#10 I am Hope: Tidak Akan Berhenti Bermimpi



Judul: I am Hope
Pemain: Tatjana Saphira, Fachri Albar, Tio Pakusadewo, Alessandra Usman, Feby Febiola, Ariyo Wahab
Genre: Drama
Sutradara: Adilla Dimitri
Tanggal Rilis: 18 Februari 2016
Durasi: 108 menit
Produksi: Alkimia Production
"Jangan pernah takut gagal, karena di mana ada keberanian, di situ ada harapan"-David
Setiap orang pasti memiliki mimpi. Setiap orang pasti memiliki harapan. Namun, tidak semua orang dapat mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Tidak semua orang dapat menggapai mimpi-mimpi tersebut dengan mulus. Akan tetapi, apakah karena sebuah penyakit, mimpi-mimpi itu sirna begitu saja? 

I am Hope, film yang disutradarai Adilla Dimitri ini didedikasikan bagi para pejuang kanker. Film ini mengisahkan tentang Mia (Tatjana Saphira), seorang perempuan yang terlahir di keluarga harmonis yang mencintai seni. Ayahnya (Tio Pakusadewo) seorang  musisi dan ibunya (Febi Febiola) seorang penulis skenario sekaligus sutradara pentas teater. Sejak kecil Mia pun sering mengikuti pertunjukan, entah menari atau teater. Namun, keharmonisan itu perlahan luruh ketika sang ibu mengidap kanker hingga menakdirkannya kembali kepada Sang Pencipta. Sejak saat itu pula ayah Mia menjaga pola hidup Mia dengan begitu baik. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain, Mia didiagnosa mengidap kanker paru-paru. Membuat sang ayah sempat tidak terima hingga menolak semua tawaran pentas teater yang berdatangan kepada Mia. 

Bulan-bulan awal mengidap kanker paru-paru Mia merasa begitu terpuruk. Namun, Maia (Alessandra Usman), teman imajinya terus memberinya semangat. Semangat itu pun semakin membara ketika dia bertemu David (Fachri Albar), seorang aktor teater. Berkat Maia dan David, Mia begitu semangat membuat naskah drama yang akan diserahkan kepada Rama Sastra (Ariyo Wahab). Awalnya Rama Sastra tidak tertarik dengan naskah drama Mia, tetapi berkat paksaan David, Rama Sastra pun mau menerima naskah tersebut. Hingga akhirnya Rama Sastra ingin mewujudkan naskah drama tersebut ke dalam sebuah pertunjukkan teater. Mengetahui hal tersebut, Mia begitu senang dan bersemangat untuk melakoni peran sebagai sutradara. Sebaliknya, sang ayah justru tidak mendukungnya karena ingin Mia fokus dengan perawatan kesehatannya. Walau begitu Mia tetap bertekad untuk meneruskan pementasan teater sekaligus menjalani berbagai perawatan seperti kemoterapi.

Banyak pesan yang disampaikan dalam film ini, terutama soal mimpi, harapan, dan perjuangan. Bahwa sebuah penyakit bukan menjadi penghalang mimpi seseorang. Bahwa selama kita masih yakin akan mimpi kita, pasti akan ada harapan di dalamnya. Dan selama kita mau terus berjuang dan tidak pernah lelah berharap, mimpi-mimpi kita akan menjadi nyata. Selain itu, film ini juga menyuguhkan adegan kasih sayang seorang ayah yang begitu khawatir terhadap putrinya, yang terkadang terlihat keras. Padahal itu wujud kasih sayangnya, wujud perhatiannya, wujud cintanya kepada kita. Wujud rasa takutnya akan kehilangan kita.  

Share this:

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments: