Menemani Berdakwah Part 2



Hari ke #233

Seperti judul bukunya Ustadz Salim A. Fillah, jalan dakwah memang berliku. Se-berliku makna harfiah jalan yang kami lewati tadi malam. Menanjak curam, berkelok tajam. Merasa hampir sampai, ternyata masih ada tanjakan. Merasa hampir sampai, ternyata masih ada kelokan. Salut sekali dengan warga daerah tersebut yang setiap harinya harus menempuh medan yang seperti itu.

Sesampainya di tempat acara, ternyata sudah banyak warga yang datang. Beberapa terlihat menyesap teh hangat, beberapa terlihat menyantap snack yang dibagikan. Kami mengangguk, menyapa canggung warga yang datang. Aku merangsek ke barisan wanita, Mas melangkah maju ke saf paling depan, menghadapku dan warga lainnya. Sesekali aku mengamati sekitar. Beberapa warga terlihat mendengarkan Mas, beberapa terlihat berbincang dengan sebelahnya, beberapa lagi terlihat terkantuk--bersandar ke tembok. "Kita harus punya prinsip, tapi jangan cela yang lain," ujar Mas ketika membahas tentang perbedaan waktu Iduladha ini yang dilaksanakan kemarin dan hari ini.

Hampir satu jam Mas mengisi. Begitu menuruni anak tangga masjid menuju tempat parkir, aku terkagum dengan pemandangan di sekitar. Ternyata kami berada di tempat yang tinggi. Lampu-lampu terlihat berkelip di bawah sana. Sebuah pemandangan yang biasanya terlihat ketika di atas gunung atau bukit. Begitu sampai di tempat parkir, kami tidak langsung pulang. Mas mengajak para panitia berbincang. Aku jadi teringat perkataan Mas selepas acara tirakatan lalu. Bahwa Mas tipikal orang yang tidak langsung pulang selepas mengisi acara, tetapi berbincang sejenak dengan panitia maupun warga. Kata Mas, itu merupakan salah satu cara untuk dekat dengan masyarakat. Pun untuk menyambung tali silaturahmi.

No comments:

Powered by Blogger.