Dua Surat Budi

Monday, January 25, 2021



Budi adalah seorang guru teladan di sebuah sekolah. Beban kerjanya, seringkali tidak sebanding dengan gaji yang didapat. Gelar master yang disandangnya membuat dia seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi sang kepala sekolah. Meski dirinya menyadari itu, tetapi dia tetap melakukannya. "Itung-itung nolongin orang," kata Budi setiap kali ditanyai oleh teman-temannya yang geregetan dia tetap mau disuruh-suruh.

Hingga suatu hari, Budi baru saja sampai di sekolah usai sepekan cuti kerja untuk menemani sang ibu yang sedang sakit. "Bud, ini ada surat untukmu," ujar Fatih, rekan kerjanya. Budi mengernyitkan alis. Kebingungan.

Ternyata Budi mendapat surat dari kepala sekolah. Perlahan dia membuka surat tersebut dan membaca isinya dengan saksama. Setiap kata yang tertulis di surat tersebut, dia baca dengan cermat. Usai membacanya, wajah Budi tampak kebingungan. Banyak pertanyaan yang tergambar dari wajahnya.

Sepulang mengajar, Budi tidak langsung pulang. Dia justru berputar arah menuju kantor dinas pendidikan.

"Begini Pak, tadi saya mendapatkan surat peringatan, padahal saya merasa tidak melakukan itu," ujar Budi sembari mengeluarkan surat peringatan.

Bapak kepala kantor dinas pendidikan pun membaca surat itu dengan cermat. Sesekali Beliau menggelengkan kepalanya.

"Jadi, kamu mau tetap di situ atau bagaimana?" Beliau langsung memberi pilihan.

"Kalau sudah diberi surat peringatan itu, sepertinya itu pertanda saya harus mengundurkan diri." Budi mengucapkan itu dengan berat hati, meski dirinya tahu bahwa lingkungan kerjanya tidaklah bagus untuknya. Dia pun teringat kembali tugas-tugas di luar kerjaan utamanya yang sering dibawanya pulang.

"Kalau begitu, saya pindah tugaskan bagaimana? Dinas masih membutuhkan tenagamu sebagai guru." Sang kepala kantor dinas mengatakan hal tersebut dengan penuh harapan.

"Boleh Pak." Senyum sumringah terpancar dari wajahnya. Bayangan kebebasan pun mulai terlihat.

Keesokan harinya, ruang guru terlihat begitu ramai. Pagi-pagi sekali hampir semua rekan gurunya sudah berkutat dengan laptopnya. Budi baru ingat kalau sebentar lagi penerimaan rapor murid-muridnya. Syukurnya, dia bukan wali kelas sehingga tugasnya hanya menyetor nilai mata pelajaran yang diampunya.

"Bu Ani, aku mau cerita."

"Gimana Pak?" tanya Bu Ani, rekan guru yang sering bekerja sama dengannya, sembari tetap menatap layar laptop.

"Hari ini aku mau resign, Bu."

Mendengar itu, Bu Ani segera menghentikan aktivitasnya, lalu menengok ke arah Budi. "Kowe (kamu) halu, Pak," kata Bu Ani sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa rekan gurunya sedang bicara ngawur.

Siang harinya, Budi memberanikan diri melangkahkan kaki menuju ruang kepala sekolah.

Tok tok tok.

"Ya, silakan masuk." Suara bapak kepala sekolah terdengar dari ruangannya.

Dengan setengah membungkuk, Budi pun masuk ke ruangan tersebut.

"Begini Pak, saya mau mengundurkan diri. Ini suratnya," ujar Budi tanpa basa-basi.

"Iya, saya sudah tahu semuanya."

"Alhamdulillah kalau bapak sudah tahu. Berarti saya tidak perlu menjelaskan lagi."

Budi menunggu beberapa saat, tetapi ternyata tidak ada kalimat berupa wejangan bijak dari sang kepala sekolah. Akhirnya dia pun pamit. Beranjak dari ruangan tersebut dan kembali ke ruang guru.

Ketika di ruang guru, Budi berpamitan kepada rekan guru yang ada di sana. Serempak mereka semua kaget ketika mengetahui dirinya resign.

Sebelum menuju rumah, Budi mampir ke Alfamart. Dia menaruh dua bungkus spageti lengkap dengan bumbunya, sabun cuci muka, sampo, gula, snack ke dalam keranjang. Rencananya malam nanti dia akan membuat spageti sebagai reward untuk dirinya. Setelah semua barang sudah terambil, dia pun melangkah menuju kasir.

"Cuma ini aja ya Kak?" tanya Mbak kasir Alfamart. Aku mengangguk sembari mengingat kembali barang-barang yang harus kubeli.

Mbak kasir Alfamart tersebut begitu cekatan dalam melayani pembeli seperti Budi. Tidak lama kemudian, Mbak kasir Alfamart tersebut menyebutkan nominal yang harus dibayar. Budi segera memberikan sejumlah uang.

"Uangnya pas ya Kak. Terima kasih," ujar Mbak kasir Alfamart sambil memberikan barang belanjaan kepada Budi.

Sepanjang perjalanan menuju pulang, Budi merasa begitu lega. Beban dalam hidupnya seperti berkurang satu. Pundak dan pikirannya terasa lebih enteng dalam memandang langkah baru selanjutnya.

Semoga di tempat yang baru bisa lebih baik, batinnya.

No comments:

Powered by Blogger.