Tentang Menunggu

Menunggu, entah dalam konteks apapun, tentu sangat menyebalkan. Sekaligus menyedihkan. Menunggu bus datang. Menunggu kereta datang. Menunggu hari kepulangan ke rumah. Menunggu balasan cinta dari seseorang yang diam-diam kita cintai. Dan tentu saja menunggu jodoh datang.
Menunggu, dalam hal apapun tentu bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Terlebih menunggu orang yang kita cinta datang. Keluarga, sahabat, dan (calon) pasangan. 
Malam itu, suasana begitu berkabung. Bendera putih telah terlihat berkibar di ujung gang dan depan rumah saat kami sampai. Kursi-kursi telah tertata rapi, terisi penuh oleh pelayat. Para penunggu. 
Detik demi detik, menit demi menit, kami tetap setia menunggu. Sayup terdengar sebuah sirine mobil ambulans. Kami tersentak, beranjak keluar rumah. Sebuah peti kemas berlapis styrofoam dan plastik dikeluarkan dari dalam ambulans. Isak tangis tidak tertahankan dari sang istri–yang masih keluargaku. Memecah keheningan. Pilu haru mengucur dari sanak keluarga yang lain. Salat jenazah pun segera dilaksanakan begitu peti masuk ke dalam rumah. Isak tangis dan pilu haru kembali pecah dan semakin menjadi tatkala plastik dan styrofoam dilepas. Peti kemas dibuka. 
Malam itu menjadi saksi jasad seorang manusia telah terkubur ke liang lahat. Seorang manusia telah kembali kepada Sang Pencipta. Malam itu pun menjadi saksi bahwa menunggu itu memang menyebalkan. Terlebih menunggu kepulangan orang tercinta yang telah tiada. Menunggu jasad orang tercinta kembali dari negeri seberang. 
Banyumas, di salah satu rumah sanak keluarga, 22 Januari 2016

Share this:

0 comments:

Post a Comment