Refleksi 20 (Semakin Menua)


Bulan April, selalu menjadi bulan yang kutunggu-tunggu. Sebab bulan April ini menjadi bulan peringatan hari kelahiranku. Setiap tahunnya, di hari kelahiranku selalu ada yang berbeda. Dan di tanggal tiga tahun ini, usiaku tepat 21 tahun. Tidak terasa dan tidak pernah kusangka, umurku sudah 20 tahun lebih. Diriku sudah semakin menua. Namun, aku merasa jika pikiranku dan segala keputusanku masih seperti anak-anak. Sama sekali belum terlihat “kedewasaan” itu.
Peralihan usia dari 20 tahun menuju 21 tahun banyak hal yang kualami. Dan hal tersebut seakan membuatku menyadari bahwa aku semakin menua tetapi belum semakin dewasa. Di usia 20 tahun kemarin, aku masih menyelesaikan berbagai masalah dengan menangis karena “merasa tidak kuat menghadapi itu semua”.
Segala yang kulakukan seakan dibuat tergesa-gesa dan terkesan seperti kekanakan. Terlebih mengenai masalah akademik. Banyaknya tugas akademik sementara aku memiliki tugas di luar akademik, membuatku merasa ingin menyerah. Dan di saat seperti itu aku merasa tidak seorang pun yang mendukungku. Akibatnya aku pun melakukan withdrawl, menarik diri dari lingkungan “yang menurutku tidak mendukungku”.
Dan bodohnya, beberapa bulan ini aku kembali menggunakan defense mechanism itu. Dan semakin aku memikirkan seringnya menggunakan defense mechanism itu membuatku semakin merasa sedih dan merasa bodoh kenapa harus menghindari orang-orang tertentu. Dan hal itu membuatku merasa sesak dan menyesal. Namun, aku seakan “nyaman” melakukan withdrawl, dan sulit bagiku untuk menghentikannya terlebih karena gengsiku yang terlampau tinggi.
Aku pun semakin sadar bahwa aku terlalu mudah untuk give up, “merasa sendiri”, terlalu memikirkan sesuatu hal, dan gampang stress. Hal itu pun berdampak pada hasil salahsatu asesmen kepribadian nonproyektifku yang mengategorikanku mengalami depresi berat. Faktor utama yang membuatku mendapat skor lumayan itu yang terkesan “kecil”, yaitu karena masalah tugas akademik, ternyata bagiku sangat menggangguku dan memengaruhi mood-ku.
Dan akibat masalah itu pun menjalar hingga urusan lingkungan sosialku, pertemananku. Dan aku pun semakin merasa sendiri. Di luar akademik, aku juga beberapa kali melakukan withdrawl dalam organisasi. Beberapa di antaranya aku benar-benar melepaskannya, tidak lagi ingin bergabung dalam organisasi tersebut. Namun, terkadang aku merasa sedih jika mengingat setiap kenangan yang tercipta di organisasi tersebut. Orang-orangnya, suasananya, serta kegiatan yang kami lakukan beberapa kali sering membuatku merasa sedih karena telah “meninggalkannya”.
Dari segi percintaan? Ummm, kisah cintaku terkadang membuatku galau. Terlalu melihat ke masa lalu memang tidak bagus dan membuatku merasa sedih.
Namun, di banyak grup yang aku ikuti, perbincangan cinta seakan tidak pernah usai. Terlebih perbincangan itu mengenai jodoh. Hal yang sebenarnya terlalu mengawang karena kita belum tahu pasti siapa jodoh kita. Namun, membicarakan jodoh seakan menyadarkanku bahwa aku semakin menua, berumur. Dan bukan anak-anak lagi yang dibilang “saru” kalau membicarakan cinta dan jodoh.
Walau begitu, banyak hal positif yang terjadi di usiaku 20 tahun. Terutama dalam hal kepenulisan, salahsatu hobiku. Berawal dari mengikuti badan pers mahasiswa di fakultas, aku pun mengikuti beberapa kegiatan atau komunitas atau organisasi kepenulisan lainnya.
Juni tahun lalu aku mendaftar sebagai Jurnalis Pijar Psikologi. Dan beberapa hari setelah wawancara, aku pun resmi diterima sebagai ranger journalist. Bergabung di Pijar bukan hanya menyalurkan hobi menulisku, tetapi juga membuatku belajar lebih banyak mengenai studiku, Psikologi. Menjadi salahsatu jurnalis Pijar juga membuatku merasakan makna “writing is healing”, bahwa menulis adalah proses penyembuhan. Apa yang aku tulis seakan menjadi cermin bagiku untuk menjadi apa yang aku tulis, menjadi orang yang lebih baik lagi.
Lalu di awal September hingga awal Oktober lalu aku mengikuti kelas menulis novel online yang diadakan salahsatu komunitas menulis yang kuikuti. Dari sana aku mempelajari banyak hal, terutama mengenai hal teknis dalam menulis, seperti alur, ide, premis, dan lain sebagainya. Dari sana aku juga belajar untuk menulis cerita fiksi yang sungguhan. Aku pun ditempa untuk mendisiplinkan diri menulis (minimal) 4 halaman dalam hari. Walau terasa berat tapi jika telah dibiasakan lama-lama akan terasa ringan. Selain itu aku juga belajar untuk mengatur waktu antara kuliah, organisasi, dan juga menulis. Hasilnya, dalam satu bulan naskahku selesai walau hingga detik ini aku belum menyelesaikan editing.
Selain kelas menulis novel, di bulan Desember berikutnya aku juga mengikuti kelas menulis online yang diadakan salahsatu komunitas menulis yang kuikuti lainnya. Kali ini kelas menulis yang kuikuti adalah kelas menulis cerita pendek. Awalnya aku memandang sebelah mata kelas ini karena kupikir menulis cerpen itu mudah. Namun, setelah cerpenku dipresentasikan, ternyata banyak komentar negatif tapi sangat membangun untuk cerpenku.
Aku pun menyadari bahwa cerpenku masih belum apa-apa dibanding cerpen yang ditulis peserta kelas menulis cerpen itu. Namun, dua bulan mengikuti kelas menulis cerpen itu, aku pun mengambil banyak pelajaran. Selain teknik menulis, aku juga belajar untuk menulis cerpen sesuai tema yang diinginkan, menulis cerpen secara berkelompok, dan menulis cerpen yang dikejar-kejar deadline-nya.
Namun, semua itu terasa mengasikan. Teman-teman dalam kelas menulis cerpen itu pun sangat kooperatif dan saling mendukung. Dan walau kelas menulis cerpen itu telah berakhir hampir sekitar dua bulan yang lalu, tapi kami masih dekat dan masih saling berkomunikasi, bahkan kembali melakukan writing project lainnya.
Dan di akhir Maret lalu, menjelang usia 21 tahun aku kembali mengikuti kelas menulis novel online. Namun, kali ini kelasnya berlangsung lama—yaitu 90 hari—dan tentunya lebih menantang. Walaupun aku keteteratan untuk mengerjakan PR kelas ini karena bertabrakan dengan UTS yang sedang kujalani.
Di hari ini, tepat di usiaku yang ke-21, aku kembali semakin menyadari bahwa diriku semakin menua. Sudah memasuki masa remaja akhir—atau masa dewasa awal, bergantung pada teorinya siapa. Terlalu banyak pengharapan yang ingin itu terwujud, terlalu banyak hal negatif yang ingin kutinggalkan di umurku yang semakin bertambah (dan semakin berkurang).
Di usiaku yang ke-21 tahun aku kembali ingin menatapi hidupku, diriku, dan hatiku untuk menjadi semakin baik. Semakin bisa memperbaiki diri. Di hari ini, banyak doa yang terucap, dari orang-orang yang sama, dan banyak juga dari orang-orang yang baru kukenal. Doa-doa baik yang memang sangat kuharapkan itu terjadi pada diriku. Dan “semoga tambah dewasa” selalu menjadi hal yang sangat kuinginkan. Di usiaku yang tidak belasan seharusnya “dewasa” bukan hanya sebuah harapan, tapi sesuatu yang harusnya memang terjadi. Dan semakin bertambahnya umur, semakin bertambah dewasa itu memang sebuah keharusan. Dan di usiaku yang baru memasuki 21 tahun ini, aku sangat mengharapkan “kedewasaan” itu memang terjadi. Terlebih dalam segala yang hal yang akan kulakukan, kedewasaan itu bisa membuatku untuk tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Terutama terlalu sering melakukan withdrawl (menarik diri).
Purwokerto, 3 April 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment