Inspirasi dari Rumah Cahaya: Membentuk Generasi yang Lebih Baik



Hari ke #336

Judul: Inspirasi dari Rumah Cahaya 
Penulis: Budi Ashari, Lc
Penerbit: Pustaka Nabawiyyah
Tahun Terbit: 2015
Edisi: Cetakan keenam
Jumlah Halaman: 176

"Rumah tangga ibarat sebuah kendaraan. Ia digunakan untuk menempuh sebuah perjalanan. Seluruh anggota keluarga adalah ibarat penumpang dengan perannya masing-masing. 'Penumpang ayah dan ibu' ibarat nakhoda dan navigatornya." (Halaman 3)

Sekitar sebulan yang lalu, tiba-tiba Mas menyuruhku membaca sebuah buku milikinya. Sebuah buku berjudul Inspirasi dari Rumah Cahaya yang ditulis oleh ustadz favoritnya Mas, Ustadz Budi Ashari. Mas juga mewantiku untuk tidak boleh membaca buku lain sebelum buku tersebut selesai kubaca. Meski, pada akhirnya, di tengah membaca buku tersebut, ada beberapa buku lain yang juga kubaca.

Kali pertama membaca judulnya, "Rumah Cahaya", aku sudah menerka jika buku ini membahas seputar pernikahan, keluarga, kerumahtanggaan. Sebab, judul buku-buku berbau kerumahtanggaan biasanya mengandung unsur "rumah". Namun, semakin lama kubaca, buku ini tidak secara khusus membahas tentang pernikahan. Justru lebih membahas parenting atau pengasuhan yang seharusnya diterapkan dalam keluarga muslim.

Buku Inspirasi dari Rumah Cahaya terdiri dari sembilan bab. Bab pertama membahas tentang visi keluarga muslim. Bab kedua dan ketiga membahas tentang melahirkan generasi penegak khilafah dan pembuka Roma. Bab keempat membahas tentang apa saja yang dapat menyebabkan padamnya cahaya keluarga. Bab kelima membahas tentang inspirasi dari Surat At-Tahrim, bahwa suami dan istri harus sinkron atau satu kufu dan satu visi. Bab keenam membahas tentang persiapan dalam menghadapi turbulensi keluarga. Bab ketujuh membahas tentang kesalehan orang tua. Lalu bab kedelapan dan kesembilan membahas tentang pengasuhan di keluarga Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Muhammad SAW.

Secara konten, buku Ustadz Budi ini terbilang sangat bagus dan sangat layak dibaca untuk para pasangan suami-istri, terutama pasangan yang baru saja menikah atau yang akan menikah. Sebab, buku ini dapat menjadi bekal bagi pasangan-pasangan tersebut. Meski dari segi penulisan, ada beberapa kata yang salah ketik dan terlihat sedikit kurang rapi, tetapi hal tersebut tidak mengurangi esensi dalam buku ini. 

Pada dasarnya setiap bab dalam buku ini memiliki keunikannya sendiri. Seperti pada bab pertama, Ustadz Budi mengajak pembaca untuk mengulik kembali visi pernikahan para pembaca yang sudah atau akan menikah. Setidaknya seharusnya ada empat hal yang menjadi visi keluarga muslim, yaitu menyejukkan pandangan mata, pemimpin bagi masyarakat bertakwa, terjaga dari api neraka, dan bersama hingga ke surga. Keempat visi tersebut sebenarnya juga tercantum dalam surat Al-Furqon ayat 74. Namun, untuk mewujudkan visi keluarga tersebut, ada dua hal yang menjadi faktor penentu yaitu pasangan dan keturunan. Jika kita ingin memiliki keluarga dengan visi tersebut, langkah pertama yang harus ditempuh adalah mencari calon pasangan yang juga memiliki visi serupa serta memiliki akhlak yang baik. Nantinya, hal tersebut juga dapat menjadi faktor pendukung untuk mendidik anak dan menjadikannya keturunan yang baik. Selain itu, jika ingin mendapatkan pasangan yang baik, tentunya kita harus menjadi baik. Sebab, hal tersebut dapat memudahkan suami dan istri dalam menjalankan rumah tangga. Pun memudahkan dalam mendidik anak.

Ketika membaca buku ini, pembaca akan menemukan benang merah di dalamnya, yang ditekankan Ustadz Budi sebagai pengingat bagi kita. Benang merahnya yaitu bahwa pernikahan bukan hanya ajang untuk melegalkan hubungan yang haram. Atau sekadar menyatukan dua orang yang saling jatuh cinta. Namun, pernikahan adalah menyatukan dua insan dalam sebuah ikatan suci, yang memiliki visi keluarga yang sama yaitu bahagia dunia akhirat dan bisa bersama-sama ke surga. Dengan demikian, pernikahan bukanlah hal yang main-main. Apalagi jika memiliki visi demikian berarti pasangan dan anak kita pun harus baik. Kalau dalam buku ini disebutkan bahwa mendidik anak itu bukan sekadar "mendidik anak", tetapi juga mendidik sebagaimana orang tua dan guru Muhammad Al Fatih mendidik Beliau. Atau sebagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW mendidik anak-anaknya hingga tumbuh menjadi anak yang saleh dan salehah.

Setelah membaca buku ini, mungkin akan terbesit sebuah pertanyaan dalam pikiran kita. Apakah kita sudah menjadi pasangan dan orang tua yang baik sehingga dapat menjadikan keluarga kita sebagai "rumah cahaya"? Semoga pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan yang tanpa jawaban dan tanpa tindakan nyata.

No comments:

Powered by Blogger.