Mengejar Seseorang



Siang ini terik mentari begitu menyengat. Perlahan mulai menembus jendela rumah yang aku dan teman-temanku jadikan sekre ini. Membuatku merasa kegerahan dan terus menambah kecepatan kipas angin. Aku, seperti biasa melarikan diri ke sini begitu kuliah usai. Berkumpul dengan teman-temanku  yang kuanggap seperti keluarga sendiri membuatku tidak bosan singgah ke sekre.

“Assalammualaikum.”

“Waalaikumussalam.” Aku bergegas menghampiri ruang depan sekre begitu mendengar suara salam itu. Dan sesuai dugaanku, itu suara mereka, teman-temanku. Menjelang Dhuhur ini sekre mulai dipadati penghuninya yang telah selesai kuliah.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…. Terdengar suara adzan dari ponsel kami masing-masing.

“Salat yuk,” ajak Gio, ketua kami.

Kami pun mengangguk, menghentikan aktivitas kami masing-masing dan bergegas mengambil air wudhu.

“Rapatkan barisan yaa,” kata Gio mengingatkan sembari menengok sekilas ke arah kami, jamaah perempuan. Aku pun segera merapat ke jamaah sebelah kiri usai meletakkan tas jinjing di samping kananku.

Allahu Akbar…” Rakaat pertama dimulai.

KREK. Samar-samar terdengar suara pintu depan dibuka, membuat konsentrasiku goyah. Namun aku terus menatap ke depan dan tetap fokus pada salatku.

Duk duk. Kali ini terdengar derap langkah seseorang. Semakin lama semakin terasa dekat, menuju ruang salat. Konsentrasiku kembali goyah.

Duk duk. Suara itu semakin terasa begitu dekat. Perlahan aku semakin merasakan kehadiran seseorang di ruang salat ini. Dan perlahan sebuah tangan terjulur mendekati tas jinjingku. Sekejap kemudian tas jinjingku telah menghilang. Aku tertegun, ingin segera berteriak namun segera kuurungkan. Aku berpura-pura tidak melihatnya dan tetap berfokus pada salatku.

Duk duk. Perlahan langkahnya mulai menjauhi ruang salat. Kali ini konsentrasiku benar-benar buyar. Sekejap setelah orang itu keluar, aku pun ikut keluar. Dengan masih mengenakan mukena, aku segera berlari mengejar orang itu. Namun, langkahnya begitu cepat dan semakin menjauh. Membuatku tersengal saat mengejarnya. Langkahku pun terhenti begitu kulihat motor yang ditungganginya hampir mendekati gang.

“Maa…maa…”  teriakku, namun kata-kataku tertahan di tenggorokkan, tidak kuasa kuucap. 

#MalamNarasi #OneWeekOnePaper

Share this:

0 comments:

Post a Comment