's Circus. Bertemu dengan orang-orang yang menentang pertunjukan sirkusnya. Bertemu dengan Phillip Carlyle dan Jenny Lind yang semakin mengubah karir di dunia bisnisnya.

Secara keseluruhan, film The Greatest Showman ini memiliki banyak pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Tentang kisah cinta yang seringkali tidak direstui karena adanya perbedaan, salah satunya perbedaan kelas sosial. Seperti kisah cinta Barnum-Charity dan Phillip-Anne yang ditentang oleh salah satu pihak orang tua mereka karena perbedaan kelas sosial. Tentang mimpi yang harus dikejar dan diwujudkan. Tentang ketenaran yang seringkali membutakan mata batin kita. Sepanjang film diputar, aku jadi teringat akan mimpi-mimpiku yang belum diwujudkan, yang saat ini hanya terukir dalam catatan. 

Film ini membuatku berpikir akan arti dari kesuksesan, akan arti dari tujuan hidup. Pun dengan kesuksesan dan ketenaran Barnum, seolah mengingatkanku bahwa segala usaha yang kita lakukan untuk mencapai kesuksesan itu bertujuan untuk apa, untuk siapa. Bahwa manusia seringkali tidak puas dengan segala yang dimiliki, ingin sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Bahwa setelah kita mencapai kesuksesan dan ketenaran tersebut, kita seringkali lupa bahwa hal tersebut kita lakukan untuk orang terkasih. Namun, usaha kita tersebut membuat kita terlampau sibuk hingga melupakan mereka. Seperti halnya keadaan banyak keluarga yang serasa kehilangan sosok suami/ayah karena kesibukan dalam bekerja. Film ini juga mengingatkan kita untuk tidak merasa inferior akan kekurangan yang dimiliki. Pun jangan memandang sebelah mata orang lain yang memiliki kekurangan.

Seperti halnya drama musikal lainnya, film The Greatest Showman ini banyak menyuguhkan nyanyian dan tarian. Tiap adegan berganti selalu diwarnai dengan lagu. Pun dialognya banyak yang disenandungkan. Serasa menonton konser ketika menonton film ini. Beberapa kali  aku nyinyir, "dikit dikit nyanyi, dikit dikit nyanyi." Namun, pikiran tersebut selalu lenyap ketika mendengar lagu yang dinyanyikan para pemain. Lagu yang bagus, baik dari segi lirik dan musiknya. Bahkan usai keluar dari bioskop, ingin bergegas pulang untuk mendengar ulang lagu-lagu tersebut.

Sumber gambar: http://schmoesknow.com

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. Ini berarti kali kedua Hugh Jackman maen di film musikal setelah Les Misserable. CMMIW. Dan sepertinya bagus. Nonton, ah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, aku belum pernah nonton Les Miserable malah, hehe. Yang sama Anne Hathaway itu kan?

      Delete
  2. Kayaknya banyak yang suka ya sama film ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, soalnya cerita bagus dan seru, serasa nonton konser, wkwk

      Delete