Takdir dan Berbagai Pertanyaan (2)



Apakah kamu percaya takdir? Seharusnya sih iya. Sebab takdir merupakan salah satu dari 6 rukun iman yang harus diimani. Takdir. Kelahiran dan kematian. Kita tidak pernah dapat menentukan kapan kita lahir, bagaimana kita dilahirkan, di keluarga mana kita nanti diasuh, dan bagaimana pengasuhan yang nantinya diberikan orangtua kepada kita. Perihal kematian pun begitu. Tidak ada yang tahu bagaimana kapan kematian datang dan bagaimana keadaan kita nanti saat kematian menghampiri. Namun, semua hal tersebut bergantung pada usaha kita mempersiapkan diri saat kematian menghampiri. "...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (Q.S. Ar-Rad ayat 11)

Takdir itu sesimpel kita ingin menghadiri suatu acara dengan menggunakan bus. Berjam-jam kita menunggu di halte, bus yang akan kita naiki tidak kunjung datang. Sekalinya datang busnya selalu penuh, hanya mampu mengangkut satu sampai dua orang. Dan tidak terasa acara yang akan ingin kita hadiri sudah mulai dari satu jam yang lalu. Apakah kamu akan memaksakan diri untuk tetap menunggu? Sekalipun kamu tahu peluangmu sangat sedikit, sementara acara itu satu jam berikutnya akan segera selesai. Ya, bagiku takdir sesimpel itu, berarti memang kita tidak ditakdirkan untuk menghadiri acara tersebut. 

Membicarakan takdir, saat berada di titik terendah, berbagai pertanyaan terkait takdir hidupku tanpa ampun mengusik pikiranku. Mengapa segala penyakit bermunculan menghampiriku ketika aku memasuki tahun terakhir kuliah? Mengapa segala pola hidupku yang kurang sehat harus kuterima akibatnya sekarang? Hingga mengharuskanku untuk rutin kontrol dokter, rutin minum obat, menghindari berbagai makanan dan minuman, serta benar-benar menjaga pola makan dan tidur. Perut harus terus diisi, tidak boleh langsung gerak setelah makan, tidak boleh begadang, dan lainnya. Bahkan aku diharuskan untuk mengatur stres dan rasa cemasku. 

Di satu titik tertentu, saat pikiran dan perasaan positif yang menyelimuti. Aku dapat dengan mudah menerima semuanya, menerima takdir yang menghampiri. Sekaligus dapat mengambil hikmah dari semuanya, harus bersabar dan bersyukur. Mohon bersabar, ini ujian, candaan yang belakangan dilontarkan kebanyakan orang sesungguhnya jika dibaca serius memiliki makna yang mendalam. Bahwa kuncinya memang harus sabar. Bahwa memang ini ujian yang harus kuhadapi, menguji iman, menguji kesabaran, menguji kebersyukuran. Sebaliknya, saat aku berada di titik terendah, saat pikiran dan perasaan negatif yang bergantian menyelimuti. Rasanya aku ingin menyerah. Aku merasa tidak kuat. Lelah dengan rutinitas baruku beberapa bulan terakhir ini. Lelah dengan obat. Lelah dengan segala pantangan makanan atau minuman. Tersenyum kecut saat dokter mengatakan 'cuma' sebagai bentuk penghiburan, 'cuma gastritis, cuma cervicogenic psychogenic headache'. Padahal kutahu maksud para dokter baik. Pun terus mempertanyakan kapan semua ini akan berakhir, sampai kapan aku harus minum obat, sampai kapan aku harus kontrol dokter. Untungnya, saat-saat seperti itu, sisi positifku masih ada, membuatku dapat beranjak dari titik terendah walau perlahan.

Kalau kata dokter, "ini adalah sebuah perjuangan". Perjuangan mengerjakan skripsi. Perjuangan melawan penyakit. Perjuangan melawan diri sendiri. Kuncinya memang hanya bersabar tidak pernah berhenti berharap kepada Sang Pencipta, dan terus mendekat kepada-Nya. Sebab, "...dan barangsiapa yang berlaku sabar, maka Allah akan membuatnya sabar. Tiada seorang pun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (Hadits 2/26)

Share this:

0 comments:

Post a Comment