Aku, Kamu, dalam Sebuah Pesta

Ingar bingar musik dansa tidak mampu membuatku beranjak di sini. Aku tetap berdiam dan mematung ketika yang lain asik menikmati pesta. Aku tidak seperti mereka yang menyukai keramaian.
“Kenapa kamu berdiam diri di sini?” tanyamu heran. 
“Aku lebih nyaman berada di sini. Sepi dan sunyi,” jawabku tersenyum walau hatiku yang sebenarnya juga sepi.

Lalu kamu mengajakku beranjak, mengambil makanan yang begitu beragam. Aneh, aku begitu saja mengiyakan. Sungguh di luar logikaku. Biasanya aku akan menolak mentah-mentah ajakan orang asing.
“Kamu mau yang mana?"tanyanya begitu ramah. Senyumnya tidak henti mengembang. Aku menunduk, takut salah tingkah jika melihat senyummu. 
"Ini,” aku menunjuk sebuah udang besar yang ada di stand makanan ikan laut.
“Kamu suka udang?"tanyanya takjub, seakan baru melihat orang yang menyukai udang. 
Aku mengangguk pelan. 
"Kamu tahu, aku tidak menyukai udang. Aku alergi. Makanya aku takjub denganmu,” penjelasannya sempurna menjawab tanyaku.

Kamu bercerita banyak hal, tentang kuliahmu bahkan kehidupan pribadimu, kehidupan cintamu. Aku menjawab sekenanya bahkan terkadang hanya menampilkan ekspresi datar. Namun kamu tetap antusias bercerita.
Tiba-tiba seorang perempuan menghampirimu.
“Kamu lagi ngapain Rei?” 
“Tentu saja sedang mengobrol,"jawabmu masih dengan senyum mengembang. 
"Dengan siapa? Aku tidak melihat siapapun.”

Air mukamu berubah seketika. Tersadar bahwa tidak ada lagi aku. Tersadar bahwa aku tidak lagi di sampingmu. Sejak itu kamu tidak lagi menyukai udang. Karena udang mengingatkanmu padaku.

Share this:

0 comments:

Post a Comment