Sebuah Notula: Mereposisi Alquran di Kehidupan Kita

Wednesday, October 03, 2018


Hari ke #276

Mungkin Senin kemarin Jelajah Pustaka-nya @perpustakaanbaitulhikmah yang tidak spesifik membedah satu judul buku. Bertemakan "Reposisi Alquran dalam Kehidupan", membuat materi di Jelajah Pustaka tidak kehilangan esensinya. Bahkan terasa sangat bermanfaat karena "buku" yang dibedah merupakan "buku petunjuk" bagi umat Islam, yaitu Alquran.

Mungkin karena tema itulah, perpus begitu sesak oleh para sahabat Baitul Hikmah. Kalau biasanya kaum lelaki yang mendominasi kajian, kemarin giliran kaum perempuan yang mendominasi. Mungkin juga karena efek sang pembicara, mbak Tika Faiza, yang seorang perempuan.

Sebelum memasuki materi, mbak Iza menyampaikan sebuah ayat yang memiliki arti bahwa di hari kebangkitan nanti, kita akan dibangkitkan sesuai dengan komunitas yang paling sering kita datangi ketika di dunia. Untuk itu, perbanyaklah berinteraksi dengan komunitas kebaikan selama kita masih hidup di dunia ini. Salah satu ciri komunitas kebaikan dapat dilihat dari interaksinya dengan Alquran.

Memasuki materi kajian, mbak Iza mengawalinya dengan problematika umat saat ini. Orang-orang sekarang begitu berbeda dengan para sahabat Rasulullah SAW dan orang-orang terdahulu dalam memaknai hari kiamat. Dalam Alquran, ada begitu banyak surat yang bercerita tentang hari kiamat, yang semua nama suratnya berakhiran dengan huruf ة (ta marbutah). Orang-orang dulu akan meneteskan air mata ketika mendengar surat-surat tentang kiamat. Berbeda dengan orang-orang sekarang yang merasa "biasa saja", bahkan lebih sering meneteskan air mata ketika membaca sebuah novel.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pertama, merasa cukup karena sudah tilawah 1 juz atau 2 juz dalam satu hari. Padahal kebanyakan orang hanya membaca, tanpa benar-benar menilawahi Alquran. Sebab, makna tilawah itu sangatlah berat, bukan sekadar membaca Alquran. Namun, memahami isi ayat yang kita baca lalu mengamalkannya di kehidupan. Jika "sekadar" membaca dan menghafalkan Alquran tanpa memahami isinya, itu bukanlah sesuatu yang berat. Apalagi jika dibandingkan dengan aktivitas membaca atau menghafalkan Alquran sekaligus memahami dan mengamalkan isi dalam Alquran. Tidak heran jika ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang enggan berpindah menghafalkan ayat lain jika belum mengamalkan ayat yang baru saja dihafalnya.

Kedua, terdistraksi dengan kehidupan modern. Sehingga kurang memahami peran yang sebenarnya di dunia. Menganggap peran-peran di organisasi, perusahaan, atau keluarga sebagai sesuatu yang sangat penting. Padahal peran-peran tersebut, suatu saat nanti akan terganti. Dan peran kita yang abadi adalah peran sebagai hamba Allah. Sebuah peran yang memahamkan kita bahwa seluruh hamba akan mati, termasuk malaikat maut. Ketika menyadari akan hal tersebut, semakin paham siapa Tuhan kita. Pun semakin paham akan amalan-amalan apa yang patut dilakukan seorang hamba. Salah satunya dekat dengan Alquran, membaca, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan isinya. Sebab, ketika seseorang jauh dari Alquran, dia juga jauh dari hidayah. Apalagi Alquran seluruh isinya itu hidayah.

Jika tidak mengikuti petunjuk Alquran, tentu kita akan tersesat. Bahkan surat Al-Fatihah, surat pertama dalam Alquran itu berisi tentang doa meminta hidayah اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (tunjukilah kami jalan yang lurus). Ketika kita memutuskan untuk dekat dengan Alquran, maka kebaikan akan terus mengalir. Bahkan dalam surat Al-Furqon ayat 27-30 diceritakan bahwa ada sebagian orang yang bukan golongan Rasulullah SAW merasa menyesal tidak mengikuti Beliau, tidak mengikuti Alquran yang diwahyukan kepada Beliau. Dengan demikian, selama kita masih hidup, dekatlah dengan orang-orang baik, yang membuat kita semakin dekat dengan Alquran. Terlebih, peluang untuk dekat dengan Alquran itu terbuka bagi siapapun.

No comments:

Powered by Blogger.