Sebuah Notula: Menelisik Aqidah Islam, Ilmu dan Worldview

Saturday, January 26, 2019


Pertemuan ke= 3
Tanggal= 19 Januari 2019
Tema= Aqidah Islam: Ilmu dan Worldview
Pemateri= Ustadz Anton Ismunanto
Tempat= Teras Dakwah

Budaya ilmu atau ilmu sebagai budaya itu mempunyai tantangan yang cukup serius. Ada empat hal yang menjadi tantangan. Pertama, budaya politik, dalam artian politik sebagai sebuah kebudayaan, kecenderungan, nilai dasar sehingga orientasi dasar seseorang itu pada kepentingan. Kedua, budaya ekonomi, sebagai sebuah kecenderungan nilai sehingga orientasi dasar seseorang itu pada keuntungan. Ketiga, hedonisme, orientasi dasarnya adalah kesenangan. Keempat, berkaitan dengan budaya pop, ketika persoalan ketenaran menjadi nilai dasar. Empat hal inilah yang akan membuat seseorang jauh dari budaya ilmu. Sebab, budaya ilmu orientasi dasarnya adalah kebenaran. Budaya ilmu adalah budaya yang menganggap ilmu sebagai nilai tertinggi dan orientasi dasarnya adalah kebenaran. Sementara orientasi kepentingan, ketenaran, kesenangan itu akan merusak secara serius budaya ilmu.

Kalau kita mau jujur, keempat hal itu sangat dominan dalam masyarakat kita. Termasuk dalam diri pelajar yang tidak lagi berorientasi pada ilmu. Bahkan penyakitnya disebut sekolah-isme. Sekarang orang luput memerhatikan ilmu, tetapi lebih memerhatikan capaian-capaian administratif, seperti ijazah. Jadi, kalau mau dibuat konsep keilmuan itu, ilmu diserap dalam pikirannya lalu dituang dalam kertas ujiannya. Dari kertas ujian nantinya berubah menjadi ijazah. Lalu dari ijazah digunakan untuk mencari kerja.

Padahal dalam Islam itu, konsep ilmu itu ketika ilmu masuk ke benak. Dari benak masuknya bukan ke soal, tetapi ke hati. Dari hati itu dia berpindah ke lain. Jadi, ilmu itu berguna untuk kebahagiaan dan kehidupan. Sementara orientasi yang berkembang di masyarakat kita adalah kepentingan, keuntungan, kesenangan, dan ketenaran. Kebenaran itu dibuang ke laut. Bahkan, bisa jadi post truth itu perkembangan ketika keempatnya berakumulasi. Bisa kita katakan bahwa post truth itu fenomena ketika kepentingan, keuntungan, kesenangan, dan ketenaran itu berkumpul menjadi satu. Dengan demikian kebenaran itu ditundukkan di bawahnya, dan itulah disebut post truth. Itulah tantangannya, lawan dari budaya ilmu.

Tema pekan ini yaitu aqidah Islam sebagai ilmu dan worldview. Atau aqidah Islam itu dibentuk oleh ilmu dan menghasilkan worldview. Sebab, seringkali aqidah dan worldview ini saling bertukaran. Istilah worldview pertama kali dikenalkan oleh Immanuel Kant. Namun, kata worldview lebih intens digunakan oleh Gudey (?) dan jamak digunakan di kalangan Filsafat. Dalam Islam, istilah worldview mulai diperbincangkan pada abad 20 atau tahun 1900-an. Tokoh Hizbut Tahrir lah yang pertama kali memperkenalkan istilah worldview di kalangan Islam. Selain itu, ada juga tokoh Ikhwanul Muslimin yang bernama Sayyid Quthb yang memperkenalkan worldview kepada masyarakat Islam.

Apa itu worldview? Thomas F. Wall ahli kajian budaya mengatakan bahwa worldview berkaitan dengan kepercayaan, perasaan, dan apa-apa yang ada di dalam pikiran. Sementara seorang teolog mengatakan bahwa worldview adalah the system of base belief mengenai diri, realitas, dan eksistensi. Lain lagi dengan Assige, seorang muridnya Prof. Al-Attas mengatakan bahwa worldview itu cara pandang mengenai realitas dan kebenaran, yang berdampak pada perilaku sosial dan perilaku scientific (berkaitan dengan penelitian, membuat hipotesa, dan membuat kesimpulan).

Lalu bagaimana pendapat para pemikir-pemikir Islam tadi? Samihati Husein membahasakan worldview dengan aqidah fikih, yaitu aqidah yang dibentuk oleh proses-proses berpikir dan berdampak pada cara berpikir. Sementara Sayyid Quthb membahasakan wordlview dengan apa-apa yang ada dalam hati dan pikiran manusia serta mengenai wujud (fisik) apa-apa yang ada di baliknya (metafisik). Lalu ahli mengatakan bahwa worldview itu dimulai dari syahadat dan berdampak pada semua aktivitas kehidupan. Dari sini kita sudah dapat melihat bahwa aqidah itu tidak hanya tentang kepercayaan. Pun apa yang disebut worldview oleh para pemikir sebenarnya dalam Islam sudah menjadi pondasi agama, yaitu aqidah. Karena aqidah disebut sebagai sistem kepercayaan punya dampak terhadap pikiran dan perasaan. Jadi, bukan hanya diyakini, bukan hanya dipercayai, tetapi juga berdampak pada pikiran dan perasaan kita.

Tidak heran jika orang kafir Quraisy tidak mau bersyahadat karena mereka tahu konsekuensinya akan mengubah cara berpikir dan merasa. Jadi, agak aneh ketika kita sudah menjadi seorang muslim, tetapi kita masih berpikir dan merasa seperti sebelum menjadi muslim. Worldview dan aqidah itu berkelindan. Ada dimensi kepercayaan, dimensi pikiran, dan dimensi perasaan yang berdampak secara sistemik di semua aspek kehidupan. Baik perilaku sosial maupun scientific. Dalam konteks agama lain kita tahu bagaimana strukturnya. Namun, dalam Islam, sejak awal aqidah memang memiliki fungsi ini dan ini memang sudah sangat khas.

Aqidah itu sebenarnya apa? Aqidah berasal dari kata aqadaya yang artinya mengikat. Makanya dalam bahasa Arab ada yang namanya akad, seperti akad jual-beli, akad nikah, dan akad cerai. Akad itu ikatan antara satu orang dengan orang lainnya mengenai persoalan tertentu. Lalu bagaimana dengan aqidah? Sama. Aqidah itu ikatan antara seseorang dengan sesuatu yang lainnya, bukan manusia. Jadi, kalau kita menggunakan definisi Alatas yang dipadukan dengan definisinya Thomas, berarti aqidah itu ikatan antara diri seseorang dengan reality, the truth, and the existence. Kalau seseorang memiliki hal ini, berarti dia memiliki konsep dan cara pandang yang jelas apa yang nyata dan tidak nyata. Apa yang benar dan tidak benar, apa yang ada dan tidak ada. Kalau kalangan positivis, berarti aqidahnya positifisme. Bagi mereka, apa yang ada itu yang tampak. Kalau tidak tampak berarti tidak ada.

Lalu apa yang menjadi pokok-pokok bahasan berkaitan kenyataan, kebenaran, dan keberadaan? Hal yang pertama dan paling utama adalah Allah SWT. Sebab, Dia adalah zat yang paling nyata, paling benar, dan keberadaan yang benar-benar ada. Kalau menurut filsuf, Allah itu wajibun wujud, necessary existence. Jadi, Allah itu keberadaan yang paling penting, yang tidak mungkin tidak ada. Sementara kita itu muktilul wujud. Kalau Allah mengadakan ya kita ada, kalau Allah tidak mengadakan ya kita hilang. Sifat Allah itu diterangkan secara simpel dalam surat Al-Ikhlas. "Qul huwallahu ahad, Dia tunggal. Allahus somad, segala hal selain Allah itu bersandar keberadaan-Nya hanya kepada Allah. Lam yalid walam yulad, Allah tidak beranak, tidak butuh eksistensi selain diri-Nya, dan Allah tidak butuh sesuatu yang mengadakan diri-Nya. Walam yakullahu kufuwan ahad, dan tidak ada satu pun eksistensi yang setara dengan diri-Nya." Surat Al-Ikhlas itu surat yang sangat mengagumkan. Maka, nilainya 1/3 Alquran. Namun, sunah yang sering kita tinggalkan adalah kita lupa untuk membaca Alquran dengan cara yang simpel, membaca Al-Ikhlas.

Kata Al-Attas, bagi orang Barat, reality dan truth merupakan dua hal yang berbeda. Reality itu menurut orang empirisis, sementara truth menurut orang rasional. Bagi orang empirisis, sesuatu bisa dikatakan real, maka dia benar. Sementara bagi orang rasional, sesuatu bisa dikatakan truth itu berarti nyata adanya, meskipun tidak tampak. Namun, dua kubu ini sebenarnya bermusuhan. Bahkan, sekurangnya sampai dua abad yang lalu. Orang-orang empirisis disebut sebagai orang-orang objektivis, yang kebenarannya bersifat objektif, desain penelitiannya kuantitatif. Sedangkan orang-orang rasional, yang mengakui truth, kebenarannya bersifat subjektif, dan biasanya penelitiannya bersifat kualitatif. Sampai tahun 2000-an, mereka masih musuhan.

Sementara dalam Islam, ukuran realitas dan kebenarannya itu adalah Allah SWT. Sebab, Dialah Al-Haq wal haqiqah. Allah, Alquran, surga, neraka itu haq. Haq merupakan sesuatu yang tegas adanya. Kata Prof. Al-Attas, kitab tertua di Nusantara adalah Syarah Aqidah Nafasiyah yang hanya berisi enam lembar tetapi memiliki pengantar yang menakjubkan. Realitas segala sesuatu itu bersifat permanen, memang benar-benar ada, dan mengenainya bersifat mungkin. Namun, hal ini bertentangan dengan keyakinannya kaum sofis atau orang-orang pengklaim kebenaran sebelum Socrates.

Keyakinan kaum sofis itu ada tiga. Pertama, realitas itu tidak ada. Kalau dikaitkan dengan Tuhan ada atau tidak ada, Tuhan tidak ada. Itu disebut dengan kaum nihilis. Ulama menyebutnya al inadiyah. Orang yang berpikiran al inadiyah, otomatis dia keluar dari Islam. Kedua, ada juga yang menyebutkan bahwa realitas itu ada, tetapi pengetahuan mengenai hal itu yang tidak mungkin. Itu disebut dengan kaum skeptisis, dalam bahasa Arab disebut la adriyah. Orang yang berpikiran seperti ini juga otomatis dia keluar dari Islam. Ketiga, kebenaran itu ada, realitas ada, ilmunya pun bisa. Namun, tidak ada kepastian siapa dari kita yang bisa mendapatkannya. Itu disebut dengan kaum relativis. Orang yang berpikiran seperti ini pun otomatis keluar dari Islam. Konsekuensi dari relativisme adalah multikulturalisme, agama dan budaya itu setara.

Wacana relativisme itu kalau ditarik ke wacana relasi laki-laki dan perempuan itu disebut dengan komunisme dan gender. Mereka mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan tidak benar-benar berbeda. Bahkan kaum feminis ekstrem yang membahas tentang kedigdayaan perempuan mengatakan bahwa perempuan itu berhak menentukan dirinya menikah atau tidak menikah. Kalau dia menikah, dia berhak menentukan apakah akan mempunyai anak atau tidak. Kalau mempunyai anak, dia berhak menentukan apakah akan menyusui atau tidak. Sebab, hal itu akan memengaruhi perubahan fisik perempuan. Bahkan perempuan dapat menentukan pasangan seksualnya itu laki-laki atau perempuan. Nah, semua ideologi sofisme itu bertentangan dengan aqidah Islam.

Lalu di kitab Syarah Aqidah Nafasiyah ini, untuk mendapatkan ilmu melalui empat cara. Pertama, akal sehat. Maka, kata Ibnu Taimiyah, kalau ada dalil bertentangan dengan akal, opsinya adalah dalilnya yang dhaif atau akalnya yang salah. Kedua, tangkapan inderawi. Ketiga, berita yang benar. Berita yang disampaikan dari satu generasi ke generasi, dari satu orang ke orang lainnya secara otoritatif. Maka, dalam ilmu hadits, persyaratannya adalah karakteristik orang dan intelektualnya harus teruji. Keempat, ilham. Dalam Islam, cara keempat ini diakui, selama tidak bertentangan dengan syariah.

Kembali ke bahasan tadi, berarti ilmu dan aqidah itu lengket. Lalu apa objek kebenaran, kenyataan, dan keberadaan yang paling penting? Allah Al-Haq, huwal haq. Kemudian hal yang berkaitan dengan Allah itulah yang kita sebut dengan tauhid. Adapun objek-objek keyakinan, kebenaran, dan kenyataan turunannya yaitu semua objek dalam rukun iman. Seperti malaikat, neraka, surga, pahala, dosa, keberkahan, kitab-kitab, nabi dan rasul, kiamat, qada dan qadhar. Bagi muslim, semua hal itu haq, nyata, benar, ada. Maka, bahasannya yang paling awal yang berkaitan dengan Allah disebut dengan ilmu tauhid. Kenapa? Karena iman tidak mungkin ada tanpa adanya ilmu. Ilmu itu bagian penting dari iman, dan iman tidak mungkin sempurna tanpa adanya ilmu. Maka, ketika ada orang yang mengatakan "mari kita tingkatkan iman dan takwa," yang harusnya ada apa? Ilmu. Tidak mungkin orang bertambah imannya tanpa bertambah ilmunya.

Kembali ke bahasan aqidah, aqidah itu berkaitan dengan tauhid, aqidah berkaitan dengan iman. Lalu apa yang membedakan muslim dengan non muslim? Aqidahnya. Pertanyaan serupa pun pernah ditanyakan ketika Nabi Muhammad SAW mengawali misinya sebagai nabi hingga menjelang wafat. Apalagi, secara penampilan orang mukmin dan non mukmin itu sama. Hal yang membedakan yaitu aqidahnya, cara berpikir dan merasakan. Kalau kita memiliki aqidah yang benar, cara berpikir dan merasakannya kita itu khas. Pikiran dan perasaan, bukan hanya keyakinan. Dan ketika aqidah harus dijelaskan secara rasional, maka itu disebut dengan kalam. Semua itu, jika berdiri sendiri, maka berkaitan dengan apa yang ada dalam diri kita. Seperti tauhid, iman, kalam, aqidah. Semua itu tersimpan dalam diri kita dan disebut dengan ilmu aqidah. Sebab, tidak mungkin semua itu masuk dalam diri kita tanpa proses belajar. Pun tidak mungkin semua itu tetap dalam diri jika kita tidak mampu untuk mempelajarinya, memahaminya sampai lengket dalam hati kita.

Lalu, bagaimana seseorang membentuk aqidahnya? Kalau akad itu pernyataan lisan, sekarang pertanyaannya, apa akad aqidah seseorang? Syahadat. Akad orang masuk Islam itu syahadat. Jika orang yang bersaksi dalam pengadilan tanpa melihat sendiri kejadiannya disebut dengan saksi ahli, maka kita juga saksi ahli berkaitan dengan keimanan. Sebab, lima dari enam rukun iman itu tidak ada yang kita lihat. Kita saksi ahli terhadap keberadaan Allah SWT yang gaib dan semua rukun iman lainnya yang tidak tampak. Kalimatnya adalah أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. Itulah yang disebut dengan kalimat komitmen. Masing-masing dari pernyataan tersebut memiliki konsekuensi. Serta mengandung prinsip berpikir dan prinsip berkehidupan yang asasi. Pertama, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ , mengandung kalimat annafiyu. Pe-nafi-an terhadap hal-hal yang tidak bersesuaian dengan aqidah, prinsip hidup, worldview, identitas peradaban, dan nilai-nilai kebudayaan kita. Sedangkan مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, kita bersaksi bahwa Allah adalah tujuan kita dan Muhammad Rasulullah adalah cara kita mencapai tujuan. Asalnya kita dari Allah dan nantinya akan kembali ke Allah. Suka ataupun tidak suka. Tidak heran orang-orang Quraisy itu jahat, mereka tidak mau bersyahadat, tidak mau berkomitmen.

Dari pernyataan syahadat tersebut, kita diberikan dua sumber keilmuan dan worldview, yaitu Alquran dan sunah. Alquran sebagai kalamullah, sementara sunah sebagai perilaku yang dicontohkan Rasulullah. Di mana posisinya? Ayat-ayat Alquran dijelaskan oleh sunah, melalui perkataannya, perbuatannya, persetujuannya, karakteristik fisiknya, maupun karakteristik personalnya. Alquran itu sampai kepada kita melalui medium bahasa Arab. Bahasa, intinya adalah kata dan kata mengandung makna. Alquran itu pilihan katanya dipilih oleh Allah SWT. Maka, makna-makna dalam Alquran itu khusus. Makna khusus dalam Alquran tersebut kemudian dijelaskan oleh nabi. Kata-kata yang dijelaskan oleh nabi itu kemudian menjadi konsep-konsep ilmu awal. Bagaimana dengan sahabat nabi yang diajarkan Alquran dan sunah? Kalau kita mengatakan bahwa sahabat nabi itu ahli Alquran, ahli ibadah, ahli sedekah, berakhlak mulia itu tidak salah.

Dalam Islam, sains pada awalnya dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Malah sains yang awal-awal berkembang itu yang sifatnya teknologis. Ketika orang beribadah, syarat pertama salat apa? Wudhu dulu. Karena menggunakan air, maka sistem drainase menjadi canggih di negara-negara Islam. Setelah wudhu apa? Menentukan arah kiblat. Maka falak menjadi ilmu yang digunakan. Moderat ilmu falak menjadi ilmu astronomi yang sangat sekuler. 


No comments:

Powered by Blogger.