Berpendapat di Dunia Maya




Efek adanya internet memudahkan semua orang untuk mengutarakan pendapat mereka. Entah membuat video, membuat desain, menulis, atau sekadar berkomentar. Terlebih berkomentar, kalau kuperhatikan, netizen yang berkomentar negatif biasanya karena konten yang dikomentari seperti terkesan "hujat-able". Sebaliknya, jika konten tersebut berisi sesuatu yang tidak terkesan "hujat-able", maka akan minim komentar yang negatif.

Dalam beberapa video, desain, tulisan, atau komentar yang kulihat, seringkali murni pendapat pribadi. Hanya common sense tanpa berpatokan pada sumber tepercaya, seperti buku atau ahli di bidang tersebut. Apalagi jika pendapat-pendapat tersebut diunggah ke ranah publik atau dunia maya. Namun, hal tersebut terasa akan "berbahaya" ketika topik yang dibahas memang spesifik mengenai agama. Sebab, persoalan agama, misalnya dalam agama Islam, sudah terbahas secara rinci di Alquran dan hadits. Pun banyak sekali ustadz/ustadzah atau buku yang ditulis para ustadz/ustadzah yang berkompeten dalam menjelaskan tentang Islam.

Dari melihat pendapat-pendapat tersebut aku jadi mendapat insight. Bahwa setiap orang akan melihat sesuatu dengan pandangan yang berbeda. Tergantung latar belakang budaya, sosial, pendidikannya, juga seberapa jauh pemahaman dia tentang agama. Selain itu, aku jadi menyadari betapa pentingnya membaca buku, betapa pentingnya datang ke majelis ilmu. Agar pikiran kita lebih terbuka. Agar kita dapat mengetahui mana saja pendapat yang benar. Sehingga dapat menghargai pendapat orang lain.

No comments:

Powered by Blogger.