Mengantar-jemput (Bukan) Anak(ku)




Bagiku, memboncengkan seseorang merupakan hal yang menakutkan dan kalau bisa tidak ingin kulakukan. Bukan tidak mau, tetapi mengingat tubuhku yang terbilang mungil dan berat badanku yang tidak pernah memenuhi syarat sebagai pendonor darah membuatku inferior dan enggan memboncengkan orang. Namun, hari ini aku harus memboncengkan orang. Bukan hanya satu, melainkan empat orang sekaligus (baca: dua kali bolak-balik). 

Hari ini, pagi-pagi sekali aku telah bersiap untuk memacu kendaraan milik(teman)ku di jalanan. Perasaan takut mulai menyelinap dalam benakku ketika aku telah memacu kendaraanku. Sekitar pukul 06.00 aku telah sampai di depan rumah keempat orang itu. Suara gaduh pun terdengar begitu motor yang kutunggangi berhenti di depan rumah mereka. Dua orang anak menawariku makan bersama mereka tetapi tawaran itu buru-buru kutolak. Lalu aku pun menunggu mereka di atas motor hingga mereka selesai sarapan. 

Sekitar limabelas menit kemudian mereka--Mufid dan Fathi--pun datang menghampiriku. Rasa takut ini semakin menjalariku. Namun, perlahan mulai memudar saat kulihat wajah polos mereka. Dengan segenap keberanian yang telah kukumpulkan dan setelah mereka pamit dengan sang ayah, aku pun siap mengantar mereka ke sekolahnya. Aku tidak henti merapal doa ketika aku telah berada di jalanan, memboncengkan mereka. Mereka pun cukup sering mengajakku bicara, walau aku terkadang menjawab sekenanya. Karena aku begitu hati-hati saat mengendarai motor terutama saat menyeberang dan melewati belokan. Kecepatan motor pun kubuat sepelan mungkin karena rasa takutku yang lumayan mendominasi. Namun, perasaan takut itu seketika menghilang setelah aku berhasil berhenti di depan sekolah mereka, di SDIT Taruna Alquran. 

Fyuh, aku pun menghela napas lega. 

Namun, kelegaan itu belum usai saat kuingat masih dua anak lagi yang harus kuantar. Perasaan takut itu pun kembali menyelinap. Lalu aku bergegas memacu kendaraan dan kembali menuju rumah mereka. Begitu sampai kembali di rumah mereka, ternyata mereka sudah rapi mengenakan seragam TK masing-masing. Setelah berpamitan kembali dengan sang ayah, aku pun kembali memacu kendaraan di jalanan, mengantar dua anak lainnya--Afif dan Hilmy. Tidak seperti kakaknya, Afif dan Hilmy lebih banyak diam walau beberapa kali sempat mengajakku bicara. Saat mengantar Mufid, Fathi, dan Hilmy aku tidak mengalami kesulitan karena kemarin telah mencoba ke sana. Namun, saat mengantar Afif aku cukup mengalami kesulitan bahkan sempat tersesat karena aku lupa jalan menuju TK Rumah Ibu--sekolahnya Afif. Terlebih Afif begitu menggemaskan saat memberi petunjuk. Namun, aku tetap mencoba mengikuti petunjuk jalan yang Afif berikan. Begitu keluar dari gang, aku pun mencoba bertanya pada seorang warga. Ternyata petunjuk yang Afif berikan, yaitu sering mengatakan "belok kiri"--dengan suaranya yang begitu menggemaskan--sama dengan yang diberikan warga tersebut. Akhirnya aku pun sampai di depan TK Rumah Ibu. 

Siang harinya, begitu selesai mengurus sesuatu di bank, aku pun bergegas menjemput keempat anak itu. Pertama-tama aku menjemput Afif di TK Rumah Ibu. Saat aku sampai di sana ternyata Afif sedang tidur siang. "Fif, ammah-nya udah jemput nih," teriak sang guru. Afif pun keluar dari suatu ruang, tempat anak-anak tidur siang. Mukanya lucu sekali, masih terlihat kantuk saat bicara padaku. 

"Afif mau langsung pulang atau ikut jemput Hilmy dulu."

"Jemput mas Hilmy," katanya dengan malu-malu. 

Lalu kami bergegas menuju sekolahnya Hilmy yang berada di TKIT Taruna Alquran. 

"Paling mas Hilmy lagi tidur."

"Wah, iya?"

Afif pun mengangguk lalu menuntutku ke sebuah ruangan, tempat anak-anak tidur siang. Setelah sampai di depan pintu, aku mengetuknya hingga seorang guru keluar. 

"Hilmy-nya ada?"

"Oh, iya ada. Bentar, saya panggilkan."

Tidak berselang lama, Hilmy pun keluar dari ruangan itu, mukanya terlihat baru bangun tidur.

"Aku mau duduk di depan," pinta Afif. Aku menelan ludah. Mulai kebingungan dan rasa takut itu kembali menyelinap. Sebelumnya aku tidak pernah memboncengkan seorang anak di depan. Namun, karena melihat keantusiasan mereka--terutama Afif--,aku pun menerima pinta itu. Dengan segenap keberanian, aku pun kembali memacu kendaraan. Kali ini aku berusaha lebih keras untuk menyeimbangkan tubuhku. Alhamdulillah, aku berhasil mengantar mereka kembali ke rumah. Setelah itu, aku langsung kembali ke jalanan. Kali ini menjemput Mufid dan Fathi. 

"Kita pulang duluan aja ammah. Nanti Fathi dijemput jam 15.30 aja, dia lagi ngaji," kata Mufid begitu aku melihatnya di depan kelas. Sesuai permintaannya, aku mengantarnya pulang lebih dulu. Tidak terasa adzan Ashar telah berkumandang. Sembari menunggu pukul 15.30 aku pun menunaikan ibadah terlebih dulu di sebuah masjid sebelum SDIT Taruna Alquran. Setelah salat aku bergegas menjemput Fathi. Namun, aku sangat kaget saat Fathi tidak ada di sekolahnya. Aku pun bertanya pada murid-murid dan guru sekolah tersebut, mereka pun tidak tahu keberadaan Fathi. Aku sangat khawatir, takut kalau Fathi hilang. Lalu aku langsung tancap gas menuju rumah mereka. Aku tidak henti berdoa, berharap Fathi sudah ada di rumah. Dan pintaku pun terkabul, ternyata Fathi sudah di rumah, dijemput ammah yang lain. Keempat anak pun itu pun serempak melihatku saat aku datang untuk mengecek keberadaan Fathi. Fyuh, kali ini aku benar-benar menghela napas lega. 

***
Memang ya, usia-usia rawan seperti ini (baca: 20an), beberapa kejadian bisa buat kita terbawa perasaan. Melihat anak kecil, apalagi mengantar-jemput ke dan dari sekolah pun bisa buat galau. Tapi mengantar-jemput keempat anak itu sungguh membuatku belajar menjadi ibu yang baik...suatu saat nanti :3. Apalagi melihat wajah polos mereka serta tingkah laku mereka yang sangat manis. Terlihat sekali penanaman agama yang diberikan, baik dari orangtua, maupun lingkungan sekolah.











Share this:

0 comments:

Post a Comment