Kisah Kaum Nabi Musa yang Mendapat Lima Azab

Friday, December 28, 2018


Hari ke #358

Dalam suatu kajiannya Ustadz Zaky Ahmad Rivai, disampaikan tentang pentingnya memiliki rasa malu. Adanya rasa malu ternyata merupakan salah satu tanda keimanan seseorang. Rasa malu yang dimaksud di sini yaitu malu untuk berbuat dosa. Namun, dalam Alquran dikisahkan bahwa ada suatu kaum yang tidak malu untuk berbuat dosa. Mereka adalah kaumnya Nabi Musa. Mereka jugalah yang mendapat azab paling banyak dibanding kaum nabi yang lainnya.

Dalam surat Al-A'raf ayat 133-136 disebutkan bahwa setidaknya ada lima azab yang diberikan Allah kepada kaumnya Nabi Musa. Azab pertama yang diberikan Allah yaitu diturunkannya angin topan (ٱلطُّوفَان). Mereka tidak dapat berkutik melihat barang-barang mereka terbawa angin topan. Sesaat setelah angin topan datang, mereka menyadari bahwa angin topan itu merupakan azab dari Allah. Mereka pun segera mendatangi Nabi Musa dan memohon untuk dihilangkan azab tersebut. Mereka berkata, "Wahai Musa! Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu." Nabi Musa mengabulkan permintaan mereka dan berdoa kepada Allah. Atas izin Allah, azab angin topan itu pun pergi.

Sayangnya, usai azab pertama tersebut pergi, mereka tetap berbuat maksiat. Hingga Allah menurunkan azab yang kedua, yaitu belalang (جَرَاد). Belalang-belalang tersebut memakan semua hasil pertanian dan buah-buahan mereka. Bahkan mereka memakan apa saja, termasuk pintu, atap rumah, dan pakaian. Selang tujuh hari setelah kejadian tersebut, mereka mengadu kembali kepada Nabi Musa untuk diangkat azab tersebut dengan permohonan serupa. Nabi Musa pun mengabulkan permohonan tersebut. Beliau lalu berjalan ke lapangan luas dan mengarahkan tongkatnya ke arah barat dan timur. Sekejap kemudian belalang-belalang itu beterbangan ke arah yang dituju tongkat Beliau. Namun, setelah azab kedua diangkat, mereka masih saja berbuat maksiat dan tidak mau mengakui Allah.

Sebulan setelah azab kedua diangkat, azab ketiga, yaitu kutu (قُمَّل), pun diturunkan oleh Allah. Serupa dengan belalang, kutu-kutu tersebut juga memakan hasil pertanian mereka dan merusak tanaman. Seperti dua azab sebelumnya, mereka menyadari bahwa kehadiran kutu-kutu tersebut merupakan azab Allah. Untuk kali ketiga, mereka memohon untuk dihilangkan azab tersebut. Mengatakan permohonan yang sama ditambah mengucap pengakuan bahwa mereka masih sering berbuat maksiat. Nabi Musa menanyakan kembali kesungguhan untuk bertaubat dan mereka menjawab "ya". Beliau kembali memohon kepada Allah untuk diangkat azab ketiga tersebut. Namun, lagi-lagi mereka berbuat maksiat.

Azab keempat pun diturunkan oleh Allah, yaitu katak (ضَفَادِع). Tidak seperti belalang dan kutu, katak ini sampai masuk ke rumah mereka. Bahkan katak-katak itu memenuhi bejana, periuk, tungku, makanan, mulut orang yang ingin bicara, dan memenuhi kamar tidur. Merasa terganggu dengan hal tersebut, lagi-lagi mereka mendatangi Nabi Musa. Kali ini mereka mengaku akan bertaubat dan tidak akan mengingkari janji mereka. Beliau pun memastikan ucapan mereka lalu berdoa kepada Allah. Setelah azab keempat diangkat kembali oleh Allah, mereka tetap berbuat maksiat, melanggar janji yang mereka ucap.

Tidak berapa lama, azab kelima, yaitu darah (الدَّم), pun diturunkan oleh Allah. Air-air berubah menjadi darah. Baik air yang ada di rumah mereka, air sungai, maupun air telaga. Mereka pun tidak dapat mendapat air yang jernih di saat kaum Bani Israil tetap mendapat air yang bersih dan jernih. Untuk kesekian kalinya, mereka mengadu kepada Nabi Musa. Namun, mereka tetap melakukan maksiat usai azab tersebut diangkat oleh Allah. Karena lima kali diturunkan azab mereka tidak bertobat, lalu Allah menenggelamkan mereka ke laut.

Kisah kaum Nabi Musa yang tidak mau beriman kepada Allah menjadi contoh kaum yang tidak malu untuk berbuat dosa. Meski berbagai azab telah Allah turunkan. Meski berulang kali memohon pertolongan Nabi Musa untuk diturunkan azab. Mereka tetap saja berbuat maksiat. Mereka tetap saja mengingkari janjinya. Mereka tetap saja enggan mengakui Allah sebagai Tuhan mereka dan Islam sebagai agama mereka.

Kisah kaum Nabi Musa tersebut menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menanamkan rasa malu pada diri. Malu untuk berbuat maksiat, malu untuk berbuat dosa. Salah satu cara untuk menanamkan rasa malu tersebut yaitu dengan membiasakan ber-muraqabah atau merasa diawasi oleh Allah. Dari ber-muraqabah itu akan timbul rasa malu ketika kita akan berbuat dosa atau maksiat.

No comments:

Powered by Blogger.