#11 Percakapan Terakhir



Malammu jadi persinggahan terakhir bagi semua kawanan rindu yang telah lelah menggapai-gapai apa yang tak tergapai. 

Malam kesekian, tetapi masih teringat jelas dalam memoriku. Kalimat terakhir yang kamu ucapkan dalam percakapan terakhir yang kita lakukan usai mendaki Merbabu. Sebuah percakapan terakhir yang sungguh-sungguh berakhir menyedihkan. 

Malam itu konsentrasiku buyar, aku tidak dapat mencerna susunan kalimatmu yang selalu terdengar indah. Malam itu aku sungguh tidak mengerti apa yang kamu maksud. Entah kalimat rayuan atau sindiran. Malam itu aku hanya tahu kalau aku begitu ragu. Malam itu otakku sedang bekerja, merangkai kata yang pas. 

Malam itu, setelah kalimat terakhir yang kamu ucapkan, hanya keheningan yang menyertai kita. Kamu tidak menagih tanggapanku. Sementara aku, aku masih belum menemukan kalimat yang pas. 

"A--aku..."

Aku menunduk saat terbata mengatakan itu. Walau kutahu kamu mengangkat kepalamu, membuatku semakin terlihat kecil saat berhadapan denganmu. 

Perlahan aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku. Senyum simpulmu yang pertama kali kulihat membuatku semakin ragu untuk mengatakannya. Namun, hatiku begitu sesak. Sesak oleh ketidakjelasan. Sesak oleh kemunafikan. 

"Sebelumnya aku minta maaf."

Kulihat kamu mengangkat sebelah alismu. "Untuk?"

"Aku minta maaf. Aku tidak ingin kamu menghubungiku lagi. Aku tidak ingin kamu mengajakku ke manapun kamu suka di saat kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku begitu tersiksa setiap kali kamu datang di saat aku ingin kembali menatap prinsipku. Walau tidak dapat kupungkiri, aku menikmati setiap momen yang kita lalui. Namun, hatiku selalu bertentangan. Jadi, kumohon, jangan hubungi aku lagi. Dan pendakian Merbabu selama dua hari kemarin menjadi pendakian terakhir yang kita lalui bersama. Tidak akan ada pendakian lainnya. Tidak akan ada perjalanan lainnya."

Aku berkali-kali menghela napas untuk menyelesaikan setiap kalimat yang ingin kusampaikan kepadamu. Aku mendongak. Raut wajahmu terlihat begitu datar. Berbeda jauh saat kita di Merbabu kemarin bersama kawan-kawan lainnya. 

"Maaf," kataku sekali lagi. 

Kamu tersenyum datar. "Baiklah." Hanya itu kata yang kamu utarakan, tidak ada yang lain. Tidak berselang lama kamu pun pamit. Bergegas kembali ke kosmu. Langsung memacu motor hitammu, tanpa sedikit pun menengok ke arahku. Sementara aku, begitu terpaku. Sedih sekaligus lega. 

Malam ini, malam kesekian, dan aku masih ingat kalimat terakhirmu itu. Namun, aku hanya bisa menerka. Menerka bahwa malam merupakan sekumpulan rindu akan kelelahan menggapai yang tidak dapat tergapai. Aku hanya bisa menerka bahwa apakah aku yang ketidaktergapaian itu?

Aku mengutuki diri. Menjitak kepalaku sendiri atas pertanyaanku itu. 
***
Kalimat pertama tulisan ini terinspirasi oleh kalimat ketiga paragraf kedua halaman 112 buku Jatuh-nya Azhar Nurun Ala

Share this:

0 comments:

Post a Comment