Pemeriksaan Pertama di Puskesmas



Hari ke #320

Jumat dan Sabtu lalu kami pergi ke Puskesmas yang tidak jauh dari kontrakan. Datang satu setengah jam dari jam terakhir pendaftaran membuatku gugup. Takut jika ternyata akan ditolak seperti Sabtu pekan-pekan lalu. Setelah bertanya ke petugas pendaftaran, alhamdulillah kami masih bisa mendaftar dan mendapat nomor urut 86. Satu jam lebih menunggu, nomor pendaftaran kami belum kunjung dipanggil. Hingga beberapa menit sebelum jam 10.30, jam terakhir pendaftaran, nomor kami pun dipanggil petugas. Di bagian pendaftaran itu, kami ditanyai beberapa hal. Setelahnya, baru mereka memberi kartu periksa kepada kami. Aku cukup terkejut ketika nama Mas yang tercantum di kartu. "Ini tidak salah Pak?" Petugas pendaftaran menggeleng, dan aku baru tahu dari temanku kalau nama yang ada di kartu periksa itu memang nama suami atau nama kepala keluarga. Aku sangat senang karena berhasil pendaftaran dan tidak sabar untuk mendapatkan biskuit dari Puskesmas seperti yang pernah diceritakan seorang kawan yang berprofesi sebagai dokter. 

Usai mendapatkan kartu periksa dan mendapat nomor pendaftaran di poliklinik KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), kami pun harus menunggu lagi. Berbelas menit menunggu, rasa takutku muncul kembali karena sebentar lagi waktunya Mas untuk salat Jumat. Namun, alhamdulillah, jam 11 nomor urut kami pun dipanggil petugas. Aku masuk ke dalam ruangan, sementara Mas menunggu di luar. Kupikir saat itu, sudah tidak perlu lagi kembali lagi ke Puskesmas. Ternyata aku salah. Begitu aku duduk di depan meja bidan, Beliau mengatakan kalau harus melakukan pemeriksaan terpadu yang lengkap, seperti cek darah, ke poliklinik gigi, poliknik gizi, poliklinik psikologi, dan poliklinik KIA.  Karena waktunya yang tidak mencukupi, hari itu aku cuma diperiksa di poliklinik KIA. Kabar yang menyenangkan ketika di poliklinik KIA yaitu ketika sang bidan memberi tahu tentang HPL (hari perkiraan lahir) ku. Di akhir sesi, sang bidan memberiku formulir untuk cek darah dan resep untuk menebus obat. Setelah itu, aku mematung sejenak sembari membatin, "mana biskuitnya?" Sampai aku dipersilakan keluar ruangan, biskuit itu tidak kunjung diberikan. Ingin kutanyakan kepada sang bidan, tetapi kuurungkan.

Sabtu keesokan harinya, kami kembali lagi ke Puskesmas. Kali ini kami datang lebih awal dan tentunya mendapat nomor urut lebih awal dari kemarin, yaitu 64. Hanya menunggu belasan menit, nomor kami pun dipanggil. Seperti kemarin, kami kembali mendapat nomor urut di poliklinik yang kami tuju, kali ini kami mendapat dua nomor urut lagi, yaitu di laboratorium dan di poliklinik KIA. Di bagian laboratorium, darahku diambil untuk dicek apa saja yang dicentang di formulir. Sekitar lima belas menit kemudian, hasil cek laboratoriumnya pun keluar. Tepat beberapa menit setelahnya, nomor urutku di poliklinik KIA pun dipanggil. Di sana, hasil cek laboratoriumku hanya dilihat sekilas oleh bidan kemudian aku dirujuk ke poliklinik gigi. Hanya belasan menit aku di poliklinik gigi, hanya dicek kondisi gigiku dan diberi saran untuk melakukan beberapa tindakan untuk mengatasi permasalahan di gigiku. Dari poliklinik gigi, kami kembali beranjak menuju poliklinik gizi. Sebelum masuk ruangan, aku mewanti-wanti Mas untuk harus masuk ke dalam. Tujuannya agar Mas pun tahu makanan dan minuman yang harus kukonsumsi selama hamil. Di sana, sang ahli gizi menjelaskan porsi dan jenis makanan atau minuman yang perlu dan yang tidak perlu atau dikurangi untuk dikonsumsi. Ternyata makanan dan minuman yang perlu dikurangi atau tidak perlu dikonsumsi hampir mirip dengan pantanganku ketika gastritisku masih sering kambuh.

Setelah beranjak dari satu poliklinik ke poliklinik lainnya, kami pun kembali lagi ke poliklinik KIA. Aku diperiksa dan berkonsultasi tentang kondisi yang kualami selama hamil. Selain itu, sang bidan memberiku sebuah buku KIA plus stiker perencanaan persalinan. Rasanya begitu merinding ketika Beliau memberikan buku tersebut. Batinku, "gak nyangka bentar lagi aku akan menjadi ibu." Meski di sisi lain merasa belum siap dan belum pantas menjadi seorang ibu. Setelah membuka-buka buku KIA, ternyata isi buku tidak hanya tentang pengecekan kandungan selama kehamilan. Namun, juga dapat digunakan ketika sang anak sudah lahir. Bukan hanya itu, di buku ini juga ada banyak informasi tentang kesehatan selama kehamilan, persalinan, dan ketika sang anak sudah lahir.

Lagi-lagi, aku tidak diberikan biskuit Puskesmas seperti yang dikatakan kawanku. Mungkin aku terlalu berharap karena mungkin saja biskuit tersebut tidak diberikan di semua Puskesmas. Namun, banyak hal yang membuatku sangat mengapresiasi pelayanan dan prosedur di Puskesmas. Seperti pemeriksaan di bagian laboratorium, poliklinik KIA, poliklinik gigi, poliklinik gizi, dan poliklinik psikologi ketika baru pertama kali melakukan pemeriksaan kandungan, apalagi di bulan-bulan awal. Menurutku, pemeriksaan di berbagai poliklinik tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah dan pihak Puskesmas begitu memerhatikan kesehatan calon ibu dan calon anak yang dikandungnya. Bukan hanya satu aspek yang diperhatikan tetapi aspek lainnya juga diperhatikan, seperti gigi, gizi, dan kondisi psikis. Meski kemarin belum sempat ke poliklinik psikologi karena di sana psikolognya hanya ada satu dan Beliau sedang banyak kegiatan penyuluhan terutama di akhir pekan. Terlepas dari hal tersebut, prosedur lainnya sudah cukup baik. Apalagi dengan adanya pemberian buku KIA dan stiker perencanaan persalinan. Calon ibu menjadi tahu perkembangan selama hamil, pun perkembangan sang anak ketika sudah dilahirkan nanti. Selain itu, stiker perencanaan persalinan memiliki banyak manfaat yang baru kuketahui. Bukan hanya untuk merencanakan di mana kita akan bersalin, tetapi juga agar tetangga yang ada di sekitar rumah tahu bahwa ada ibu hamil di rumah tersebut dengan hanya melihat stiker tersebut yang tertempel di depan rumah. Dengan demikian ketika sang ibu hamil sedang di rumah sendirian dan qadarallah mengalami suatu musibah, tetangga sekitar bisa membantu.

No comments:

Powered by Blogger.