Bagaimana Membangun Peradaban dari Keluarga?

Sunday, May 30, 2021


Sabtu kemarin, hari kedua Arisan Ilmu #10-nya @mommischology dibersamai oleh Ustadz Fatih Karim dan istrinya, Ummu Sajjad, yang membahas tentang Membangun Peradaban dari Keluarga. Awalnya mereka akan mengisi pada siang hari, tetapi karena Ustadz Fatih ternyata berhalangan, akhirnya Beliau mengisi pagi hari. Sementara Ummu Sajjad mengisi siang harinya. Menyimak materi mereka menjadi reminder untukku bahwa betapa pentingnya peran sebuah keluarga dalam menciptakan peradaban.


Pada sesi pagi, Ustadz Fatih mengatakan bahwa saat ini kita hidup dalam peradaban jahiliyah atau sampah yaitu peradaban yang mencampakkan Allah dan Rasul-Nya dari kehidupan kita. Seperti menganggap bahwa Alquran tidak mengatur kehidupan kita, rumah tangga, negara, politik, interaksi laki-laki dan perempuan, tata niaga, serta pendidikan. Lalu siapa yang mengatur? Sistem sekuler, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Ustadz Fatih mengatakan bahwa peradaban Islam telah runtuh sejak 3 Maret 1924 atau bertepatan dengan pembubaran Kekhalifahan Utsmaniyah. Padahal, peradaban besar tersebut lahir dari keluarga hebat. Tidak heran jika ibu disebut dengan rahim peradaban, dari rahim ibu lahir anak-anak hebat. Maka, ketika seorang lelaki ingin mencari istri, carilah perempuan yang tidak hanya cantik, tetapi juga mampu menjadi ibu dari anak-anak yang hebat. Mengingat betapa pentingnya peradaban dari keluarga, Ustadz Fatih mengatakan bahwa ada ide dari peradaban barat tentang childfree atau menikah tetapi memilih tidak memiliki anak. Ada dua hal yang membuat ide childfree ini berbahaya. Pertama, ketika memilih childfree, maka generasi kita akan punah. Padahal Islam sendiri menganjurkan untuk memperbanyak keturunan. Kedua, bertentangan dengan keimanan karena kebanyakan orang yang memilih childfree menganggap bahwa mengurus anak itu merepotkan, terutama dari biaya hidupnya, biaya pendidikannya. Padahal, yang menjamin rezeki itu Allah.


Saat ini, peradaban jahiliyah tersebut juga mulai mengusik kehidupan rumah. Maka, peradaban jahiliyah harus hijrah ke peradaban Islam yang berawal dari rumah tangga dan dimulai dari suami. Sayangnya, saat ini lebih banyak istri yang ikut kajian dibanding suami. Padahal suami yang seharusnya lebih banyak menuntut ilmu karena dia yang akan menjadi nakhoda, pilot, atau masinis yang akan membawa rumah tangga. Kalau sudah seperti itu, tidak mengherankan jika saat ini kita mengalami krisis fatherless atau memiliki ayah tetapi seperti tidak memiliki. Lalu bagaimana caranya agar menciptakan peradaban Islam dari keluarga islami? Pertama, dalam rumah tangga harus cinta majelis ilmu karena itu adalah bahan bakarnya. Kedua, iman yang kokoh, dari ilmu tersebut ternyata bisa memantapkan iman. Ketiga, senantiasa amar maruf nahi munkar seperti halnya tertuang dalam surat Ali Imran ayat 110. Seperti tidak membiarkan istri terlihat auratnya, tidak diam ketika suami memakan uang haram, dan tidak mendukung anak untuk pacaran. Keempat, memiliki kesadaran bahwa kita akan wafat dan dunia hanya tempat untuk transit. Pada sesi kedua, Ummu Sajjad melengkapi materi Ustadz Fatih bahwasanya istri bukan merupakan peran yang tidak boleh diremehkan. Sebab, sekuat-kuatnya suami, pasti ada titik di mana dia akan jatuh, menangis, letih, lapar. Ketika suami sedang seperti itu, maka perlu diasisteni dan digantikan untuk sementara waktu oleh istri. Setidaknya ada empat poin penting tentang peran istri. Pertama, posisi istri sebagai penguat suami ketika suami sedang lelah, letih, lapar, dan sebagainya. Ketika nakhoda di depan, maka asisten berada di sampingnya. Begitupun dengan kita yang harus berada di samping suami sehingga istri bisa bersiap karena kita tidak tahu kapan suami sedang kelelahan. Kedua, taqarrubilallah harus kencang. Bagaimana mungkin kita bisa menguatkan orang lain, kalau diri kita sendiri tidak kuat. Pun bagaimana kita bisa kuat kalau tidak ada Allah yang menguatkan. Kalau orang lain, mendatangi Allah sehari lima kali, maka kita minimal sepuluh atau dua belas kali dalam sehari. Sebab, semakin sering kita mendatangi Allah, maka Allah akan lebih mudah untuk menolong kita. Ketiga, menjadi sumber energi di rumah sehingga energi kita harus full. Sebab, energi itu menular ke suami dan anak-anak kita. Setidaknya ada tiga cara agar energi kita tetap full, yaitu memenuhi energi ruhiyah dengan cara dekat kepada Allah, energi ilmu dengan cara mengaji atau belajar. Serta energi jasmani dengan cara olahraga, jalan-jalan pagi/sore, dan jangan meremehkan soal kesehatan. Keempat, generasi terbaik tidak bisa dilakukan sendiri atau one man show. Tiga hal yang harus ada, yaitu harus ada individu yang saleh, ada masyarakat yang ikut membantu mengingatkan dan mengawasi, serta ada sistem yang membuat aturan yang jelas.


#riasrise #RutinMenulis30Hari #rm30hari30


No comments:

Powered by Blogger.