#5 Ada Apa dengan Skripsi?



Seminggu terakhir ini kepalaku terasa penuh sekali. Waktu seakan terus mengejarku. Tahu-tahu sudah bulan Februari. Tahu-tahu sudah tanggal 10. Lalu apa yang selama ini telah kulakukan? 

Target penyelesaian skripsi yang kubuat semakin dekat, sementara target yang lain pun hampir memasuki masa tenggat. Membuatku kebingungan saat di depan layar laptop. Membuatku kebingungan mana yang harus dikerjakan terlebih dulu. Skripsi atau hal yang lain? Dan pada akhirnya skripsi yang selalu mengalah. 

Awalnya, aku mengerutkan kening saat beberapa temanku resign dari salah satu rumah yang kutinggali atau sekadar keluar dari grup karena satu hal. Ingin fokus skripsi. Entahlah, saat itu rasanya aku ingin berkata jahat, "Masa resign gara-gara skripsi. Masa keluar grup gara-gara skripsi?" Namun, semakin ke sini, setelah tetap bertahan dengan rumah-rumah yang kutinggali di tengah skripsi, aku baru merasakan bagaimana keteterannya. 

Seminggu mengerjakan verbatim (menuliskan apa yang didengar dari rekaman wawancara), dari 90an menit, aku baru mengerjakan 23 menit. Rasanya ingin misuh, rasanya ingin terus mengeluh. Ini kok tidak selesai-selesai? Ini kapan selesainya? Apalagi saat semua hal terpikirkan dalam satu waktu, otak ini benar-benar terasa penuh. Bahkan seringkali tiba-tiba merasa insecure, ingin bergegas pulang. 

Ingin rasanya seperti Raib yang dapat menghilang. Ingin rasanya memiliki jubah yang dimiliki Harry Potter agar tidak terlihat. Ingin rasanya mengasingkan diri sampai urusan skripsi ini selesai. Namun, semua itu tidak mungkin dilakukan. Tidak mungkin tiba-tiba aku lari dari tanggung jawab, meninggalkan rumah-rumahku walau sejenak. Bahkan saat Ibu menyuruhku untuk berhenti menulis (di luar skripsi) sampai skripsiku selesai, aku hanya bisa cengengesan. 

Tidak mungkin menyalahkan rumah-rumah yang kupilih untuk tetap bertahan di tengah skripsi. Karena aku sendiri yang memilih untuk tetap di sana, mengambil segala risiko. Dan sudah seharusnya mempertanggungjawabkannya. Mau menyalahkan diri sendiri juga percuma, malah nantinya membuat diri ini semakin inferior dan demotivasi. Kata Moritaka, "If it's something you decide for yourself, you'll never truly regret it." Ya, seharusnya aku tidak pernah menyesal, seharusnya aku tidak pernah mengeluh dengan semua keputusan yang kuambil. Dengan rumah-rumah yang tetap kutinggali, dengan tema dan metode penelitian skripsi yang kuambil. Mengeluh, mengeluh, dan terus mengeluh tidak akan membuatnya menjadi lebih baik, kan? 

Share this:

0 comments:

Post a Comment