Cangkir Bunga Sakura (New Version)

Rumahku tidak terlampau kecil, pun tidak besar. Tapi sangat leluasa untuk kami tinggali. Aku dan ibuku. Sejak kecil aku tidak tahu bagaimana wajah ayah. Ibu pun tidak pernah bercerita banyak mengenai ayah. Ibu hanya bercerita kalau ayah telah meninggal saat ibu mengandungku sembilan bulan. Ibu juga bercerita kalau ayah adalah orang yang hebat dan pandai bergaul. Tapi ibu tidak pernah bercerita lebih rinci tentang kehebatan ayah. Aku pun tidak bertanya lebih lanjut, walau beribu pertanyaan tetap hinggap di benakku.
Rumah kami bercat putih. Mulai dari luar hingga seluruh ruang di rumah kami bercat putih. Bahkan lemari kayu kami yang terletak di ruang tamu berwarna putih-perak. Ibu suka sekali warna putih, katanya warna putih akan memancarkan ketenangan di rumah kami. Lemari kayu kami berbentuk persegi panjang, memanjang vertikal, berisikan beberapa buah cangkir. Semua cangkir di setiap sekat bermotif sama, berpasangan. Kecuali, satu. Ada satu cangkir yang berbeda, tidak bermotif sama dengan seluruh cangkir yang ada di lemari. Cangkir berwarna putih susu bergambar bunga sakura. Cangkir itu berada di sekat paling atas.
Seribu pertanyaan berputar di kepalaku, mengganjal pikiranku. Mengapa cangkir itu berbeda? Terlebih ibu sering sekali membersihkan cangkir bunga sakura itu. Wajar memang mengingat ibu suka membersihkan rumah dan perabotan yang ada di rumah. Termasuk cangkir-cangkir di lemari itu. Tapi ibu memperlakukan cangkir bunga sakura itu berbeda. Membersihkannya menggunakan kain yang berbeda, kain basah yang telah ditetesi pewangi lalu dikeringkan menggunakan kain kering. Berulang kali dan begitu lama. Mengusapnya dengan begitu lembut dan hati-hati. Aku pun pernah mendapati ibu sedang berbicara dengan cangkir bunga sakura itu. Bahkan air mata ibu selalu jatuh tiap kali mengusap cangkir bunga sakura itu.
“Ibu sedang apa?” Mataku memandang apa yang tengah ibu lakukan. Ya, seperti biasa, sedang mengelap cangkir bunga sakura itu.
“Tentu saja membersihkan cangkir. Apa kau tidak melihatnya?”, jawab ibu sambil terus membersihkan cangkir bunga sakura.
“Iya, aku tahu Bu. Tapi aku heran mengapa ibu membersihkan cangkir bunga sakura itu lebih lama dibanding cangkir lain. Seperti sekarang ini.”
“Memangnya tidak boleh?”
“Boleh Bu. Aku heran saja. Sepertinya cangkir bunga sakura itu begitu spesial bagi ibu.” Ibu diam sejenak, menatap sekilas ke arahku. Matanya berkaca-kaca, seketika membuatku tertegun. Ada yang salah dengan perkataanku? ,batinku.
***
Siang itu, sebuah rahasia yang tersimpan rapat akhirnya terungkap. Lebih tepatnya tidak sengaja diungkap. Siang itu, sepulang sekolah aku tidak langsung menaruh tas ke kamar, seragam putih-biruku pun masih melekat di badan. Aku bergegas menarik sebuah kursi tamu menuju lemari kayu itu. Sekuat tenaga aku berjinjit dan mengambil cangkir bunga sakura yang berada di sekat paling atas.
Hap! Cangkir itu pun berhasil kuraih. Kuamati dengan cermat seluruh sisi cangkir. Tidak ada yang spesial. Bahkan bahannya pun sama dengan cangkir yang lain. Dengan menelan kekecewaan kuputuskan untuk mengembalikannya ke tempat semula. Tiba-tiba tanganku gemetar, aku tidak kuat untuk berlama-lama berjinjit. Aku terlampau pendek untuk menjangkau sekat teratas. Dan…PRANG! Cangkir bunga sakura itu pun lepas dari genggamanku, hancur berkeping-keping.
“Ada apa ini?” Ibu tergopoh-gopoh ke ruang tamu demi mendengar suara itu. Raut wajahnya berubah geram saat melihat kepingan cangkir bunga sakura. Aku menunduk, tidak bersuara. Ibu terus memakiku. PLAK! Sebuah tamparan meluncur ke pipi kananku. Aku tertegun. Tidak menyangka ibu yang lembut dan tidak banyak bicara bisa semarah ini. Kami bersitatap sejenak, mataku tidak mampu menahan tangis. Perasaan marah dan kecewa menggumpal di hatiku. Aneh, kulihat mata ibu pun berkaca-kaca, seakan menahan tangis. Bibir ibu sedikit membuka, seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun, aku sudah berlari ke kamar sebelum kata itu terlontar. Aku langsung bersembunyi di balik selimut. Menutupi tangisku yang tidak tertahan. Sebegitu pentingkah cangkir bunga sakura itu? batinku.
Tok, tok, tok. Terdengar suara pintu kamarku diketuk. Itu pasti ibu. Ah, aku tidak peduli. Aku terus tenggelam dalam tangisku. Tanpa izin ibu masuk ke dalam kamarku. Menghampiriku yang masih bersembunyi di balik selimut. Ibu mengelus rambutku begitu lembut.
“Sayang, kau masih marah sama ibu?”
Aku tetap membisu.
“Sayang, maafkan ibu ya nak. Tadi ibu tidak sengaja melakukan itu.” Ibu meminta maaf tulus, suaranya lembut seperti biasanya. Aku diam, tetap tidak menggubris.
“Kau mau tahu kenapa cangkir bunga sakura itu begitu berarti bagi ibu?” Pertanyaan ibu membuat tangisku sedikit mereda. Tentu saja aku mau tahu bu, teriakku dalam hati.
“Ayahmu adalah seorang pembuat cangkir,” ibu memulai ceritanya, aku mendengarnya dengan takzim.
“Dulu kami sempat membuat toko cangkir. Laris sekali, tidak pernah sepi oleh pembeli. Hingga suatu hari kami mengalami musibah. Kebakaran itu meluluhlantakkan toko cangkir plus rumah kami.” Ibu diam sejenak. Aku pun menarik sedikit selimutku hingga bisa menatap wajah ibu yang tersenyum ke arahku.
“Saat itu ibu sedang berada di kamar, dan ayahmu sedang menjaga toko. Mula-mula ibu mencium bau asap dari arah dapur. Ibu yang sedang mengandungmu segera bangkit, berjalan ke arah sumber asap tersebut. Ibu tersontak kaget saat melihat dapur sudah penuh asap. Lalu ibu mencoba memanggil ayahmu karena ibu tidak tahan dengan bau asap. Rasanya sesak. Beruntung ayahmu segera datang menghampiri ibu. Menggendong ibu dan bergegas berlari keluar rumah….” Ibu kembali diam. Aku membuka selimutku, mengubah posisiku hingga duduk sejajar dengan ibu di atas kasur. Aku menatap ibu lekat, menunggu lanjutan cerita. Ibu langsung memahami pintaku, kembali melanjutkan cerita.
“Kau tahu? Setelah membawa ibu keluar rumah, ayahmu kembali ke toko. Ayahmu berusaha menyelamatkan cangkir-cangkir dan barang-barang kami. Menerobos api yang semakin membara. Cepat sekali menjalar. Ibu sudah mencegah ayahmu untuk kembali ke dalam toko. Namun, ayahmu sangat keras kepala, tidak mau mendengarkan ibu. Ibu berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang mendengar. Berusaha menelepon pemadam kebakaran tapi percuma. Kebakaran itu semakin mengganas, bergerak begitu cepat. Ibu terus berdoa, mengharap keselamatan ayahmu. Namun Tuhan lebih sayang ayahmu, Nak. Ayahmu meninggal dalam kebakaran itu. Rumah kami pun hanya bersisa puing-puing. Dan kau tahu? Satu-satunya barang yang tersisa dalam kebakaran itu adalah cangkir bunga sakura itu. Cangkir yang ayah buat khusus untuk ibu, tidak untuk dijual. Namun selalu terpajang rapi di meja kasir toko kami. Sejak saat itu ibu selalu menjaga cangkir itu, membuat ibu seakan sedang menjaga ayahmu.” Ibu mengusap matanya saat mengakhiri cerita itu. Aku pun tidak kuasa menahan tangisku. Aku menjadi tahu betapa berartinya cangkir bunga sakura itu. Aku merasa bersalah pada ibu.
“Maafkan aku Bu, karena telah memecahkan cangkir bunga sakura itu.”
Ibu tersenyum. “Tidak apa-apa Nak. Ibu jadi sadar peninggalan ayah yang paling berharga itu bukan cangkir bunga sakura itu, tapi kamu Nak. Maafkan ibu juga kalau ibu terkesan lebih menyayangi cangkir itu.” Aku menggeleng. Memeluk ibu. Mendekapnya sangat erat. Menumpahkan seluruh kesedihanku. Sejak saat itu aku lebih dekat dengan ibu dan berjanji akan selalu menjaganya. Tanpa sadar aku tertidur di pelukan ibu.


Share this:

0 comments:

Post a Comment