#9 Kacamata



Tema kesembilan, pekan ketiga bulan ini yaitu 'menulis apapun yang sedang ingin kamu tulis'. Jadilah aku ingin menulis tentang kacamata. 

Kacamata, bagi orang-orang yang berminus kecil, memakainya seperti bukan suatu keharusan. Terlebih bagiku yang lepas-pakai, hanya memakainya ketika naik motor atau kuliah atau sesekali di suatu kondisi saat aku harus melihat objek jauh. 

Pertama kali pakai kacamata saat aku kelas 1 SMP. Saat itu minusku baru 0,25. Hanya satu bulan aku bertahan memakai kacamata. Selebihnya kacamataku kusimpan dalam tas, bahkan lebih sering tidak membawanya. Dan saat SMP-SMA aku berkali-kali ganti kacamata karena aku malas memakainya tetapi aku merasa masih membutuhkannya. Walau sebenarnya minusku tidak beranjak dari angka 0,25. 

Baru ketika di tahun kedua kuliah, aku kembali merasa membutuhkan kacamata. Pandanganku mulai buram ketika melihat objek jauh. Setelah diperiksa minusku menjadi 0,5. Dan ya, akhirnya aku kembali mengganti kacamata. Tentu, saking sukanya dengan warna biru, aku selalu memilih warna biru untuk frame kacamataku. Namun, lagi-lagi aku hanya memakainya ketika kuliah. Di hari-hari biasa tidak pernah kupakai. Apalagi melihat dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya tidak memakai kacamata di kesehariannya padahal minusnya jauh-jauh lebih banyak dariku. Sepuluh kali lipat lebih dariku. 

Lalu usai KKN tahun kemarin, saat berniat mengganti kacamata, ternyata minusku bertambah, menjadi 0,75. Kali ini kacamata yang kupilih adalah warna hitam, warna mainstream. Hanya gagang kacamatanya yang berwarna biru donker. Dari sekian kacamata yang pernah kupunya, kacamata yang sekarang adalah kacamata yang paling kusuka. Aku merasa kacamataku seperti kacamata yang dipakai Nine (karakter dalam anime 'Zankyou no Terror) atau Takagi (karakter dalam anime 'Bakuman'). Mungkin karena warnanya yang sama-sama hitam. Dan ya, kali ini kacamataku tetap kupakai hanya saat mengendarai motor atau kuliah. Di keseharian jarang sekali kupakai. Walau sekarang ketika melihat objek jauh pandanganku mulai samar. Bahkan sering ketika ada orang yang menyapaku dari kejauhan, aku tidak langsung membalasnya. Karena aku tidak ngeh dia itu siapa saat aku tidak memakai kacamata. Aku harus mendekat kepadanya atau dia yang mendekat kepadaku untuk memastikan siapa yang menyapaku. Terkadang jadi sedih sendiri. Terkadang kepikiran buat pakai kacamata di keseharian, tapi masih merasa risih, belum nyaman untuk terus memakainya. Namun, terkadang takut juga minusku bertambah, walau sejauh ini minusku bertambahnya hanya sedikit-sedikit.


Nine
Takagi Akito

Share this:

0 comments:

Post a Comment