20.20 (New Version)

Pukul 20.19, aku telah bersiap di depan layar laptop hitamku. Menatap dashboard tumblr dengan perasaan berdegup. Menanti dengan tidak sabar. Apalagi kalau bukan untuk menunggu tulisan yang kamu post. Satu menit lagi, pukul 20.20, biasanya tulisanmu akan muncul di dashboard tumblr. Tidak pernah absen. Satu menit, ternyata sangat lama bagiku.
Aku melirik jam yang ada di laptop, masih pukul 20.19. Masih tidak sabar untuk segera membaca tulisanmu. Aku selalu menyukai tulisanmu. Mengaguminya. Setiap kata yang kamu rangkai. Setiap diksi yang kamu pilih. Tulisanmu sederhana, hanya menceritakan pengalaman yang kamu alami sehari-hari. Tapi kamu menuliskannya dengan begitu indah. Sempurna membuatku ingin selalu membacanya, selalu penasaran dengan kejadian yang kamu alami. Selalu penasaran bagaimana perasaanmu di hari itu. Diam-diam aku pun menyukaimu. Bukan lagi sekadar mengagumi. Tapi aku hanya mengenalmu melalui tulisan. Aku hanya menerka kalau kamu sosok yang menyenangkan dan calon ayah yang baik nantinya. Tapi itu hanya harapku dan dugaanku. Tiap membaca tulisanmu aku selalu penasaran bagaimana suaramu saat menuliskannya. Aku juga suka menerka bagaimana tipe suaramu. Mungkin bass, tenor, atau sopran. Tapi aku lebih suka kalau suaramu bass. Terdengar sangat maskulin.
“Ketika kamu mencintai seseorang, Allah sedang mengujimu seberapa besar cintamu kepada-Nya”, penggalan tulisanmu yang pertama kali kubaca. Saat itu tidak sengaja tulisanmu muncul di dashboard tumblr-ku, di-reblog oleh seorang teman. Kata-katamu sederhana, tapi begitu menusuk relung hatiku. Aku yang baru saja putus cinta seakan tersadar bahwa yang kulakukan kemarin adalah sebuah kesalahan. Bahwa mengikatkan diri dalam sebuah hal bernama pacaran adalah kesalahan dan tidak dikehendaki-Nya. Sejak saat itu aku selalu menantikan tulisanmu saat pukul 20.20.
Kini pukul 20.21, lewat satu menit dari waktu yang biasa kamu post. Namun tidak ada perubahan dari dashboard tumblr. Aku tetap menanti dengan sabar. Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit tulisanmu tidak kunjung muncul. Aku semakin khawatir.
Pukul 21.21, satu notifikasi muncul dari dashboard tumblr. Aku begitu riang. Segera ku-refresh laman tumblr-ku. Dan benar itu tulisanmu. Aku tidak sabar untuk segera membacanya. Aneh, tidak biasanya akun instagrammu terhubung dengan tumblr.
Foto sepasang cincin berukiran namamu dan nama seseorang yang tidak kukenali terpampang jelas di akun tumblr-mu. Aku terdiam, menduga makna foto yang kamu upload. Lalu aku scroll ke bawah, sebuah puisi berjudul “ Takdir itu Ternyata Terletak Padamu ” yang tertulis di bawah fotomu seakan menjawab tanyaku. Hatiku berdegup tidak keruan. Ada kecemburuan setiap aku membaca kata demi kata dari puisi yang kamu tulis. Katamu, dulu kamu seringkali menyalahkan Tuhan atas kepayahan dalam hidupmu hingga mempertanyakan keadilan-Nya. Kini kamu merasa bersyukur karena kejadian yang kamu alami di masa lalu itu mendekatkanmu dengannya. Perempuan yang kini menjadi istrimu. "Takdir itu ternyata terletak padamu”, katamu di puisi itu yang tentu saja kutahu “mu” yang kamu maksud adalah perempuan itu. Bukan aku. Hatiku semakin berkecamuk, tidak keruan. Satu per satu keriangan akan penantian menunggu tulisanmu pun sirna. “Aku sudah menikah”, kata penutup dalam puisimu seakan menegaskan kalau kamu telah menikah. Hanya tiga kata, tapi mampu meremukan hatiku. Aku terpaku di depan layar laptop. Perlahan air mataku mulai membasahi pipi.
“Bodoh!” aku mengutuki diri. Tersenyum kecut melihat diriku menangisi pernikahan seseorang yang kucintai, yang sebenarnya hanya kukenal melalui tulisan. Aku segera menghapus air mata sebelum semakin menderas. Tulisanmu kali ini sungguh mengejutkanku karena sebelumnya kamu tidak pernah menyinggung akan menikah. Tulisanmu seolah menyadarkanku bahwa sesering apapun aku membaca tulisanmu, aku tetaplah akan menjadi penggemar tulisanmu. Tidak akan lebih dari itu. Aku mencoba tersenyum dalam tangisku yang sedikit mereda. “Semoga kamu berbahagia dengan istrimu mas! :)”, kataku padamu melalui fan mail tumblr. Tiba-tiba ada sedikit kelegaan yang kurasakan.

Share this:

0 comments:

Post a Comment